Mengapa Tidak Semua Kelompok Pemberdayaan Berhasil?

by -919 Views


Pengalaman program Gema Madani di Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan ekonomi tidak ditentukan oleh banyaknya kelompok yang dibentuk, melainkan oleh komitmen, ketekunan, dan kemampuan kelompok menjaga keberlanjutan usaha.

Tasikmalaya, EJ – Program pemberdayaan ekonomi seringkali dinilai dari jumlah peserta, kelompok yang dibentuk, atau banyaknya pelatihan yang dilaksanakan. Padahal dalam praktik lapangan, ukuran keberhasilan tidak sesederhana itu.

Pengalaman saya terlibat dalam program Gema Madani di Kota Tasikmalaya memberikan pelajaran penting tentang realitas pemberdayaan masyarakat.

Gema Madani (Gerakan Masyarakat Mandiri) —sebuah program pemberdayaan masyarakat yang pernah berjalan di Kota Tasikmalaya sekitar awal 2010-an sebagai upaya mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, pengembangan usaha warga, dan partisipasi komunitas di tingkat kelurahan. Program ini dirancang dengan pendekatan kewilayahan: setiap kecamatan didorong memiliki satu produk unggulan.

Di Kecamatan Cibeureum, produk unggulannya adalah OCI (Oncom Cibeureum), yakni pengembangan olahan pangan berbasis oncom sebagai identitas ekonomi lokal.

Saat itu, di Kecamatan Cibeureum yang memiliki sembilan kelurahan, dibentuk sembilan kelompok usaha bersama. Masyarakat mengenalnya sebagai cluster usaha. Masing-masing kelompok mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan dorongan untuk mengembangkan usaha berbasis pengolahan makanan oncom.

Secara desain, program ini sangat baik. Ada potensi lokal. Ada pendampingan. Ada penguatan kelompok.

Namun dalam perjalanan, realitas seringkali  berbicara lain.

Dari Sembilan Kelompok, Hanya Sebagian yang Bertahan

Dari sekitar sembilan kelompok yang dibentuk, pada akhirnya hanya dua hingga tiga kelompok yang mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Sebagian mungkin melihat angka ini kecil. Tetapi dalam perspektif pemberdayaan, hasil ini justru realistis.

Selama mendampingi masyarakat, baik sebagai Ketua LPM maupun Ketua Gema Madani Kelurahan Kersanagara, saya melihat bahwa pelatihan dan bantuan hanyalah instrumen awal. Sedangkan yang  menentukan keberhasilan tetap manusia -pesrta- di dalamnya.

Ada tiga persoalan utama yang paling sering muncul.

Pertama, masalah komitmen. Tidak semua peserta memiliki kesungguhan jangka panjang. Semangat tinggi di awal sering kali menurun ketika menghadapi tantangan pasar, produksi, atau keterbatasan hasil.

Kedua, masalah ketekunan. Usaha membutuhkan konsistensi. Banyak yang siap ikut pelatihan, tetapi belum tentu siap menjalani rutinitas usaha yang disiplin dan melelahkan.

Ketiga, masalah kelompok. Usaha berbasis komunitas menuntut kekompakan. Dalam praktiknya, konflik internal, perbedaan ritme kerja, hingga persoalan pembagian peran sering menjadi penyebab kelompok berhenti berkembang.

Mereka yang Bertahan Justru Menjadi Bukti Keberhasilan

Meski tidak semua kelompok berhasil, beberapa justru berkembang sangat baik.

Produk OCI dan inovasi TO (Tutug Oncom) Instan menjadi contoh nyata. Dengan pendampingan berkelanjutan, peningkatan kualitas produk, serta keberanian masuk pasar digital, mereka berhasil memasarkan produk melalui marketplace hingga masuk supermarket dan modern market.

Inilah esensi pemberdayaan.

Sebagaimana dijelaskan Paulo Freire, pemberdayaan adalah proses membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola perubahan secara mandiri.

Artinya, tidak semua kelompok harus berhasil seragam.

Yang penting, program mampu melahirkan model keberhasilan yang bisa direplikasi dan menginspirasi yang lain.

Sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, saya melihat kebijakan pemberdayaan perlu dibangun lebih realistis. Program tidak cukup berhenti pada pembentukan kelompok dan pelatihan, tetapi harus memastikan ada pendampingan, penguatan pasar, dan pembinaan karakter usaha.

Karena pemberdayaan bukan sulap.Ia adalah proses panjang yang menuntut komitmen, ketekunan, dan kemauan bertumbuh. Dan ketika sebagian kelompok berhasil bertahan hingga menembus pasar modern, itu bukan hasil kecil—melainkan bukti bahwa pemberdayaan yang tepat dapat menghasilkan perubahan ekonomi yang nyata. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.