Banyak program pemberdayaan masyarakat dimulai dengan bantuan modal, peralatan, atau hibah. Semua itu tentu penting. Namun, dari pengalaman saya mendampingi masyarakat, saya melihat bahwa keberhasilan sebuah program bukan pertama-tama ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh cara berpikir masyarakat yang menerimanya.
Saya meyakini satu prinsip sederhana: pemberdayaan bukan dimulai dari modal, tetapi dari cara berpikir (mindset).
Dalam dunia community development (pengembangan masyarakat), perubahan pola pikir (mindset transformation) merupakan fondasi dari seluruh proses pemberdayaan. Masyarakat yang memiliki cara berpikir maju akan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. Sebaliknya, masyarakat yang masih bergantung pada bantuan akan tetap sulit berkembang, meskipun telah menerima berbagai bentuk dukungan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran E. F. Schumacher dalam bukunya Small Is Beautiful: Economics as if People Mattered. Ia menegaskan bahwa “pembangunan tidak dimulai dengan barang, ia dimulai dengan orang-orang serta pendidikan, organisasi, dan disiplin mereka.”
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa investasi terbesar bukanlah pada benda, tetapi pada manusia. Modal dapat habis, tetapi cara berpikir yang benar akan terus melahirkan berbagai peluang baru.
Perubahan pola pikir dimulai dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki potensi. Tidak ada manusia yang benar-benar tidak memiliki kemampuan. Tugas seorang pendamping masyarakat bukan menggantikan peran masyarakat, melainkan membantu mereka menemukan kekuatan yang selama ini mungkin belum disadari.
Gunawan Sumodiningrat menyebut proses ini sebagai enabling, yaitu membangun kemampuan yang sebenarnya sudah ada dalam diri masyarakat. Beliau menjelaskan, “titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasikan, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.”
Dalam praktiknya, saya sering memulai pemberdayaan dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Apa pekerjaan yang paling disukai? Apa keterampilan yang dimiliki? Apa hobi yang selama ini belum pernah dikembangkan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali membuka kesadaran baru. Banyak orang yang ternyata memiliki kemampuan menjahit, memasak, bertani, berdagang, atau memperbaiki peralatan. Tetapi, seringkali kita tidak pernah menganggapnya sebagai potensi ekonomi.
Karena itu, menggali bakat dan minat merupakan bagian penting dari proses community empowerment (pemberdayaan masyarakat). Rhonda Phillips dan Robert H. Pittman menegaskan bahwa “langkah pertama yang penting adalah melibatkan orang muda dalam percakapan tentang impian mereka dan bisnis apa yang mereka minati.”
Ketika seseorang bekerja sesuai dengan bakat dan minatnya, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya, usaha yang hanya mengikuti tren seringkali tidak bertahan lama.
Setelah potensi dikenali, langkah berikutnya adalah melihat peluang. Peluang usaha seringkali tidak datang dari luar, tetapi lahir dari persoalan yang dihadapi masyarakat setiap hari. Lingkungan yang membutuhkan makanan siap saji dapat melahirkan usaha kuliner. Banyaknya limbah dapat menjadi peluang usaha daur ulang. Kebutuhan akan jasa digital membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar teknologi.
Puji Astuty, sebagaimana dikutip Agus Purbathin Hadi, menjelaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan terlihat ketika “masyarakat secara aktif mulai mengenali dan menggali potensi yang mereka miliki, merumuskan dan merencanakan kebutuhan mereka serta melaksanakan kegiatan maupun input proyek… sehingga tercipta lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha.”
Dengan kata lain, masyarakat tidak lagi menunggu peluang datang, tetapi mampu menciptakan peluang dari lingkungan tempat mereka hidup.
Semua itu tidak akan terjadi apabila masyarakat masih memiliki cara berpikir yang pesimis. Dalam berbagai kesempatan, saya sering menemukan warga yang merasa kehidupannya tidak mungkin berubah. Mereka menganggap kemiskinan sebagai nasib yang tidak dapat diubah. Cara berpikir seperti inilah yang harus diubah lebih dahulu.
Rhonda Phillips dan Robert H. Pittman mengingatkan bahwa “beberapa komunitas tidak percaya bahwa mereka dapat mempengaruhi takdir mereka sendiri dan memperbaiki situasi mereka. Mereka memiliki sikap fatalistik dan merasa mereka adalah korban dari keadaan diluar kendali mereka. Pada kenyataannya, mereka dapat membangun masa depan yang lebih baik.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa hambatan terbesar bukan selalu kekurangan modal, melainkan hilangnya keyakinan untuk berubah.
Karena itu, pemberdayaan juga harus menyentuh aspek psikologis. Muhammad Hasan dan Muhammad Azis menyebutnya sebagai pemberdayaan psikologis, yaitu “usaha bagaimana membangun kepercayaan diri rumah tangga yang lemah.”
Ketika seseorang mulai percaya pada kemampuannya sendiri, ia akan lebih berani belajar, mencoba, bekerja sama, bahkan mengambil risiko untuk memulai usaha.
Pada akhirnya, perubahan ekonomi hanyalah akibat dari perubahan cara berpikir. Masyarakat yang mampu mengenali potensinya, mengembangkan bakatnya, melihat peluang di sekitarnya, dan memiliki optimisme untuk terus belajar akan lebih mudah mencapai kemandirian.
Sebaliknya, masyarakat yang hanya menunggu bantuan akan terus bergantung kepada pihak lain.
Itulah sebabnya setiap gerakan pemberdayaan harus dimulai dari perubahan pola pikir. Ketika masyarakat tidak lagi melihat dirinya sebagai objek penerima bantuan, tetapi sebagai subjek yang mampu menentukan masa depannya sendiri, saat itulah proses pemberdayaan yang sesungguhnya dimulai.
Ekonomi kemudian tumbuh bukan karena besarnya modal yang diberikan, melainkan karena lahirnya manusia-manusia yang percaya bahwa mereka mampu mengubah kehidupannya dengan usaha, kerja sama, dan ketekunan.(im)







