Menyiapkan Pemimpin Lingkungan

by -1287 Views

Pembangunan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, anggaran, atau program yang besar. Faktor yang sering kali lebih menentukan adalah kualitas kepemimpinan di tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Dalam pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat sejak menjadi aktivis sosial di tingkat RT, saya melihat bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai dari lingkungan kecil.

Lingkungan yang memiliki pemimpin yang peduli biasanya lebih cepat bergerak. Sebaliknya, lingkungan yang kehilangan figur penggerak akan lebih sulit berkembang meskipun memiliki banyak potensi.

Karena itu, menyiapkan pemimpin lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat. Pemimpin di tingkat RT, RW, DKM, maupun LPM bukan hanya menjalankan fungsi administratif. Mereka adalah penggerak sosial yang menghubungkan warga, membangun kepedulian, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

RT, RW, DKM, dan LPM: Pilar Kepemimpinan Masyarakat

Dalam struktur masyarakat kita, RT dan RW merupakan ujung tombak pelayanan warga. Mereka adalah pihak yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari persoalan administrasi kependudukan, kegiatan sosial, membantu warga yang terkena musibah, menyelesaikan persoalan antarwarga, hingga menggerakkan kegiatan bersama.

Saya sering mengatakan bahwa ketua RT dan RW adalah “pemimpin tanpa banyak fasilitas, tetapi dengan tanggung jawab yang besar”. Mereka bekerja karena kepedulian, bukan karena mengejar keuntungan.

Selain RT dan RW, terdapat juga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang memiliki peran strategis dalam pembangunan. Agus Purbathin Hadi dalam bukunya Desa Membangun dari Bawah menjelaskan bahwa LPM yang sebelumnya dikenal sebagai LKMD memiliki tugas penting, yaitu:

“LKMD atau sebutan lain (LPM) mempunyai tugas: (1) menyusun rencana pembangunan yang partisipatif; (2) menggerakkan swadaya gotong royong masyarakat; dan (3) melaksanakan dan mengendalikan pembangunan.”

Artinya, LPM bukan hanya lembaga formal, tetapi menjadi wadah masyarakat dalam merencanakan dan menjalankan pembangunan berbasis kebutuhan warga.

Di sisi lain, DKM juga memiliki peran yang sangat penting. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi dalam sejarah masyarakat Indonesia juga menjadi pusat penguatan sosial. Banyak kegiatan sosial, santunan, gotong royong, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat berawal dari masjid.

Dalam beberapa kondisi, pengaruh tokoh agama atau pengurus DKM bahkan mampu menggerakkan masyarakat lebih cepat dibandingkan struktur formal. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sosial tidak hanya bergantung pada jabatan, tetapi juga pada kepercayaan yang diberikan masyarakat.

Pemimpin yang Ikhlas dan Tidak Berhitung

Pemimpin lingkungan membutuhkan karakter yang berbeda. Mereka harus memiliki keikhlasan dalam melayani masyarakat.

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis dalam bukunya Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat menjelaskan:

“Seseorang atau banyak orang dari suatu kelompok memiliki semangat membantu yang lain tanpa mengharapkan imbalan seketika. Dalam konsep Islam, semangat semacam ini disebut sebagai keikhlasan. Semangat untuk membantu bagi keuntungan orang lain. Imbalannya tidak diharapkan seketika dan tanpa batas waktu tertentu.”

Inilah modal sosial yang sangat penting. Seorang pemimpin lingkungan tidak boleh menjadikan jabatan sebagai jalan mendapatkan keuntungan pribadi.

Ketika seseorang menjadi ketua RT, RW, pengurus DKM, atau LPM, orientasi utamanya haruslah memberikan manfaat. Ia harus mampu menjadi bagian dari solusi, bukan menambah persoalan.

Pemimpin yang ikhlas biasanya akan menjadi pemain tim (team player) yang baik. Ia tidak bekerja untuk popularitas pribadi, tetapi bekerja agar masyarakat menjadi lebih kuat.

Siap Berkorban untuk Kepentingan Bersama

Menjadi pemimpin masyarakat membutuhkan pengorbanan. Tidak jarang seorang ketua RT harus meninggalkan pekerjaannya untuk membantu warga yang membutuhkan. Ada waktu keluarga yang berkurang, tenaga yang terkuras, bahkan terkadang harus menggunakan biaya pribadi.

Rhonda Phillips dan Robert H. Pittman dalam buku An Introduction to Community Development menegaskan:

“Penting untuk tidak meremehkan kebutuhan akan pengorbanan pribadi (personal sacrifice) dalam menggalang upaya pemimpin relawan… Beberapa orang yang bersedia mengorbankan waktu dan talenta mereka ini dapat menjadi katalisator untuk melakukan perbaikan besar dalam komunitas.”

Pemimpin lingkungan harus memiliki cara pandang jangka panjang. Ada kalanya seseorang harus “melepaskan satu dolar hari ini dengan harapan menghasilkan dua dolar besok bagi komunitas”.

Artinya, keuntungan pribadi bukan tujuan utama. Yang dicari adalah kemajuan bersama.

Integritas: Tidak Menjadikan Jabatan Sebagai Keuntungan Pribadi

Kepemimpinan masyarakat membutuhkan integritas moral. Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

Rhonda Phillips dan Robert H. Pittman mengutip pandangan Stephen Covey:

“Stephen Covey telah menyatakan bahwa ‘otoritas moral adalah kunci kepemimpinan.’ Intinya, seorang pemimpin yang efektif harus mampu membedakan antara yang benar dan yang salah dan mengetahui kapan kepentingan pribadi menghambat kebaikan yang lebih besar bagi komunitas.”

Ini prinsip yang sangat penting. Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar seorang pemimpin. Ketika kepercayaan hilang, maka sulit membangun kebersamaan.

Agus Purbathin Hadi juga mengingatkan bahwa salah satu penyebab kegagalan program pemberdayaan masyarakat adalah ketika ada pihak yang melihat program sebagai peluang keuntungan pribadi.

Ia menyebutkan:

“…ketidaksiapan mentalitas (oknum) birokrasi dalam melaksanakan program-program berbasis masyarakat. Kuatnya nuansa proyek sebagai ‘sumber pendapatan’ oknum birokrat, menyebabkan banyak proses yang datang dari masyarakat mengalami hambatan.”

Pelajaran ini harus menjadi perhatian bersama. Pembangunan masyarakat harus berangkat dari semangat pelayanan, bukan kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, menyiapkan pemimpin lingkungan berarti menyiapkan manusia-manusia yang memiliki integritas, kepedulian, dan komitmen pengabdian.

Pemimpin RT, RW, DKM, maupun LPM harus lahir dari kepercayaan masyarakat. Mereka dipilih karena keteladanan, bukan sekadar karena kedekatan atau kepentingan tertentu.

Jika lingkungan memiliki pemimpin yang ikhlas, siap berkorban, dan tidak mencari keuntungan pribadi, maka masyarakat akan memiliki energi besar untuk berubah. Pembangunan bukan hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama warga. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.