Menghadapi Penolakan: Biarkan Hasil yang Berbicara

by -1282 Views

Setiap perubahan pasti mengundang reaksi. Ada yang mendukung, ada yang menunggu, dan tidak sedikit yang meragukan. Pengalaman mengajarkan bahwa penolakan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses community development (pengembangan masyarakat). Seorang penggerak sosial tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi kritik atau cibiran.

Seringkali penolakan bukan muncul karena masyarakat tidak menginginkan perubahan, tetapi karena mereka pernah mengalami kekecewaan. Program datang silih berganti, janji sering disampaikan, tetapi hasilnya tidak selalu dirasakan. Akibatnya, lahirlah sikap skeptis terhadap setiap gagasan baru. 

Rhonda Phillips dan Robert H. Pittman menggambarkan kondisi tersebut melalui komentar-komentar yang kerap terdengar di masyarakat: “Itu tidak akan pernah terjadi di sini.” “Kami menghentikan festival kota karena kurangnya dukungan.” “Kami sudah mencoba mengorganisir beberapa kali di masa lalu.” “Kami pernah punya rencana tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi dengannya.” “Kami tidak punya kepemimpinan lokal untuk menyelesaikannya.” “Kami mencoba itu sekali dan…” 

Kalimat-kalimat seperti ini hampir dapat ditemukan di banyak lingkungan yang sedang mengalami stagnasi.

Penolakan juga dapat muncul karena masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap proses pembangunan. Agus Purbathin Hadi dalam Desa Membangun dari Bawah mencatat adanya “…tingkat penolakan masyarakat yang tinggi terhadap peran dan fungsi LKMD. Hasil-hasil perencanaan selama ini dinilai tidak menyentuh kebutuhan/aspirasi masyarakat paling bawah.” 

Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui pidato, tetapi melalui keberpihakan terhadap kebutuhan nyata masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, saya berusaha mengingat satu prinsip sederhana: jangan habiskan energi untuk melayani orang yang hanya ingin mengkritik, tetapi fokuslah kepada mereka yang siap bekerja. 

Waktu, tenaga, dan pikiran seorang penggerak sosial sangat terbatas. Jika semuanya dihabiskan untuk menjawab komentar negatif, maka pekerjaan yang sesungguhnya justru akan terbengkalai.

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis mengingatkan bahwa jalan perubahan memang selalu penuh tantangan. Mereka menulis, “Mimpi dan cita-cita merupakan kunci untuk meraih kesuksesan, oleh karena itu milikilah mimpi dan cita-cita. Namun yakinlah untuk meraih mimpi dan cita-cita itu akan penuh dengan rintangan dan jalan berliku. Berusaha dan berdoalah, niscaya rintangan dan jalan berliku itu akan mampu engkau lalui.” 

Kalimat ini mengajarkan bahwa rintangan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.

Perhatian kita harus diarahkan kepada kelompok kecil yang memiliki semangat untuk bergerak. Dalam setiap lingkungan selalu ada orang-orang yang mau menjadi relawan, membantu kegiatan sosial, menghadiri musyawarah, atau ikut bergotong royong. Mereka inilah yang perlu diperkuat terlebih dahulu. 

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis menjelaskan bahwa tugas pemberdayaan adalah “…membangun kesadaran kritis masyarakat terhadap berbagai format ekonomi-politik yang berlangsung secara mapan dibarengi dengan memperkuat kemampuan masyarakat untuk berdialog sehingga mempunyai kapasitas transaksional dan diharapkan bisa mengambil posisi tawar yang kuat.” Ketika sekelompok kecil masyarakat telah memiliki kesadaran dan kemampuan bekerja bersama, mereka akan menjadi contoh yang menggerakkan warga lainnya.

Pengalaman menunjukkan bahwa perdebatan jarang mengubah pandangan seseorang, tetapi hasil nyata hampir selalu mampu melakukannya. Karena itu, saya lebih memilih menunjukkan manfaat daripada memperpanjang perdebatan. 

Ketika lingkungan menjadi lebih bersih, kegiatan sosial semakin hidup, dana gotong royong berjalan baik, atau semakin banyak warga yang terbantu, masyarakat akan melihat sendiri nilai dari perubahan tersebut.

Hal yang sama ditemukan Agus Purbathin Hadi dalam penelitiannya di Desa Aik Berik. Ia mencatat, “Setelah penayangan video tersebut dalam acara ‘Pesiar’ di Lombok TV pada bulan Maret 2005, respon positif datang dari berbagai pihak… Kepala Dinas Pariwisata dan Ketua Tim Penggerak PKK melakukan dua kali kunjungan ke Desa Aik Berik… dan memberikan komitmen.” 

Bukti nyata akhirnya mengubah perhatian berbagai pihak. Lebih jauh lagi, ia menemukan bahwa pendekatan partisipatif mampu menciptakan “…terjadi peningkatan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah desa, meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan desa, meningkatnya kuantitas dan kualitas masukan (kritik dan saran).”

Perubahan memang membutuhkan kesabaran. Dalam perspektif pembangunan masyarakat, perubahan perilaku adalah proses jangka panjang. Tidak semua orang akan langsung menerima gagasan baru. Ada yang baru percaya setelah melihat hasilnya, bahkan ada yang baru bergabung ketika program sudah berhasil. Hal itu adalah sesuatu yang wajar.

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis mengingatkan bahwa seluruh proses ini merupakan bagian dari pengabdian yang bernilai ibadah. Mereka menulis, “Jihad dalam hal ini mengandung arti yang luas… segala upaya yang telah dilakukan manusia demi kemaslahatan umat yang dilandasi keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah SWT.” 

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang penggerak bukanlah seberapa sedikit kritik yang diterimanya, melainkan seberapa konsisten ia tetap bekerja untuk masyarakat.

Pada akhirnya, perubahan tidak dimenangkan oleh mereka yang paling banyak berbicara, tetapi oleh mereka yang paling tekun bekerja. Fokuslah kepada orang-orang yang mau bergerak, bangun kolaborasi, hasilkan manfaat yang nyata, dan biarkan waktu menjadi saksi. 

Ketika masyarakat melihat perubahan yang benar-benar terjadi, penolakan akan perlahan berubah menjadi kepercayaan. Bukan karena kita berhasil membungkam kritik, tetapi karena hasil nyata telah berbicara dengan sendirinya. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.