Exit Strategy yang Bermartabat

by -1390 Views

Mengakhiri pilot project bukan berarti mengakui kekalahan. Dalam program pemberdayaan masyarakat, ada kalanya sebuah model memang tidak layak diteruskan. Data menunjukkan hasil yang tidak sesuai harapan. Biaya terlalu besar. Partisipasi masyarakat rendah. Atau kondisi lapangan berubah.

Hal yang menjadi persoalan bukan semata-mata apakah program dihentikan. Persoalannya adalah bagaimana kita mengakhirinya.

Saya belajar bahwa program sosial tidak hanya meninggalkan hasil. Ia juga meninggalkan hubungan. Karena itu, keluar dari sebuah komunitas harus dilakukan dengan cara yang menjaga martabat masyarakat dan integritas pengelola program.

Berhenti Tanpa Meninggalkan Luka

Prinsip pertama adalah do no harm. Penghentian program jangan sampai menimbulkan masalah baru.

Mary B. Anderson dalam Do No Harm menekankan pentingnya komunikasi ketika sebuah program dihentikan. Dari pengalaman Trocaire di Somalia, Anderson mencatat, “Komunikasi yang jelas dengan penerima manfaat tentang keputusan untuk mengakhiri aktivitas program tertentu dapat membantu menyampaikan rasa hormat dan menjaga kepercayaan.” Transparansi lebih baik daripada masyarakat dibiarkan bertanya-tanya.

Anderson juga menegaskan bahwa konsultasi tersebut menunjukkan bahwa lembaga “menghormati masyarakat dan ingin mempertahankan hubungan kepercayaan dengan mereka.”

Karena itu, jangan menghilang. Jelaskan alasan penghentian. Apakah karena keterbatasan dana? Model teknis yang tidak efektif? Atau hasil evaluasi menunjukkan bahwa program belum memberikan dampak yang sepadan?

Masyarakat berhak mengetahui.

Lebih penting lagi, mereka harus dilibatkan dalam pembicaraan tentang apa yang akan dilakukan setelah program berhenti. Amartya Sen dalam Development as Freedom mengatakan bahwa “pencapaian pembangunan sangat bergantung pada agensi bebas dari masyarakat.” Masyarakat bukan objek pembangunan. Mereka adalah “partisipan aktif dalam perubahan, bukan sekadar penerima instruksi atau bantuan yang pasif dan patuh.”

Jadi, exit strategy harus mengembalikan kendali kepada masyarakat.

Mengubah Kegagalan Menjadi Pengetahuan

Dalam pilot project, kegagalan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru kegagalan adalah salah satu alasan mengapa pilot dilakukan.

Michael Quinn Patton dalam Developmental Evaluation menjelaskan bahwa “mengidentifikasi jalan buntu (dead ends) selama eksplorasi dan inovasi tidak melibatkan bukti yang kaku dan penilaian berisiko tinggi.” Yang penting adalah apa yang kita pelajari.

Patton menekankan pentingnya menggunakan “apa yang telah dipelajari dari upaya yang gagal tersebut untuk mengembangkan proses keterlibatan yang lebih inovatif” di masa depan.

Karena itu, sebelum keluar, tim perlu membuat lesson learned. Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Apa yang tidak terduga? Apa yang harus dilakukan secara berbeda?

Donella H. Meadows dalam Thinking in Systems mengingatkan bahaya shifting the burden to the intervenor. Pengelola program harus “bekerja sedemikian rupa untuk memulihkan atau meningkatkan kemampuan sistem itu sendiri dalam menyelesaikan masalahnya, kemudian lepaskan diri Anda.”

Ini penting. Jangan sampai masyarakat justru semakin bergantung kepada kita.

Keluar dengan Hubungan yang Tetap Terjaga

Penghentian program sering menimbulkan kekecewaan. Di sinilah kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi diuji.

Roger Fisher dan William L. Ury dalam Getting to Yes mengajarkan prinsip “memisahkan orang dari masalah.” Kita dapat berbeda dalam keputusan, tetapi tidak harus bermusuhan sebagai manusia. Bahkan, kita perlu “membangun hubungan pribadi dan organisasional dengan pihak lain yang dapat meredam benturan dalam negosiasi.”

Prinsipnya sederhana: “lembut terhadap orangnya namun keras terhadap masalahnya.”

Akhir program juga harus menjadi momentum untuk menyampaikan pesan tentang kemandirian. Mary B. Anderson menekankan “pentingnya masyarakat membangun kembali diri mereka sendiri dan mengambil kembali tanggung jawab atas kebutuhan dasar dan sistem distribusi di masa depan.” Tujuannya agar masyarakat dapat “melepaskan diri dari konflik dan bergerak menuju kehidupan komunitas yang normal.”

Bagi saya, exit strategy yang baik bukanlah meninggalkan masyarakat. Kita hanya mengakhiri peran tertentu.

Program boleh berhenti. Tetapi hubungan baik, pengetahuan, kapasitas lokal, dan semangat kemandirian harus tetap hidup.

Itulah makna exit strategy yang bermartabat: pergi tanpa meninggalkan luka, mengakhiri program tanpa mematikan harapan, dan menyerahkan kembali masa depan kepada masyarakat dengan kapasitas yang lebih kuat daripada ketika kita datang. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.