Program Pemberdayaan Tanpa Data Awal, Berjalan dalam Gelap

by -1161 Views

Salah satu kelemahan paling sering saya temui dalam program pemberdayaan adalah memulai kegiatan tanpa memahami kondisi awal peserta. Program langsung berjalan, pelatihan segera disusun, narasumber ditentukan, peserta dikumpulkan. Semuanya terlihat cepat dan efisien.

Masalahnya, kita sering tidak benar-benar tahu siapa peserta yang dibina.

Apakah mereka sudah punya usaha atau baru ingin memulai? Apakah masalah utama mereka modal, pemasaran, produksi, atau justru mentalitas usaha? Apakah mereka benar-benar membutuhkan pelatihan tertentu, atau hanya masuk daftar peserta karena undangan terbuka?

Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, program sebenarnya sedang berjalan dalam gelap.

Sebagai aktivis yang cukup lama mendampingi masyarakat, saya belajar bahwa langkah paling penting justru terjadi sebelum program dimulai.

Ketika akan menyelenggarakan pelatihan atau program ekonomi, hal pertama yang saya lakukan bukan langsung menentukan materi. Saya mulai dari melihat database warga dan calon peserta, kemudian melakukan survei sederhana dan wawancara langsung.

Saya ingin tahu kondisi mereka secara nyata.

Ada peserta yang terlihat aktif, tetapi ternyata usahanya sudah berhenti tiga bulan. Ada ibu rumah tangga yang ingin berjualan, tetapi terkendala alat produksi. Ada pemuda yang antusias ikut pelatihan digital marketing, tetapi bahkan belum memiliki produk.

Jika data awal ini tidak diketahui, materi yang diberikan hampir pasti tidak tepat sasaran.

Baseline Bukan Formalitas

Dalam teori monitoring dan evaluasi pembangunan, baseline adalah gambaran kondisi awal sebelum intervensi dilakukan. Menurut World Bank, baseline penting untuk mengukur apakah suatu program benar-benar menghasilkan perubahan atau tidak.

Sederhananya, kalau kita tidak tahu posisi awal peserta, bagaimana kita tahu mereka mengalami kemajuan?

Tanpa baseline, evaluasi akhirnya hanya menjadi opini.

Program dianggap berhasil karena peserta tampak antusias. Kegiatan dianggap sukses karena aula penuh. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apakah pendapatan peserta naik, pelanggan bertambah, atau kualitas hidup keluarga membaik.

Data awal membantu kita menjawab tiga hal penting: siapa yang paling membutuhkan, apa masalah utamanya, dan intervensi apa yang paling relevan.

Dari Program Umum ke Intervensi Tepat Sasaran

Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa program yang baik bukan program yang paling ramai, tetapi yang paling relevan.

Ketika data awal tersedia, pelatihan menjadi lebih terarah. Peserta yang sudah punya usaha mendapat materi berbeda dengan peserta pemula. Yang terkendala pemasaran difokuskan pada akses pasar dan jaringan. Yang terkendala produksi diarahkan pada efisiensi usaha dan peralatan.

Pendekatannya lebih personal, lebih realistis, dan lebih berpeluang menghasilkan outcome.

Semua pengalaman ini membentuk cara pandang saya terhadap kebijakan pemberdayaan. Program pemerintah maupun lembaga sosial perlu lebih serius membangun database peserta dan sistem monitoring yang baik.

Karena pemberdayaan bukan sekadar menyalurkan kegiatan, tetapi mengelola perubahan.

Data bukan hal teknis yang kering. Dalam konteks pemberdayaan, data adalah cara kita menghormati masyarakat—dengan memastikan program yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan mereka.Tanpa baseline, kita hanya sibuk bergerak. Tetapi belum tentu bergerak ke arah yang benar. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.