Pemberdayaan Tidak Berhenti di Ruang Pelatihan

by -1353 Views

Dalam pengalaman mendampingi masyarakat, saya belajar satu hal sederhana: masalah ekonomi tidak pernah selesai dalam satu sesi pelatihan.

Orang bisa paham materi dalam satu hari, tetapi mengubah kebiasaan, memperbaiki usaha, dan membangun kemandirian ekonomi membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Karena itu, kelemahan paling umum dalam banyak program pemberdayaan adalah berhenti terlalu cepat.

Program selesai saat pelatihan selesai.

Peserta menerima modul, berfoto bersama, mendapat sertifikat, lalu pulang. Setelah itu, hubungan antara penyelenggara dan peserta perlahan terputus.

Padahal justru tantangan terbesar baru dimulai setelah peserta kembali ke aktivitas sehari-hari.

Selama mendampingi masyarakat di Kelurahan Kersanagara, Kecamatan Cibeureum—baik saat menjadi Ketua LPM maupun Ketua Gema Madani—saya melihat banyak pelaku usaha kecil sebenarnya memiliki kemauan kuat untuk berkembang. Mereka mau belajar, mau mencoba, bahkan rela meluangkan waktu mengikuti program.

Namun ketika menghadapi persoalan nyata, mereka sering berjalan sendiri.

Ada yang kesulitan mengatur cashflow usaha. Ada yang produknya bagus, tetapi tidak punya akses pasar. Ada yang semangat di awal, lalu kembali ke pola lama karena tidak ada yang memonitor progresnya.

Di titik inilah pendampingan menjadi sangat penting.

Perubahan Butuh Proses, Bukan Event

Menurut John Friedmann, pemberdayaan adalah proses meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber daya, pengetahuan, dan kontrol atas kehidupan ekonominya.

Kata kuncinya adalah proses.

Artinya, program pemberdayaan tidak bisa didesain seperti acara sekali selesai. Ia harus dibangun sebagai perjalanan bertahap.

Dalam konteks ekonomi masyarakat, yang dibutuhkan peserta justru hal-hal praktis dan berulang: coaching rutin, monitoring sederhana terhadap arus kas usaha, evaluasi penjualan, akses pasar, serta problem solving langsung di lapangan.

Kadang masalahnya sangat teknis: kemasan kurang menarik, harga tidak kompetitif, pencatatan keuangan berantakan, atau tidak tahu menjangkau pelanggan baru.

Masalah seperti ini tidak selesai lewat seminar.

Ia selesai melalui pendampingan yang konsisten.

Pendampingan adalah Bentuk Keseriusan

Bagi saya, pendampingan bukan sekadar tambahan program, tetapi bentuk keseriusan terhadap nasib peserta.

Kalau kita benar-benar ingin membantu keluarga naik kelas secara ekonomi, maka perhatian tidak boleh berhenti di ruang pelatihan.

Kita harus tahu apakah usahanya berkembang. Apakah omzet bergerak. Apakah pelanggan bertambah. Apakah kendala baru muncul.

Pendekatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri peserta. Mereka tidak merasa berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari proses pembinaan yang nyata.

Dari pengalaman lapangan, saya melihat modal kecil pun bisa lebih efektif jika dihubungkan dengan komunitas dan jaringan usaha. Pendampingan membantu peserta tidak hanya menerima bantuan, tetapi belajar mengelola peluang.

Sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, perspektif ini penting saya bawa ke ruang kebijakan. Program ekonomi keluarga harus lebih berorientasi pada keberlanjutan, bukan sekadar serapan kegiatan.

Kita membutuhkan program yang lebih dekat dengan warga, lebih sabar dalam proses, dan lebih serius mengawal hasil.

Karena inti pemberdayaan bukan pada seberapa banyak orang dilatih, tetapi seberapa banyak keluarga yang benar-benar menjadi lebih mandiri.

Dan itu hanya bisa terjadi jika kita tidak meninggalkan peserta setelah acara selesai. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.