Tanpa Monitoring, Kita Tidak Tahu Siapa yang Berhasil

by -1469 Views

Selama puluhan tahun mendampingi masyarakat, mulai dari Ketua LPM, Ketua Gema Madani Kelurahan Kersanagara, hingga saat ini mendapat amanah sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, saya sering menemukan satu kelemahan yang berulang dalam banyak program pemberdayaan.

Programnya selesai. Laporannya selesai. Anggarannya selesai.

Tetapi ketika enam bulan atau satu tahun kemudian kita bertanya, “Bagaimana perkembangan peserta program itu sekarang?” sering kali tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.

Padahal justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya.

Memantau Kegiatan, Bukan Perubahannya

Di lapangan saya sering bertemu pelaku usaha kecil yang pernah mengikuti berbagai pelatihan. Ada yang mendapat bantuan peralatan. Ada yang memperoleh modal usaha. Bahkan ada yang sudah beberapa kali mengikuti program dari berbagai lembaga.

Namun ketika ditanya apakah omzetnya meningkat, apakah usahanya masih berjalan, atau apakah kondisi keluarganya menjadi lebih baik, datanya sering tidak tersedia.

Banyak organisasi memiliki laporan kegiatan yang lengkap, tetapi tidak memiliki sistem yang memantau perkembangan peserta setelah program selesai.

Padahal dalam pendekatan pemberdayaan modern, yang disebut penting bukan hanya output, tetapi outcome. Output adalah jumlah pelatihan, jumlah peserta, atau jumlah bantuan yang disalurkan. Sementara outcome adalah perubahan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Pakar pemberdayaan masyarakat David C. Korten dalam konsep People-Centered Development menekankan bahwa keberhasilan pembangunan harus diukur dari meningkatnya kapasitas dan kemandirian masyarakat, bukan sekadar terlaksananya kegiatan.

Data yang Sering Terlupakan

Menurut saya, ada beberapa data sederhana yang justru sangat penting untuk dipantau secara berkala.

Misalnya berapa pendapatan peserta sebelum dan sesudah program. Bagaimana perkembangan omzet usahanya. Apakah keuntungan usahanya bertambah. Apakah usahanya masih bertahan setelah satu tahun. Atau justru sudah berhenti.

Data-data seperti ini jauh lebih bernilai daripada sekadar dokumentasi kegiatan.

Dari pengalaman mendampingi kelompok usaha masyarakat di Kersanagara, saya melihat bahwa perkembangan usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada yang berkembang pesat, ada yang stagnan, bahkan ada yang gagal. Tanpa pemantauan yang baik, kita tidak pernah tahu siapa yang membutuhkan bantuan lanjutan dan siapa yang siap naik kelas.

Akibatnya, program sering berjalan seperti siklus yang berulang. Peserta baru terus dicari, sementara peserta lama tidak lagi dipantau perkembangannya.

Membawa Perspektif Lapangan ke Kebijakan

Saya berpendapat, ke depan program pemberdayaan perlu dilengkapi dengan sistem monitoring outcome yang sederhana tetapi konsisten.

Tidak harus rumit, yang penting ada pemantauan berkala terhadap pendapatan, perkembangan usaha, dan tingkat kemandirian peserta. Dengan begitu, kebijakan yang disusun tidak hanya berbasis anggaran, tetapi juga berbasis dampak nyata.

Karena pada akhirnya, tujuan pemberdayaan bukan sekadar melaksanakan program. Tujuan utamanya adalah membantu masyarakat menjadi lebih mandiri.Masyarakat tidak membutuhkan banyak kegiatan yang datang dan pergi. Mereka membutuhkan pendampingan yang membuat usaha mereka tumbuh, keluarga mereka lebih kuat, dan masa depan mereka lebih baik. Di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.