Tidak Semua Orang Harus Menjadi Pengusaha

by -899 Views
Elan Jaelani, berfoto bersama dengan para peserta pelatihan pemasaran berbasis online.

Keberhasilan program pelatihan kewirausahaan tidak harus diukur dari seluruh peserta menjadi pengusaha, sebab dalam praktiknya hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki kesiapan, kapasitas, dan ketahanan untuk bertumbuh sebagai entrepreneur.

Tasikmalaya, EJ – Dalam banyak program pemberdayaan ekonomi, sering muncul ekspektasi yang terlalu tinggi. Ketika ada pelatihan kewirausahaan dengan puluhan peserta, harapannya semua peserta mampu membuka usaha, berkembang, lalu meningkatkan taraf hidupnya.

Harapan ini baik, tetapi tidak realistis.

Dari pengalaman saya mengikuti berbagai pelatihan, menjadi narasumber, sekaligus mendampingi masyarakat dalam program pemberdayaan, ada satu pola yang sangat konsisten. Dari sekitar 30 peserta pelatihan, biasanya hanya beberapa orang yang benar-benar bertahan, berkembang, dan pada akhirnya berhasil membangun usaha secara berkelanjutan.

Bagi sebagian orang, angka ini mungkin terlihat kecil. Namun justru di situlah ukuran realistis sebuah proses pemberdayaan.

Selama mendampingi masyarakat sebagai Ketua LPM dan Ketua Gema Madani Kelurahan Kersanagara, saya banyak bertemu warga dengan semangat tinggi untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Ada ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha rumahan, pemuda yang mencari peluang pendapatan, dan pelaku usaha kecil yang ingin naik kelas.

Namun setelah proses berjalan, terlihat bahwa tidak semua orang memiliki kecocokan menjadi entrepreneur.

Ini sesuatu yang wajar. Normal. Alami.

Wirausahawan Membutuhkan Karakter Khusus

Kewirausahaan bukan hanya soal bisa membuat produk atau memiliki modal awal.

Lebih dari itu, entrepreneur membutuhkan karakter khusus: keberanian mengambil risiko, kemampuan menghadapi ketidakpastian, disiplin tinggi, daya tahan mental, dan kemauan belajar terus-menerus.

Dalam teori inovasi dan kewirausahaan, Joseph Schumpeter menjelaskan entrepreneur sebagai agen perubahan yang mampu mengombinasikan sumber daya menjadi nilai ekonomi baru. 

Artinya, wirausaha memang menuntut kapasitas yang tidak selalu dimiliki semua orang. Sebagian orang, atau malah kebanyakan orang, lebih cocok menjadi tenaga profesional, pekerja teknis, pengelola, atau bagian dari sistem usaha yang lebih besar.

Karena itu, tidak tepat jika semua peserta pelatihan dipaksa memiliki orientasi yang sama.

Pemberdayaan justru harus membantu masyarakat menemukan potensi terbaiknya.

Ada yang cocok membangun usaha sendiri. Ada yang lebih optimal memperkuat keterampilan kerja. Ada pula yang berkembang melalui usaha kolektif berbasis komunitas atau keluarga.

Sedikit yang Berhasil Bukan Berarti Program Gagal

Kesalahan umum dalam membaca program pemberdayaan adalah mengukur keberhasilan secara kuantitatif semata.

Jika satu pelatihan berisi 30 peserta lalu “hanya” melahirkan tiga atau lima pengusaha yang bertahan, sebagian orang menganggap hasilnya kurang berhasil.

Padahal tidak demikian.

Dalam pengalaman lapangan, melahirkan beberapa entrepreneur yang kuat justru merupakan capaian yang sehat dan realistis. Mereka yang berhasil ini berpotensi membuka lapangan kerja, menjadi contoh, sekaligus menginspirasi lingkungan sekitarnya.

Pandangan ini selaras dengan konsep pemberdayaan Paulo Freire yang menekankan proses kesadaran dan transformasi bertahap, bukan perubahan instan yang seragam untuk semua orang.

Pelatihan hanyalah trigger.

Tugas program adalah membuka wawasan, membangun mindset, meningkatkan skill, dan membantu peserta mengenali potensi terbaiknya.

Hal Terpenting: Menemukan Jalan Bertumbuh

Saat ini, sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, saya memandang pemberdayaan ekonomi harus dirancang lebih realistis dan berkelanjutan.

Tujuannya bukan memaksakan semua orang menjadi pengusaha, tetapi membantu masyarakat menemukan jalur peningkatan ekonomi yang paling sesuai dengan kapasitasnya.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan berapa banyak orang mengikuti pelatihan, tetapi berapa banyak yang benar-benar mengalami peningkatan kualitas hidup.Dan bila dari satu pelatihan lahir beberapa pengusaha tangguh, itu bukan hasil kecil. Itu justru fondasi perubahan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.