Mengatasi Bias Turis Pembangunan: Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pendatang

by -1267 Views

Dalam proses pemberdayaan masyarakat, salah satu tantangan terbesar yang sering terjadi adalah munculnya bias turis pembangunan (rural development tourist).

Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang atau lembaga datang dari luar masyarakat, membawa banyak konsep dan program, tetapi tidak benar-benar memahami kehidupan masyarakat yang didampingi.

Datang sebentar, melakukan survei, membuat laporan, lalu pergi. Sementara masyarakat yang menjadi objek program belum tentu merasa memiliki perubahan tersebut.

Dalam pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat, pendekatan seperti ini sering menjadi penyebab mengapa banyak program tidak bertahan lama.

Masyarakat bukan sekadar tempat menjalankan program. Mereka memiliki pengalaman, budaya, nilai, dan pengetahuan yang harus dihargai.

Pemberdayaan yang benar bukan membawa masyarakat mengikuti keinginan kita. Tetapi membantu masyarakat menemukan kekuatan yang mereka miliki.

Tinggal Bersama untuk Membangun Empati

Hal pertama untuk mengatasi bias turis pembangunan adalah membangun kedekatan dengan masyarakat.

Empati tidak bisa lahir hanya melalui kunjungan singkat. Kita harus memahami kehidupan warga secara langsung.

Agus Purbathin Hadi dalam bukunya Desa Membangun dari Bawah menegaskan:

“Empati semacam itu tidak bisa ditumbuhkan hanya dengan seminggu pelatihan fasilitator. Pengalaman di Desa Aik Berik, fasilitator tidak tinggal di desa yang didampingi, padahal empati dan keberpihakan yang otentik hanya bisa tumbuh manakala fasilitator live in, tinggal bersama masyarakat yang didampingi”.

Tinggal bersama masyarakat membuat seorang pendamping memahami persoalan secara lebih utuh.

Ia tidak hanya melihat angka kemiskinan, tetapi memahami mengapa kemiskinan itu terjadi. Ia tidak hanya melihat lingkungan yang kurang tertata, tetapi memahami kebiasaan, keterbatasan, dan potensi masyarakat.

Inilah pentingnya pendekatan manusiawi dalam pembangunan.

Menjadi Fasilitator, Bukan Guru

Kesalahan lain yang sering muncul adalah ketika pendamping merasa dirinya paling tahu.

Masyarakat dianggap tidak memiliki kemampuan sehingga harus diarahkan sepenuhnya.

Padahal, masyarakat memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang.

Peran seorang pendamping bukan sebagai guru yang datang memberikan jawaban, tetapi sebagai fasilitator yang membantu masyarakat menemukan solusi.

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis dalam buku Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat menjelaskan:

“Pendamping menyadari perannya sebagai fasilitator dan bukannya sebagai pelaku atau guru. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta ketersediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat itu”.

Sikap rendah hati menjadi modal utama seorang penggerak sosial.

Kadang solusi terbaik bukan berasal dari ruang rapat atau teori akademik, tetapi muncul dari pengalaman warga yang setiap hari menghadapi persoalan tersebut.

Menggunakan Pendekatan Partisipatif

Pemberdayaan masyarakat tidak boleh menjadikan warga sebagai objek.

Masyarakat harus menjadi subjek utama dalam menentukan arah perubahan.

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu metode yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku aktif dalam proses pembangunan.

Agus Purbathin Hadi menjelaskan:

“Dalam PRA masyarakat berlaku sebagai subjek dan bukan objek, dan peneliti serta praktisi menempatkan diri sebagai ”insider”, bukan ”outsider”. Masyarakat yang membuat peta, model, diagram, mengurutkan, memberi nilai, mengkaji, memberikan contoh, mengidentifikasi dan menyeleksi prioritas masalah”.

Pendekatan seperti ini membuat masyarakat memiliki rasa kepemilikan.

Sebab keputusan tidak datang dari luar, tetapi lahir dari proses bersama.

Program yang lahir dari kesadaran masyarakat akan lebih mudah dijaga keberlangsungannya.

Menghargai Kearifan Lokal

Setiap masyarakat memiliki kekayaan pengetahuan sendiri.

Kadang pembangunan gagal karena membawa konsep yang dianggap modern, tetapi tidak sesuai dengan kondisi lokal.

Padahal, masyarakat sudah memiliki pengalaman dan cara-cara yang terbukti berjalan dalam kehidupan mereka.

Muhammad Hasan dan Muhammad Azis mengingatkan:

“Pemberdayaan dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri… pengetahuan masyarakat dan pengetahuan dari luar atau inovasi, harus dipilih secara arif dan atau saling melengkapi satu sama lainnya”.

Artinya, ilmu dari luar tetap penting. Teknologi dan inovasi juga dibutuhkan. Tetapi semuanya harus dipadukan dengan kondisi lokal.

Pembangunan bukan mengganti budaya masyarakat, tetapi memperkuat potensi yang sudah ada.

Tidak Membentuk Fasilitator Secara Instan

Pemberdayaan masyarakat membutuhkan manusia yang matang.

Tidak cukup hanya mengikuti pelatihan singkat lalu langsung terjun menjadi pendamping.

Seorang fasilitator harus memiliki pemahaman nilai, kesabaran, kemampuan komunikasi, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Agus Purbathin Hadi menyampaikan:

“Tenaga-tenaga pengembangan masyarakat hendaknya jangan dicetak secara ”instan” melalui pelatihan singkat, namun harus melalui pendidikan dan pelatihan yang terencana dan komprehensif… proses penyiapan mahasiswa yang akan menjadi fasilitator masih secara ”instan” sehingga nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar partisipasi dan pemberdayaan masyarakat belum terinternalisasi”.

Pemberdayaan bukan hanya keterampilan teknis. Ia membutuhkan karakter.

Karena bekerja bersama masyarakat membutuhkan ketulusan dan waktu yang panjang.

Menghindari Partisipasi Semu

Salah satu bahaya dalam pembangunan adalah adanya partisipasi yang hanya terlihat dalam laporan.

Masyarakat seolah dilibatkan, tetapi keputusan sebenarnya tetap ditentukan oleh pihak luar.

Kondisi ini disebut sebagai manipulasi partisipatif.

Dalam sumber yang digunakan dijelaskan:

“Alih-alih membangkitkan partisipasi masyarakat secara otonom, pendekatan ini justru potensial memicu lahirnya ‘manipulasi-partisipatif’. Di luar memang nampak seolah-olah melibatkan masyarakat dalam proses, namun sesungguhnya proses itu tetap dikuasai dan diarahkan oleh penyuluh sebagai ‘orang luar'”.

Pembangunan yang baik harus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengambil keputusan sendiri.

Pendamping hadir untuk memperkuat, bukan mengambil alih.

Penutup

Mengatasi bias turis pembangunan pada akhirnya adalah perubahan cara pandang.

Seorang penggerak masyarakat tidak boleh melihat dirinya sebagai ahli yang datang menyelesaikan semua masalah.

Ia harus hadir sebagai mitra belajar, berjalan bersama masyarakat, memahami kehidupan mereka, dan membantu mereka menemukan kekuatan sendiri.

Dengan pendekatan tinggal bersama, menghargai kearifan lokal, menggunakan metode partisipatif, dan membangun kader masyarakat, pemberdayaan tidak lagi menjadi sekadar program.

Ia akan menjadi gerakan kemandirian.

Masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang selalu menunggu bantuan, tetapi masyarakat yang mampu mengenali potensi, menyelesaikan masalah, dan bergerak bersama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.