Penjelasan Konsep Pemberdayaan Rumah Tangga Menurut Friedmann

by -1410 Views

Dalam banyak diskusi tentang pembangunan masyarakat, kita sering berbicara tentang program besar, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau berbagai kebijakan pemerintah. 

Semua itu tentu penting. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa masyarakat pada dasarnya dibangun dari unit yang paling kecil, yaitu rumah tangga.

Dalam pengalaman saya mendampingi masyarakat, saya melihat bahwa perubahan yang bertahan lama selalu dimulai dari keluarga.

Rumah tangga adalah tempat pertama seseorang belajar nilai, bekerja, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan diri. Karena itu, jika ingin membangun masyarakat yang kuat, maka rumah tangga harus menjadi bagian utama dalam proses pemberdayaan.

John Friedmann melalui pemikirannya tentang alternative development atau pembangunan alternatif menjelaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dilakukan dengan pendekatan dari atas (top down). Masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam perubahan.

Menurut Friedmann (1992), pemberdayaan harus dimulai dari rumah tangga. Dalam buku Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, Muhammad Hasan dan Muhammad Azis menjelaskan pemikiran tersebut:

“Kalau menurut Marx, pemberdayaan adalah pemberdayaan masyarakat, maka menurut Friedmann, pemberdayaan harus dimulai dari rumah tangga. Pemberdayaan rumah tangga adalah pemberdayaan yang mencakup aspek sosial, politik, dan psikologis.”

Pemikiran ini memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan bukan hanya persoalan meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kemampuan manusia agar mampu menentukan masa depannya sendiri.

Pemberdayaan Sosial: Membuka Akses dan Meningkatkan Kemampuan

Aspek pertama dalam pemberdayaan rumah tangga adalah pemberdayaan sosial. Artinya, keluarga yang selama ini memiliki keterbatasan harus diberikan kesempatan untuk mendapatkan akses yang lebih luas.

Banyak persoalan masyarakat bukan semata-mata karena mereka tidak memiliki potensi, tetapi karena mereka tidak memiliki akses. Ada masyarakat yang memiliki kemampuan usaha, tetapi tidak mendapatkan informasi. Ada yang memiliki kemauan bekerja, tetapi tidak memiliki keterampilan. Ada yang ingin berkembang, tetapi tidak memiliki jaringan.

Karena itu, pemberdayaan sosial bertujuan membuka jalan agar rumah tangga memiliki kemampuan untuk berdiri lebih mandiri.

Dalam buku Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, dijelaskan:

“…usaha bagaimana rumah tangga lemah memperoleh akses informasi, akses pengetahuan dan keterampilan, akses untuk berpartisipasi dalam organisasi sosial, dan akses ke sumber-sumber keuangan.”

Menurut saya, ini menjadi pekerjaan penting bagi para pemimpin masyarakat. Baik pemerintah, lembaga sosial, maupun tokoh lingkungan harus mampu menjadi penghubung antara potensi masyarakat dengan berbagai sumber daya yang tersedia.

Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima bantuan. Mereka harus didorong menjadi pelaku yang memiliki kemampuan mengelola kehidupannya sendiri.

Pemberdayaan Politik: Masyarakat Harus Memiliki Suara

Aspek kedua adalah pemberdayaan politik. Politik dalam konteks ini bukan hanya berbicara tentang partai politik atau pemilu. Politik juga berarti kemampuan masyarakat untuk ikut menentukan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Rumah tangga yang kuat adalah rumah tangga yang memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, ikut bermusyawarah, dan terlibat dalam proses pembangunan.

Friedmann menekankan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan. Mereka harus menjadi subjek pembangunan.

Dalam sumber yang sama dijelaskan bahwa pemberdayaan politik adalah:

“…usaha bagaimana rumah tangga yang lemah memiliki akses dalam proses pengambilan keputusan publik yang mempengaruhi masa depan mereka.”

Konsep ini sangat relevan dengan semangat pembangunan berbasis masyarakat. Program yang baik bukan hanya program yang dibuat oleh pemerintah, tetapi program yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

Karena itu, forum-forum warga seperti musyawarah RT, RW, LPM, maupun berbagai ruang partisipasi masyarakat harus terus diperkuat.

Ketika masyarakat memiliki ruang untuk berbicara, maka kebijakan yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran.

Pemberdayaan Psikologis: Membangun Kepercayaan Diri

Aspek ketiga yang tidak kalah penting adalah pemberdayaan psikologis.

Sering kali kita menemukan masyarakat yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi merasa tidak mampu. Mereka merasa kecil, tidak memiliki kemampuan, atau bergantung sepenuhnya kepada pihak lain.

Padahal, perubahan membutuhkan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkembang.

Pemberdayaan psikologis menurut Friedmann adalah:

“…usaha bagaimana membangun kepercayaan diri rumah tangga yang lemah.”

Kepercayaan diri adalah modal awal untuk bergerak. Ketika seseorang percaya bahwa dirinya mampu, maka ia akan lebih berani belajar, berusaha, berorganisasi, dan mengambil peran dalam masyarakat.

Dalam aktivitas sosial, saya sering menemukan bahwa pendekatan yang paling efektif bukan hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan dorongan, pendampingan, dan kepercayaan.

Masyarakat harus diyakinkan bahwa mereka memiliki potensi untuk menyelesaikan persoalannya sendiri dengan dukungan yang tepat.

Membangun Masyarakat sebagai Subjek Pembangunan

Pemikiran Friedmann memberikan pesan bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang berpusat pada manusia (people-centered development).

Tujuan akhirnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga terciptanya masyarakat yang memiliki kemandirian, demokrasi yang inklusif, kesetaraan, dan keadilan antargenerasi.

Rumah tangga yang kuat akan membentuk lingkungan yang kuat. Lingkungan yang kuat akan membangun masyarakat yang kuat.

Karena itu, pemberdayaan tidak boleh hanya dilihat sebagai program pemerintah atau proyek pembangunan. Pemberdayaan adalah proses membangun manusia agar memiliki kemampuan, keberanian, dan kesempatan untuk menentukan masa depannya.

Sebagai aktivis sosial dan anggota legislatif, saya melihat bahwa tugas kita bukan hanya menghadirkan program, tetapi memastikan masyarakat memiliki kapasitas untuk mengambil manfaat dan melanjutkan perubahan.

Masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang selalu menunggu bantuan, tetapi masyarakat yang mampu bergerak, bekerja sama, dan menjadi bagian dari solusi. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.