Pilot Project Dakwah

by -1403 Views

Dakwah pada hakikatnya adalah upaya menyampaikan nilai dan mendorong perubahan perilaku. Karena itu, dakwah berhadapan dengan manusia yang memiliki latar belakang, pengalaman, budaya, dan karakter yang berbeda.

Dalam konteks ini, pilot project bukan untuk menguji benar atau salahnya ajaran Islam. Prinsip syariat memiliki kedudukan yang tetap. Tetapi, apa yang diuji adalah cara menyampaikan, media yang digunakan, pendekatan kepada masyarakat, dan strategi membangun perubahan.

Saya melihat ini penting dari pengalaman kegiatan sosial di tingkat masyarakat. Program yang secara konsep bagus belum tentu diterima dengan baik. Kadang masalahnya bukan pada tujuannya, tetapi pada cara kita datang dan berkomunikasi.

Menguji Cara Tanpa Mengubah Nilai

Hal pertama yang harus dijaga adalah batas nilai. Inovasi boleh dilakukan pada metode. Prinsip tidak boleh dikorbankan.

Everett M. Rogers dalam Diffusion of Innovations memberikan contoh menarik tentang kegagalan introduksi varietas padi di Bali. Ia menulis:

“The miracle rice had a shorter growing session than the existing rice varieties on Bali and hence was incompatible with the Hindu priests’ irrigation schedule.”

Artinya, padi tersebut memiliki masa tumbuh lebih pendek dan tidak sesuai dengan jadwal irigasi yang berkaitan dengan sistem keagamaan masyarakat Bali.

Rogers kemudian mencatat:

“The eventual result was lower, instead of higher, yields, which was quickly discontinued by Balinese farmers.”

Pelajarannya jelas. Inovasi yang secara teknis baik dapat gagal jika tidak sesuai dengan sistem nilai dan kehidupan masyarakat.

Dalam dakwah, prinsip syariat menjadi batas yang tidak boleh dilanggar. Namun cara menyampaikannya dapat terus diperbaiki. Kita dapat menguji media sosial, forum keluarga, diskusi komunitas, seni, video pendek, atau pendekatan lainnya. Pertanyaannya bukan apakah pesan agama diubah, tetapi bagaimana pesan itu dapat dipahami dan diterima dengan baik.

Kearifan lokal juga penting. Mary B. Anderson dalam Do No Harm menceritakan pengalaman di Burundi. Seorang anggota tim mengatakan:

“It was an excellent idea to use our traditional proverbs. They summarize in one or two lines what would otherwise have to be said on two pages of text… When we Burundians have a conversation, we often start or finish with a proverb, so this is a structure every Burundian citizen can relate to.”

Dalam konteks kita, pesan dakwah dapat dikaitkan dengan budaya tutur masyarakat, bahasa daerah, pepatah, atau tradisi positif yang sudah hidup.

Menguji Dai dan Cara Membangun Kepercayaan

Dakwah bukan hanya soal apa yang disampaikan. Siapa yang menyampaikan juga menentukan penerimaan.

Anderson menunjukkan bahwa dalam konteks Burundi, pesan tertentu justru lebih dipercaya ketika disampaikan oleh pihak luar yang dianggap tidak memiliki kepentingan kelompok:

“the Declaration’s message is better heard and better believed when it is delivered by outsiders. Burundians would be seen as belonging to one group or the other and, hence, as having a group-vested interest. The impartiality and lack of group identity… allow people to hear the message for what it is.”

Tetapi tidak semua masyarakat membutuhkan dai dari luar. Pada komunitas yang memiliki ikatan sosial kuat, tokoh lokal sering lebih dipercaya. Rogers menunjukkan bagaimana pemuka opini lokal digunakan dalam eksperimen di Taos County.

Karena itu, pilot project dapat menguji beberapa model. Dai lokal. Dai dari luar. Tokoh agama. Tokoh masyarakat. Anak muda. Bahkan kombinasi beberapa figur.

Yang dicari bukan siapa yang paling terkenal. Yang dicari adalah siapa yang paling efektif membangun kepercayaan pada kelompok sasaran.

Ukuran keberhasilan juga perlu diperbaiki. Jangan hanya menghitung jumlah peserta.

Rogers mengingatkan melalui kasus program Norplant di Indonesia:

“By the usual criterion of effectiveness, Norplant diffusion was a huge success… But a careful look at the microlevel process… discloses a rather different story. A certain degree of coercion was used… raising ethical and moral questions.”

Ia kemudian menyebut adanya:

“tradeoff between the number of adopters of an innovation versus the quality of the adoption-decisions.”

Ini pelajaran penting untuk dakwah. Seribu orang hadir belum tentu lebih baik daripada seratus orang yang benar-benar memahami, menerima, dan mengamalkan.

Merancang Bersama dan Belajar dari Lapangan

Dakwah yang baik tidak lahir dari asumsi pengelola saja. Masyarakat harus dilibatkan sejak awal.

Mary B. Anderson mengutip pendekatan DELTA yang berakar pada pemikiran Paulo Freire:

“forged with and not for”

Program harus ditempa bersama masyarakat, bukan dibuat untuk masyarakat tanpa melibatkan mereka.

Di sinilah pilot project menjadi penting. Kita dapat mencoba sebuah model dalam skala kecil. Mendengar respons masyarakat. Mengukur perubahan. Kemudian memperbaikinya.

Dai juga harus memiliki ruang untuk belajar. Peter M. Senge dalam The Fifth Discipline, mengutip Ray Stata, mengatakan:

“In the traditional hierarchical organization, the top thinks and the local acts. In a learning organization, you have to merge thinking and acting in every individual.”

Dai lapangan tidak cukup hanya menjadi pelaksana instruksi. Ia harus mampu mengamati, berpikir, mengevaluasi, lalu mengambil tindakan yang tepat.

Pada akhirnya, prinsipnya sederhana. Seperti dirumuskan Ann Mei Chang dalam Lean Impact:

“Think big. Start small. Relentlessly seek impact.”

Berpikir besar. Mulai dari yang kecil. Kejar dampak tanpa henti.

Inilah semangat pilot project dakwah. Visi boleh besar. Namun langkah pertama tidak harus besar. Justru dengan memulai secara terbatas, kita dapat belajar dengan biaya dan risiko yang lebih kecil.

Dakwah kemudian tidak hanya menjadi aktivitas menyampaikan pesan. Ia menjadi proses membangun perubahan. Perubahan yang sadar. Sukarela. Berkelanjutan. Dan tetap berakar pada nilai. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.