Jadi Ketua RT, Siapa Takut?

by -1787 Views

Ada orang yang menerima amanah menjadi Ketua RT dengan penuh perhitungan. Ada juga yang menerimanya karena merasa tidak enak menolak. Bahkan mungkin ada yang awalnya berpikir, “Ah, paling juga mengurus surat pengantar dan kerja bakti.” 

Setelah dijalani beberapa minggu, barulah terasa bahwa menjadi Ketua RT ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Kadang-kadang lucu juga. Rumah sendiri belum tentu selesai dibereskan, tetapi sudah harus ikut memikirkan rumah tetangga. Urusan keluarga sendiri belum semuanya selesai, tetapi sudah diminta membantu menyelesaikan persoalan warga. Namun justru disitulah menariknya menjadi RT. Kita dipaksa belajar memimpin dalam keadaan yang nyata, bukan dalam teori.

Bagi saya, Ketua RT adalah sekolah kepemimpinan masyarakat yang paling dekat dan paling jujur. Di sana tidak banyak fasilitas, tidak ada panggung besar, dan hampir tidak ada jarak antara pemimpin dengan orang yang dipimpin. Setiap hari kita bertemu dengan warga yang sama. Kalau kita baik, mereka akan merasakannya. Kalau kita tidak konsisten, mereka juga akan segera mengetahuinya.

Kepemimpinan Bukan Soal Besarnya Jabatan

Banyak orang menganggap jabatan RT terlalu kecil untuk disebut sebagai kepemimpinan. Padahal, justru di lingkungan kecil itulah kita dapat melihat kepemimpinan secara lebih nyata.

John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menegaskan bahwa “ukuran sejati dari kepemimpinan adalah pengaruh—tidak lebih, tidak kurang.” Seorang RT mungkin tidak memiliki kendaraan dinas, ruangan kantor, staf khusus, atau anggaran besar. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk membangun pengaruh positif di tengah masyarakat.

Maxwell melalui The Law of Influence juga mengingatkan bahwa “bukan posisi yang membuat pemimpin, tetapi pemimpinlah yang membuat posisi itu.” Artinya, jabatan RT tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin. Justru cara seseorang menjalankan amanah itulah yang menentukan apakah ia benar-benar menjadi pemimpin atau hanya menjadi pemegang jabatan.

Pandangan ini sejalan dengan Susan R. Komives dan Wendy Wagner dalam Leadership for a Better World, yang menyatakan bahwa “kepemimpinan dipandang sebagai sebuah proses, bukan sebuah posisi.”

Kalau kita melihat RT dengan cara seperti ini, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri. Jabatan boleh kecil, tetapi proses belajar kepemimpinannya bisa sangat besar. Bahkan, sebelum seseorang dipercaya memimpin organisasi yang lebih luas, ada baiknya ia belajar terlebih dahulu memimpin lingkungan yang paling dekat dengannya.

Menjadi Penggembala yang Berjalan di Depan

Ada satu hal yang menarik dari realitas menjadi Ketua RT: kita seringkali dicari justru ketika ada masalah.

Ada warga yang membutuhkan surat pengantar. Ada tetangga yang sedang sakit. Ada persoalan keamanan. Ada warga yang berselisih karena parkir. Ada kerja bakti yang perlu digerakkan. Ada informasi pemerintah yang harus disampaikan. Kadang kita ingin beristirahat, tetapi telepon berbunyi.

Dalam situasi seperti itu, seorang Ketua RT sebenarnya sedang belajar menjadi pemimpin di garis depan.

John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad menjelaskan kepemimpinan melalui kiasan seorang penggembala. Ia mencatat bahwa “pemimpin adalah orang yang memandu perjalanan dengan berjalan lebih dulu, serta menyatukan mereka sehingga tidak tercerai-berai.”

Gambaran ini sederhana, tetapi dalam. Pemimpin bukan orang yang hanya menunjukkan jalan dari belakang. Ia ikut berjalan, mengetahui kondisi perjalanan, dan memastikan orang-orang yang dipimpinnya tidak tercerai-berai.

Muhammad Syafii Antonio dalam Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager menambahkan bahwa pekerjaan menggembala ternak yang dilakukan Nabi di masa kecil “merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian leadership dan manajemen yang baik,” mulai dari mengarahkan hingga melindungi anggota kelompok.

Ada pula perkataan Nabi Muhammad saw. yang sangat relevan bagi seorang RT: “Dalam perjalanan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu.”

Saya kira inilah salah satu kunci memahami jabatan RT. Menjadi RT bukan terutama soal dilayani warga, melainkan belajar melayani warga. Ketika kita datang membantu tetangga yang kesulitan, ketika kita ikut kerja bakti, atau ketika kita duduk mendengarkan keluhan warga, sebenarnya kita sedang belajar bentuk kepemimpinan yang paling mendasar: hadir untuk orang lain.

RT sebagai Sekolah Kepemimpinan Seumur Hidup

Kepemimpinan juga tidak muncul secara tiba-tiba setelah seseorang dilantik. Ia tumbuh melalui pengalaman.

Muhammad Syafii Antonio menekankan prinsip Ibda’ bi nafsik, yaitu “kepemimpinan dimulai dari lingkungan terkecil yaitu diri sendiri; seseorang tidak akan dapat memimpin orang lain dengan baik bila tidak dapat berhasil memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu.”

Ini pelajaran penting. Sebelum mengajak warga disiplin, kita harus belajar disiplin. Sebelum meminta warga menjaga kebersihan, kita perlu memulainya dari diri sendiri. Sebelum menenangkan warga yang sedang berselisih, kita harus belajar mengendalikan emosi kita sendiri.

Warren G. Bennis dalam On Becoming a Leader memperkuat gagasan tersebut: “untuk menjadi seorang pemimpin, Anda harus menjadi diri Anda sendiri, menjadi pembuat kehidupan Anda sendiri.”

Karena itu, pengalaman menjadi RT sebenarnya bukan pengalaman yang berhenti pada masa jabatan. Ia merupakan proses pembentukan diri. Kita belajar berbicara, mendengar, mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, mengelola waktu, mengelola uang, membangun kerja sama, dan menerima kritik.

John C. Maxwell menyebut proses tersebut sebagai The Law of Process: “kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam sehari.”

Setiap persoalan warga dapat menjadi pelajaran. Iuran yang macet mengajarkan kita komunikasi. Konflik antarwarga mengajarkan kita kesabaran. Kerja bakti mengajarkan koordinasi. Kegiatan sosial mengajarkan kolaborasi. Bahkan kegagalan pun dapat menjadi guru yang sangat baik.

Bennis dan Nanus, seperti dikutip Maxwell, menemukan bahwa “kapasitas untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan merekalah yang membedakan pemimpin dari pengikutnya.” Karena itu, seorang RT tidak perlu takut ketika menghadapi persoalan yang belum pernah ia hadapi. Ia hanya perlu bersedia belajar.

Dalam perjalanan saya dari lingkungan masyarakat hingga kemudian mendapat amanah yang lebih luas di DPRD Kota Tasikmalaya, saya melihat bahwa pengalaman di tengah masyarakat memberikan pelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh dari ruang kelas. Berhadapan langsung dengan warga membuat kita memahami bahwa kebijakan selalu memiliki wajah manusia. Ada kebutuhan, harapan, keterbatasan, dan perasaan di balik setiap persoalan.

Maka, jangan pernah meremehkan lingkungan tempat kita tinggal. Bisa jadi di sanalah sekolah kepemimpinan kita yang pertama.

Pada akhirnya, “kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang mendapatkan jabatan. Kepemimpinan dimulai ketika seseorang bersedia bertanggung jawab terhadap orang lain.”

Jadi Ketua RT? Siapa takut! 

Mungkin amanah ini tidak membuat nama kita dikenal banyak orang. Tetapi ia dapat membuat kita belajar menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab, lebih peka, dan lebih siap memimpin. Sebab perubahan besar sering kali tidak dimulai dari gedung yang besar. Ia dimulai dari rumah, gang, dan lingkungan terdekat—dari tempat kita belajar bertanggung jawab kepada orang lain. (im)

Referensi

  1. John C. Maxwell. The 21 Irrefutable Laws of Leadership.
  2. John Adair. Kepemimpinan Muhammad.
  3. Warren G. Bennis. On Becoming a Leader.
  4. Susan R. Komives & Wendy Wagner. Leadership for a Better World.
  5. Muhammad Syafii Antonio. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.