Tips #1 Luruskan Niat, Jadikan Ibadah

by -12815 Views

Menjadi Ketua RT bukan jalan pintas menuju kekayaan. Bukan pula cara paling cepat untuk menjadi terkenal di lingkungan. Apalagi kalau berharap setiap kali keluar rumah langsung disambut tepuk tangan warga. Kalau begitu niatnya, mungkin sejak awal kita perlu berpikir ulang.

Menjadi RT justru lebih dekat dengan pekerjaan yang sering tidak terlihat. Ketika warga membutuhkan surat pengantar, kita dicari. Ketika ada persoalan antar tetangga, kita dipanggil. Ketika ada kerja bakti, kita diharapkan hadir. Tetapi ketika semuanya berjalan baik, mungkin tidak ada seorang pun yang berkata, “Terima kasih, Pak RT.” Di sinilah niat menjadi penting.

RT bukan pekerjaan yang dibayar besar. Karena itu, motivasi untuk menjalaninya harus lebih besar daripada sekadar uang. Jika pelayanan masyarakat kita pahami sebagai ibadah, maka pekerjaan yang tampak sederhana dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Jangan Menjadi RT demi Popularitas

Salah satu sumber stres dalam pelayanan masyarakat adalah harapan untuk selalu mendapatkan penghargaan. Kita membantu warga, lalu berharap dipuji. Kita mengurus kegiatan, lalu berharap nama kita disebut. Kita bekerja keras, tetapi ketika tidak ada yang berterima kasih, hati mulai bertanya, “Kok tidak ada yang menghargai?”

Matthieu Ricard dalam Altruism: The Power of Compassion to Change Yourself and the World mengingatkan bahwa “jika kita melakukan suatu tindakan, meskipun itu berguna bagi orang lain, dengan tujuan tunggal agar dipuji dan dipandang baik secara sosial, maka itu hanyalah tiruan dari altruisme.”

Kalimat ini penting bagi seorang RT. Kalau sumber energi kita adalah pujian, maka energi itu cepat habis. Hari ini dipuji, kita semangat. Besok dikritik, kita kecewa. Lusa tidak dianggap, kita mulai malas.

Karena itu, kepemimpinan membutuhkan motivasi yang lebih dalam. Susan R. Komives dan Wendy Wagner dalam Leadership for a Better World menjelaskan bahwa “komitmen menuntut gairah intrinsik, energi, dan investasi yang bertujuan menuju tindakan; keterlibatan sukarela melalui komitmenlah yang membawa perubahan sosial yang positif.”

Dengan kata lain, kita tetap bekerja bukan karena selalu mendapatkan penghargaan, tetapi karena menyadari bahwa ada sesuatu yang memang layak dikerjakan.

Niat Mengubah Lelah Menjadi Ibadah

Lalu apa yang membuat seseorang mampu bertahan ketika pekerjaan sosial mulai melelahkan? Salah satunya adalah niat.

Muhammad Syafii Antonio dalam The Greatest Inspirator & Motivator: Muhammad SAW menjelaskan bahwa dalam terminologi syar’i, “niat dan keinginan harus menjadi bagian dari wujud ketaatan atau sesuatu yang bernilai ibadah.”

Ini yang membedakan antara sekadar menjalankan tugas dengan menjalankan amanah. Mengurus surat pengantar mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Menghadiri rapat warga mungkin hanya satu atau dua jam. Membantu tetangga yang sedang kesulitan mungkin membuat jadwal kita sedikit berantakan. Tetapi ketika semuanya diniatkan sebagai bagian dari ibadah, pekerjaan itu memperoleh makna yang berbeda.

Antonio juga menegaskan, “niat yang dilandasi karena mengharap ridha-Nya akan membuat setiap perbuatannya—apapun bentuknya—memiliki nilai lebih di hadapan Tuhan.”

Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak perlu terlalu sibuk menghitung apakah warga sudah berterima kasih atau belum. Yang penting, amanah sudah diusahakan dengan baik.

Namun, meluruskan niat bukan berarti kita menjadi manusia tanpa perasaan. Kita tetap bisa lelah. Kita tetap bisa kecewa. Kita tetap bisa sedih ketika kerja keras tidak dihargai. Ikhlas bukan berarti tidak memiliki emosi, tetapi tidak membiarkan emosi menentukan seluruh tindakan kita.

Melayani Tanpa Kehilangan Diri

John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad mengutip perkataan Nabi Muhammad saw.: “Dalam perjalanan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu.”

Kalimat ini sangat dekat dengan kehidupan seorang RT. Pemimpin tidak berdiri jauh dari masyarakat. Ia berada di tengah mereka. Ia membantu memenuhi kebutuhan agar kehidupan bersama tetap berjalan.

Adair menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus “memenuhi kebutuhan mereka agar tetap bersatu dalam kelompok… karena tiap individu dalam perjalanan boleh jadi punya kebutuhan atau persoalan masing-masing.”

Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga: melayani bukan berarti membiarkan diri habis. Seorang RT juga perlu belajar mengelola dirinya sendiri.

Matthieu Ricard menjelaskan tentang “kelelahan empati” (empathy fatigue). Ia mengingatkan bahwa “resonansi empatik terhadap rasa sakit dapat menyebabkan kelelahan emosional dan stres… empati yang dibiarkan sendiri tanpa dukungan cinta altruistik adalah seperti pompa listrik yang tidak dialiri air: ia akan cepat panas dan terbakar.”

Karena itu, kita perlu membedakan antara empati dan welas asih (compassion). Empati membuat kita ikut merasakan penderitaan orang lain. Tetapi jika semua penderitaan itu kita bawa pulang ke rumah, kita bisa kehabisan energi.

Ricard menjelaskan bahwa “welas asih dan cinta altruistik dikaitkan dengan emosi positif yang memperkuat kekuatan pikiran, keseimbangan batin, dan tekad yang penuh kasih untuk membantu mereka yang menderita.”

Seorang RT boleh peduli, tetapi tidak harus memikul semua persoalan sendirian. Ada saatnya mendengarkan. Ada saatnya membantu. Ada saatnya mengajak warga lain ikut menyelesaikan masalah. Ada pula saatnya beristirahat agar esok dapat kembali melayani dengan lebih baik.

Begitu pula ketika menghadapi kritik. Komives dan Wagner menjelaskan bahwa citizenship dalam kepemimpinan berarti “keterlibatan aktif individu dalam upaya melayani komunitas tersebut… yang menghubungkan individu secara bertanggung jawab dengan orang lain.”

Kesadaran diri membantu kita menghadapi situasi tersebut. Pemimpin dengan consciousness of self mampu “mengamati diri sendiri saat itu juga, termasuk menyadari keadaan emosi saat ini dan memberikan respons yang dipertimbangkan daripada bereaksi tanpa berpikir.”

Jadi, ketika ada warga yang berbicara keras, tidak perlu langsung dibalas dengan suara yang lebih keras. Kita boleh kecewa, tetapi tetap memilih respons yang baik. Seperti ungkapan sederhana, “setiap orang memberikan apa yang ia miliki.” Kalau seseorang memberikan kemarahan, kita tidak harus membalas dengan kemarahan pula.

Menjadi RT memang bukan pekerjaan bagi orang yang ingin selalu dipuji. Tetapi justru karena itulah ia bisa menjadi latihan keikhlasan yang sangat baik.

Rasulullah saw. sendiri memberikan teladan kerendahan hati melalui ungkapan, “aku hanyalah putra seorang perempuan yang memakan dendeng daging.” Seorang pemimpin tidak perlu menempatkan dirinya lebih tinggi daripada orang yang dilayaninya.

Pada akhirnya, menjadi RT bukan sekadar mengurus warga. Ini kesempatan untuk belajar melayani, mengendalikan diri, dan menemukan makna dalam pekerjaan yang mungkin tidak selalu terlihat.

Maka, kalau ingin selalu dipuji, jangan menjadi RT.

Tetapi jika kita ingin belajar bahwa kebaikan tidak selalu membutuhkan tepuk tangan, mungkin RT adalah tempat yang sangat baik untuk memulainya. Luruskan niat. Jadikan pelayanan sebagai ibadah. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat lingkungan tertib, tetapi “membuat dunia menjadi lebih baik dan masyarakat menjadi lebih baik bagi diri sendiri dan orang lain.”

Dan ketika niat sudah benar, pekerjaan yang melelahkan tidak selalu terasa sebagai beban. Bisa jadi, justru di situlah kita menemukan berkah. (im)

Referensi

  1. Matthieu Ricard. Altruism: The Power of Compassion to Change Yourself and the World.
  2. John Adair. Kepemimpinan Muhammad.
  3. Muhammad Syafii Antonio. The Greatest Inspirator & Motivator: Muhammad SAW.
  4. Muhammad Syafii Antonio. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager.
  5. Susan R. Komives & Wendy Wagner. Leadership for a Better World.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.