Tips #2 Percaya pada Balasan Allah SWT

by -1825 Views

Menjadi Ketua RT kadang-kadang seperti pekerjaan yang punya rumus sendiri: dikomplain dulu, dipuji belakangan. Itu pun kalau pujian datang. Mengurus surat pengantar bisa dianggap terlalu lama. Mengajak kerja bakti bisa dibilang terlalu sering. Ketika ada warga yang berselisih, RT dipanggil untuk mendamaikan. Tetapi setelah persoalan selesai, sering kali semuanya kembali seperti biasa.

Begitulah kehidupan pelayanan masyarakat. Banyak pekerjaan dilakukan tanpa tepuk tangan. Ada warga sakit yang perlu dibantu, keluarga yang sedang berduka yang perlu didampingi, administrasi yang harus diselesaikan, atau persoalan antarwarga yang harus dicarikan jalan keluarnya. Semua itu mungkin tidak pernah masuk berita. Tetapi bukan berarti tidak bernilai.

Justru di sinilah seorang RT perlu memiliki sumber motivasi yang lebih dalam. Kalau pelayanan hanya hidup dari apresiasi manusia, kita akan cepat lelah. Tetapi kalau pelayanan diniatkan sebagai amanah dan ibadah, kita memiliki alasan yang lebih kuat untuk terus berbuat baik.

Jangan Menggantungkan Semangat pada Tepuk Tangan

Ada dua jenis bahan bakar yang sering menggerakkan seseorang. Yang pertama berasal dari luar: pujian, penghargaan, popularitas, atau pengakuan. Yang kedua berasal dari dalam: nilai yang diyakini, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan memang bermanfaat.

Matthieu Ricard dalam Altruism: The Power of Compassion to Change Yourself and the World menjelaskan bahwa “perbedaan antara altruisme dan keegoisan adalah kualitatif: kualitas motivasi kitalah, dan bukan intensitasnya, yang menentukan sifat altruistiknya.”

Ini penting. Seseorang bisa melakukan banyak kebaikan, tetapi belum tentu seluruhnya lahir dari motivasi yang benar. Ricard bahkan mengingatkan bahwa “jika kita melakukan suatu tindakan, meskipun itu berguna bagi orang lain, dengan tujuan tunggal agar dipuji dan dipandang baik secara sosial, maka itu hanyalah tiruan dari altruisme.”

Sebaliknya, altruisme yang autentik terjadi ketika “kesejahteraan orang lain menjadi tujuan itu sendiri.”

Dalam kehidupan RT, perbedaannya sederhana. Kalau kita membantu warga supaya dipuji, maka ketika tidak ada yang memuji kita akan kecewa. Tetapi kalau kita membantu karena sadar bahwa orang tersebut memang membutuhkan bantuan, kita tidak terlalu sibuk menghitung apakah nama kita disebut atau tidak.

Karena itu, sejak awal menjadi RT, ada baiknya kita memahami satu hal: kalau pelayanan kita hanya hidup dari tepuk tangan manusia, kita akan cepat lelah.

Amal Kecil, Nilai Besar

Pelayanan masyarakat sering kali tidak menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Tidak ada pembangunan gedung besar hanya karena seorang RT membantu membuat surat pengantar. Tidak ada penghargaan khusus hanya karena ia datang melayat. Tidak ada medali karena ia berhasil mendamaikan dua tetangga.

Tetapi justru pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang membentuk karakter.

Muhammad Syafii Antonio dalam The Greatest Inspirator & Motivator: Muhammad SAW menekankan bahwa “niat adalah ruh amal, inti dan sendinya; amal itu mengikuti niat dan amal menjadi benar karena niat yang benar.”

Ia juga menjelaskan, “niat yang dilandasi karena mengharap ridha-Nya akan membuat setiap perbuatannya—apapun bentuknya—memiliki nilai lebih di hadapan Tuhan.”

Dengan keyakinan seperti ini, seorang RT tidak perlu terus-menerus menghitung untung-rugi secara materi. Ia memahami bahwa amal memiliki nilai yang tidak selalu dapat dilihat manusia. Allah mengetahui pekerjaan yang mungkin luput dari perhatian warga.

Di dalam Al-Qur’an kita diingatkan bahwa “sesungguhnya manusia hanya memperoleh apa yang diupayakannya.” Maka yang penting adalah memastikan bahwa upaya kita berada di jalan yang baik.

John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menyebut prinsip yang sama dari sisi kepemimpinan: “kepemimpinan berkembang setiap hari, bukan dalam sehari.”

Maxwell juga mengingatkan melalui The Law of Process bahwa “apa yang paling penting adalah apa yang Anda lakukan hari demi hari dalam jangka panjang.”

Maka jangan meremehkan amal kecil. Menyapa warga, membantu mengurus administrasi, mengingatkan dengan cara yang baik, hadir ketika ada warga sakit, atau sekadar memberikan senyum dapat menjadi bagian dari investasi kebaikan.

Sebagaimana pesan yang terdapat dalam sumber, “tersenyumlah ketika bertemu dengan saudara kalian dan itu termasuk sedekah.”

Mungkin kecil bagi kita. Tetapi tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Tetap Amanah, Tetap Punya Rumah

Ada satu ujian yang sering lebih sulit daripada menghadapi warga: tetap berbuat baik ketika tidak ada yang melihat.

Ketika ada warga yang selalu memuji, kita mungkin mudah membantu. Tetapi bagaimana kalau orang yang sama justru sering mengkritik? Apakah pelayanan kita berubah?

Disinilah integritas diuji.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People berbicara tentang Etika Karakter, dengan integritas sebagai salah satu fondasinya. Ia mengatakan, “integritas dalam realitas yang saling bergantung hanyalah ini: Anda memperlakukan semua orang dengan seperangkat prinsip yang sama.”

Artinya, jangan membedakan pelayanan berdasarkan siapa yang paling dekat dengan kita, siapa yang paling sering memuji, atau siapa yang paling besar kontribusinya. Warga yang kritis tetap warga kita. Warga yang pendiam tetap memiliki hak pelayanan yang sama.

Covey juga mengatakan, “kemampuan untuk menundukkan perasaan pada nilai adalah inti dari orang yang proaktif.”

Ini bukan perkara mudah. Tetapi justru di situlah kualitas seorang pemimpin terlihat.

John Adair dalam Kepemimpinan Muhammad mengutip prinsip yang sangat kuat: “Dalam perjalanan, pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum itu.”

Pelayanan bahkan menuntut pemimpin bersedia “menanggung segala hal yang berat: kekurangan, penderitaan, kerja berat, dan kepenatan” bersama orang-orang yang dipimpinnya.

Dari pelayanan yang konsisten itulah muncul sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh surat keputusan: “wewenang moral.” Warga akhirnya mengikuti bukan semata-mata karena kita adalah Ketua RT, tetapi karena mereka melihat kesungguhan dan integritas kita.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Menjadi RT bukan berarti keluarga harus menjadi korban.

Stephen R. Covey mengingatkan, “tidak ada kesuksesan yang dapat menggantikan kegagalan di rumah.”

Kalimat ini perlu ditempel di meja kerja seorang RT. Jangan sampai terlalu sibuk mengurus warga sampai anak sendiri jarang diajak bicara. Jangan sampai terlalu sering menghadiri rapat lingkungan sampai keluarga merasa tidak mendapatkan perhatian.

Pelayanan kepada masyarakat seharusnya membawa keberkahan kepada keluarga, bukan menjadi sumber masalah baru. Karena itu, “sukses di rumah dulu” juga merupakan bagian dari kepemimpinan.

Pada akhirnya, menjadi RT adalah latihan untuk tidak terlalu sibuk menghitung apa yang kita terima. Ada pekerjaan yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Ada kebaikan yang mungkin tidak dibalas dengan ucapan terima kasih. Ada kelelahan yang hanya kita dan keluarga yang tahu.

Tetapi seorang Muslim percaya bahwa tidak semua kebaikan harus diketahui manusia.

Inilah semangat zuhud: “terbebasnya hati dari belenggu dunia.” Bukan berarti kita meninggalkan dunia, tetapi hati kita tidak diperbudak oleh penilaian manusia.

Karena itu, “seseorang yang melakukan perbuatan yang tampak sangat sederhana, tapi bernilai amat besar karena niat dari sang pelaku” sesungguhnya sedang belajar tentang keberkahan kepemimpinan.

Maka, kalau suatu hari kita membantu warga dan tidak ada yang berterima kasih, jangan buru-buru kecewa. Kalau kerja keras kita tidak dipuji, jangan langsung merasa sia-sia. Bisa jadi manusia lupa. Tetapi Allah tidak lupa.

Dan mungkin itulah cara paling sehat menjadi RT: tangan tetap terbuka untuk melayani, tetapi hati tidak bergantung kepada tepuk tangan manusia. (im)

Referensi

  1. Matthieu Ricard. Altruism: The Power of Compassion to Change Yourself and the World.
  2. Muhammad Syafii Antonio. The Greatest Inspirator & Motivator: Muhammad SAW.
  3. John Adair. Kepemimpinan Muhammad.
  4. Stephen R. Covey. The 7 Habits of Highly Effective People.
  5. John C. Maxwell. The 21 Irrefutable Laws of Leadership.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.