Tips #3 Nikmati Kebersamaan dengan Warga

by -1623 Views

Menjadi Ketua RT berarti setiap hari bertemu dengan “etalase” karakter manusia yang lengkap. Ada warga yang sangat aktif dan selalu hadir dalam kegiatan. Ada yang kritis dan senang bertanya. Ada yang pendiam. Ada yang banyak bicara. Ada yang rajin kerja bakti. Ada juga yang baru muncul ketika membutuhkan tanda tangan Ketua RT.

Kalau semua warga memiliki karakter yang sama, mungkin pekerjaan RT akan lebih mudah. Tetapi mungkin juga menjadi membosankan. Justru keberagaman itulah yang membuat kehidupan bertetangga menarik. Seorang RT tidak mungkin mengubah semua warga menjadi seperti dirinya. Yang bisa dilakukan adalah memahami perbedaan tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan bersama.

Robert D. Putnam dalam Bowling Alone menjelaskan bahwa “modal sosial merujuk pada koneksi di antara individu—jaringan sosial serta norma-norma timbal balik dan rasa saling percaya yang muncul darinya.”

Dengan demikian, tugas RT bukan sekadar memastikan orang-orang yang tinggal di satu wilayah tercatat secara administratif. Tugas yang lebih penting adalah membantu sekumpulan tetangga berubah menjadi komunitas.

Kenali Orangnya Sebelum Mengajak Kerja Sama

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam memimpin lingkungan adalah terlalu cepat meminta bantuan sebelum membangun hubungan.

Kita datang ketika membutuhkan iuran. Kita mengirim pesan ketika ada kerja bakti. Kita mencari warga ketika ada kegiatan. Setelah urusan selesai, kita kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kalau pola seperti ini terus berlangsung, jangan heran kalau warga merasa RT hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.

Padahal, sebelum meminta orang bekerja sama, kita perlu mengenalnya.

Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People memberikan prinsip yang sangat kuat: “Anda dapat memperoleh lebih banyak teman dalam dua bulan dengan menjadi benar-benar tertarik pada orang lain daripada yang dapat Anda peroleh dalam dua tahun dengan mencoba membuat orang lain tertarik pada Anda.”

Prinsip ini sederhana, tetapi sering dilupakan. Ketika bertemu warga, jangan hanya memikirkan apa yang ingin kita sampaikan. Tanyakan juga bagaimana keadaan mereka. Kenali pekerjaannya. Kenali keluarganya. Ketahui siapa yang memiliki kemampuan memperbaiki listrik, siapa yang pandai mengorganisasi kegiatan, siapa yang punya pengalaman administrasi, dan siapa yang mungkin memiliki jaringan yang dapat membantu lingkungan.

Jangan mengharapkan semua warga seperti diri kita. Ada orang yang senang tampil di depan. Ada yang lebih nyaman bekerja di belakang layar. Ada yang cepat mengambil keputusan. Ada yang perlu waktu untuk berpikir.

Bahkan mendekati warga yang berbeda dengan kita kadang membuat tidak nyaman. Ann E. Feldman dalam Building Communities of Trust mengingatkan bahwa “menjelajah keluar dari zona nyaman kita memang terasa canggung dan menakutkan, tetapi sebelum kita dapat melakukan pekerjaan yang autentik dengan siapa pun yang berbeda dari kita, kita perlu menghadapi ketakutan kita sendiri.”

Maka, jangan buru-buru memberi label kepada warga sebagai “sulit”. Bisa jadi kita saja yang belum menemukan cara berkomunikasi yang tepat.

Bangun Kedekatan Sebelum Membutuhkan Bantuan

Hubungan sosial tidak bisa dibangun secara instan. Ia seperti menabung. Sedikit demi sedikit, tetapi hasilnya terasa ketika dibutuhkan.

Robert Putnam menjelaskan konsep generalized reciprocity atau timbal balik umum sebagai “Aku akan melakukan ini untukmu sekarang, tanpa mengharapkan imbalan segera dan mungkin tanpa mengenalmu, karena percaya bahwa di masa depan Anda atau orang lain akan membalas budi tersebut.”

Dalam kehidupan RT, bentuknya tidak harus rumit. Menyapa tetangga ketika bertemu di jalan adalah investasi hubungan. Duduk sebentar di pos ronda adalah investasi hubungan. Datang ketika ada warga sakit adalah investasi hubungan. Menghadiri undangan warga juga merupakan investasi hubungan.

Semua itu mungkin terlihat seperti kegiatan biasa. Tetapi dari sanalah kepercayaan tumbuh.

Dale Carnegie menekankan bahwa “rahasia kesuksesan terletak pada kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang itu sebaik sudut pandang Anda sendiri.”

Ketika kita memahami cara pandang warga, kita akan lebih mudah memahami mengapa seseorang tidak datang kerja bakti. Mungkin ia bekerja pada hari itu. Mungkin sedang menjaga anak. Mungkin ada persoalan keluarga. Tentu bukan berarti semua alasan harus diterima begitu saja. Tetapi memahami lebih dahulu membuat kita lebih bijak dalam mengambil sikap.

Karena itu, pos ronda seharusnya tidak hanya menjadi tempat menjaga keamanan. Ia dapat menjadi ruang sosial. Begitu pula pengajian, olahraga, kerja bakti, pertemuan warga, atau sekadar ngobrol sore. Semakin sering warga berinteraksi dalam suasana yang sehat, semakin kuat hubungan di antara mereka.

Guyub, Modal Sosial, dan Kekuatan Perbedaan

Kita sering menggunakan kata “guyub” untuk menggambarkan lingkungan yang nyaman. Tetapi guyub bukan sekadar banyak kegiatan bersama. Ada unsur kepercayaan di dalamnya.

Francis Fukuyama dalam Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity mendefinisikan kepercayaan sebagai “harapan yang muncul dalam sebuah komunitas akan perilaku yang teratur, jujur, dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama.”

Kalau warga saling percaya, banyak pekerjaan menjadi lebih ringan. Pengumpulan iuran lebih mudah. Kerja bakti lebih mudah. Menjaga keamanan lebih mudah. Bahkan ketika terjadi persoalan, penyelesaiannya tidak harus selalu melalui perdebatan panjang.

Putnam menambahkan bahwa “rasa saling percaya melumasi kehidupan sosial.”

Bayangkan sebuah lingkungan yang warganya tidak saling percaya. Untuk setiap kegiatan harus ada penjelasan panjang. Untuk setiap pengumpulan uang selalu muncul kecurigaan. Untuk setiap keputusan selalu ada prasangka. Energi yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan persoalan akhirnya habis untuk mengatasi ketidakpercayaan.

Karena itu, kegiatan sederhana seperti berkumpul di pos ronda memiliki nilai yang lebih besar daripada yang terlihat. Fukuyama menyebutnya sebagai “sosiabilitas spontan”, yaitu “kapasitas untuk membentuk asosiasi baru dan bekerja sama dalam kerangka acuan yang telah ditetapkan.”

Namun, lingkungan RT juga tidak selalu homogen. Ada perbedaan usia, pekerjaan, pendidikan, kebiasaan, latar belakang keluarga, dan karakter. Di sinilah kemampuan seorang RT mengelola perbedaan menjadi penting.

Dalam Handbook of Social Capital, dikenal dua bentuk hubungan sosial: “modal sosial pengikat (bonding) yang cenderung memperkuat identitas eksklusif dan kelompok homogen, serta modal sosial jembatan (bridging) yang bersifat terbuka dan mencakup orang-orang dari berbagai latar belakang sosial.”

Keduanya memiliki fungsi. Bonding memperkuat kedekatan kelompok, sedangkan bridging memperluas hubungan.

Tugas RT adalah menjaga agar keduanya berjalan seimbang. Jangan sampai warga hanya bergaul dengan kelompoknya sendiri. Kegiatan lingkungan justru harus menjadi ruang untuk mempertemukan mereka yang berbeda.

Putnam memberikan perumpamaan yang menarik: “Modal sosial pengikat berfungsi sebagai lem sosiologis, sedangkan modal sosial jembatan berfungsi sebagai WD-40 sosiologis.”

Kalau boleh sedikit bercanda, RT memang perlu menjadi “WD-40” itu. Ketika hubungan antarwarga mulai kaku, RT membantu melumasinya. Bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan menciptakan lebih banyak kesempatan untuk bertemu dan saling mengenal.

Pada akhirnya, masyarakat yang hanya tinggal berdekatan belum tentu menjadi komunitas. Komunitas lahir dari interaksi yang konsisten, kepercayaan, dan rasa memiliki.

Ann Feldman mengingatkan, “perubahan mungkin terjadi ketika hati kita terbuka terhadap orang lain… dialog yang jujur terbuka dan kepercayaan pun dimulai. Kepercayaan melahirkan kepercayaan.”

Karena itu, sebelum mengajak warga mengecat trotoar, membersihkan selokan, mengadakan kerja bakti, atau menjalankan program apa pun, kenali dulu siapa mereka.

Ada kalimat yang layak menjadi pegangan seorang RT: “kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang lain dan memahami cara kerja pikiran mereka” akan membantu kita membangun hubungan yang sehat.

Pada akhirnya, warga bukanlah beban administratif. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari tinggal paling dekat dengan kita. Mereka adalah tetangga, tempat kita saling membutuhkan ketika ada kesulitan, dan bagian dari kehidupan lingkungan yang sama.

Mungkin kita tidak selalu sepakat. Mungkin karakter kita berbeda. Tetapi justru di situlah latihan kepemimpinan berlangsung.

Sebab seorang RT yang berhasil bukan hanya mampu membuat program. Ia mampu membuat orang-orang yang berbeda merasa bahwa mereka berada dalam satu rumah sosial yang sama.

Dan ketika rasa itu sudah tumbuh, banyak hal yang sebelumnya terasa berat akan menjadi lebih ringan. Program boleh sederhana, tetapi kalau warganya guyub, dampaknya bisa luar biasa. (im)

Referensi

  1. Robert D. Putnam. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community.
  2. Ann E. Feldman. Building Communities of Trust.
  3. Gert Tinggaard Svendsen & Gunnar Lind Haase Svendsen, eds. Handbook of Social Capital: The Troika of Sociology, Political Science and Economics.
  4. Dale Carnegie. How to Win Friends and Influence People.
  5. Francis Fukuyama. Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.