Tips #7 Hidupkan Gotong Royong

by -1532 Views

Ada satu hal yang menarik dalam kehidupan bertetangga. Kita bisa tinggal berdampingan selama bertahun-tahun, tetapi belum tentu benar-benar saling mengenal. Rumah bersebelahan, pagar hanya beberapa meter, bahkan mungkin setiap pagi bertemu ketika membeli sarapan, tetapi hubungan kita bisa saja sebatas “tetangga sebelah”.

Di sinilah seorang Ketua RT mempunyai peran penting. RT bukan hanya mengurus surat pengantar, iuran, atau persoalan administrasi. RT juga bertugas membantu membangun rasa kebersamaan. Sebab, lingkungan yang baik bukan hanya lingkungan yang jalannya bersih, tetapi juga lingkungan yang warganya saling mengenal, saling percaya, dan bersedia membantu.

Robert D. Putnam dalam Bowling Alone menjelaskan bahwa “modal sosial merujuk pada koneksi di antara individu—jaringan sosial serta norma-norma timbal balik dan rasa saling percaya yang muncul darinya.” Dari sinilah kita bisa memahami bahwa gotong royong sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar kerja bakti.

Jangan Hanya Mengumumkan, Ajaklah Warga

Kita sering mendengar keluhan Ketua RT, “Sekarang warga susah diajak kerja bakti.”

Memang ada benarnya. Kehidupan masyarakat sekarang semakin sibuk. Ada yang bekerja sejak pagi hingga sore, ada yang berdagang, bekerja dari rumah, mengurus anak, atau mempunyai berbagai kesibukan lainnya. Akibatnya, waktu untuk berkumpul bersama semakin sedikit.

Putnam mencatat sebuah tren yang cukup mengkhawatirkan: “selama beberapa dekade terakhir, partisipasi warga dalam proyek komunitas telah menurun tajam… semakin banyak kita melakukan sesuatu sendirian daripada bersama-sama.”

Persoalan lainnya adalah munculnya sikap free-rider. Semua orang senang menikmati lingkungan yang bersih, jalan yang terang, keamanan yang baik, dan fasilitas umum yang terawat. Tetapi ketika tiba waktunya bekerja, sebagian orang berharap orang lain yang melakukannya.

Elinor Ostrom dalam Governing the Commons menjelaskan bahwa “setiap individu akan lebih diuntungkan dengan cara melalaikan tanggung jawabnya, sambil berharap orang lain akan melakukan pekerjaan tersebut untuknya.”

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Menurut saya, jangan hanya mengumumkan. Ajaklah secara personal.

Putnam mencatat bahwa ketika para sukarelawan ditanya mengapa mereka mau terlibat, jawaban yang paling umum adalah: “Seseorang mengajak saya.” Sebaliknya, alasan paling umum orang tidak mendonorkan darah atau ikut kegiatan sosial adalah: “Tidak ada yang mengajak.”

Kalimat sederhana ini mengandung pelajaran besar bagi seorang RT.

Kadang-kadang warga bukan tidak peduli. Mereka hanya menunggu ada yang mengajak. Karena itu, daripada menulis pesan panjang di WhatsApp Group, “Diharapkan seluruh warga hadir dalam kerja bakti pada hari Minggu pukul 07.00,” mungkin lebih efektif jika Ketua RT menyapa beberapa warga secara langsung.

“Pak, Minggu ikut, ya.”

“Bu, nanti ibu bantu koordinasi konsumsi, ya.”

“Anak-anak muda nanti kita buat bagian kebersihan dan olahraga sekalian.”

Pendekatan personal membuat warga merasa dibutuhkan, bukan sekadar diperintah.

Gotong Royong Harus Menyenangkan

Gotong royong juga tidak harus selalu identik dengan mencangkul, membersihkan selokan, atau memotong rumput.

Kalau setiap kali warga berkumpul acaranya hanya kerja bakti, jangan heran kalau suatu saat mereka melihat pengumuman RT lalu pura-pura tidak membaca.

Kita perlu membuat kegiatan yang menyenangkan. Ada olahraga, makan bersama, kegiatan pemuda, pengajian, kegiatan anak-anak, arisan, ronda, atau kegiatan sosial lainnya.

Francis Fukuyama dalam Trust menyebutnya sebagai sosiabilitas spontan, yaitu “kapasitas untuk membentuk asosiasi baru dan bekerja sama dalam kerangka acuan yang telah ditetapkan.”

Dalam kegiatan seperti itu, warga bukan hanya menyelesaikan pekerjaan. Mereka sedang membangun hubungan.

Ada bapak-bapak yang awalnya tidak saling kenal akhirnya menjadi teman. Ada anak muda yang selama ini sibuk dengan telepon genggam mulai mengenal tetangganya. Ada ibu-ibu yang menemukan bahwa tetangganya ternyata mempunyai keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lingkungan.

Di sinilah kita mengenal konsep bonding dan bridging.

Bonding memperkuat hubungan di dalam kelompok yang sudah dekat. Putnam menyebutnya sebagai “lem sosiologis.” Sementara bridging menghubungkan orang-orang dari latar belakang berbeda. Putnam menyebutnya sebagai “WD-40 sosiologis.”

Kalau boleh saya sederhanakan: bonding membuat kita semakin akrab dengan orang yang sudah kita kenal, sementara bridging membantu kita mengenal orang yang sebelumnya belum terlalu dekat.

Keduanya diperlukan dalam kehidupan RT.

Dari Gotong Royong Menuju Rasa Memiliki

Ada manfaat gotong royong yang sering tidak kita sadari. Kegiatan bersama sebenarnya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kepercayaan.

Stephen M.R. Covey dalam The Speed of Trust mengatakan bahwa “kepercayaan bertindak seperti pelumas dalam kehidupan sosial; ia membuat segala sesuatu berjalan lebih cepat dengan biaya yang lebih murah.”

Ketika warga sudah saling percaya, Ketua RT tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk mengajak mereka melakukan sesuatu. Koordinasi menjadi lebih mudah.

Putnam juga menjelaskan bahwa “masyarakat yang dicirikan oleh timbal balik umum lebih efisien daripada masyarakat yang penuh rasa tidak percaya… kita tidak perlu menghitung setiap pertukaran bantuan secara instan karena kita percaya orang lain akan membalas budi di masa depan.”

Lebih jauh lagi, gotong royong akan melahirkan sense of belonging, atau rasa memiliki terhadap lingkungan.

Elinor Ostrom mengingatkan bahwa “lembaga yang sukses adalah lembaga yang memungkinkan individu untuk mencapai hasil produktif dalam situasi di mana godaan untuk menjadi penumpang gratis selalu ada.”

Karena itu, libatkan warga dalam menentukan kegiatan. Jangan semua keputusan dibuat oleh Ketua RT dan beberapa pengurus saja. Semakin banyak warga merasa ikut memiliki prosesnya, semakin besar kemungkinan mereka menjaga hasilnya.

Fukuyama menegaskan bahwa “komunitas yang didasarkan pada nilai-nilai etika bersama tidak memerlukan kontrak panjang atau peraturan hukum yang rumit karena konsensus moral memberikan anggota kelompok dasar untuk saling percaya.”

Pada akhirnya, tugas Ketua RT bukan membuat semua warga menjadi sama. Justru sebaliknya, tugasnya adalah mengelola perbedaan agar menjadi kekuatan.

Warga yang merasa memiliki lingkungan akan lebih mudah diajak menjaganya.

Maka, jangan ukur keberhasilan gotong royong hanya dari berapa meter selokan yang berhasil dibersihkan. Ukurlah juga dari berapa banyak warga yang sekarang saling mengenal, saling menyapa, dan bersedia membantu ketika tetangganya membutuhkan.

Sebab ketika tetangga sudah berubah menjadi komunitas, pekerjaan Ketua RT menjadi jauh lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena sekarang ada banyak tangan yang bersedia ikut menyelesaikannya. (im)

Referensi

  1. Putnam, Robert D. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. 2000.
  2. Ostrom, Elinor. Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. 1990.
  3. Fukuyama, Francis. Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. 1995.
  4. Covey, Stephen M. R. The Speed of Trust: The One Thing That Changes Everything. 2006.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.