Kalau dua orang tetangga sedang bertengkar, biasanya Ketua RT akan menjadi salah satu orang pertama yang dicari. Kadang-kadang baru membuka pintu rumah sudah mendengar, “Pak RT, ini bagaimana?” Padahal kita sendiri belum tahu masalahnya apa.
Di lingkungan RT, konflik memang hampir tidak mungkin dihindari. Ada yang bertengkar karena parkir, suara musik, air hujan yang mengalir ke halaman tetangga, dahan pohon yang melewati pagar, hewan peliharaan, anak-anak yang bermain, bahkan persoalan batas tanah. Bisanya, persoalan awalnya seringkali kecil. Tetapi kalau tidak segera dikelola, persoalan kecil bisa berubah menjadi permusuhan bertahun-tahun.
Disinilah Ketua RT perlu memahami satu hal: tugasnya bukan menjadi hakim yang sibuk menentukan siapa yang paling salah. Tugas utamanya adalah membantu warga menemukan jalan keluar.
Jangan Terburu-buru Menentukan Siapa yang Salah
Konflik biasanya menjadi rumit karena masing-masing pihak datang membawa versinya sendiri. Bagi Pak A, tentu Pak B yang salah. Bagi Pak B, justru Pak A yang memulai. Kalau Ketua RT langsung percaya kepada orang pertama yang datang mengadu, persoalan bisa menjadi lebih besar.
Karena itu, prinsip pertama adalah tabayyun: cari tahu terlebih dahulu.
Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People memberikan prinsip komunikasi yang sangat penting: “Berusahalah untuk memahami terlebih dahulu, kemudian untuk dipahami. Prinsip ini merupakan kunci komunikasi interpersonal yang efektif.”
Mendengar dalam konteks ini bukan sekadar diam sampai orang lain selesai berbicara. Kita perlu berusaha memahami bagaimana orang tersebut melihat masalahnya. Covey menjelaskan bahwa mendengarkan secara empatik berarti “masuk ke dalam kerangka acuan orang lain. Anda melihat melaluinya, Anda melihat dunia dengan cara mereka melihat dunia, Anda memahami paradigma mereka, Anda memahami bagaimana perasaan mereka.”
Kadang-kadang setelah seseorang selesai bercerita, masalahnya sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Yang membuatnya besar adalah perasaan tidak dihargai, tersinggung, atau merasa diperlakukan tidak adil.
Karena itu, jangan langsung memberikan vonis.
Dengarkan pihak pertama. Setelah itu dengarkan pihak kedua. Kalau diperlukan, lihat fakta di lapangan. Baru kemudian ajak keduanya mencari jalan keluar.
Seorang RT tidak perlu menjadi detektif. Tetapi ia juga tidak boleh menjadi penyebar cerita dari satu rumah ke rumah lainnya.
Pisahkan Masalah dari Orangnya
Dalam menyelesaikan konflik, kita sering menemukan satu persoalan: warga sudah tidak lagi membicarakan masalah. Mereka mulai menyerang pribadi.
“Memang dari dulu dia begitu.”
“Orangnya memang susah diatur.”
“Jangan percaya sama dia.”
Kalimat-kalimat seperti ini justru membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.
Marshall B. Rosenberg dalam Nonviolent Communication mengajarkan pentingnya melakukan observasi tanpa penilaian. Ia mengatakan: “Triknya adalah mampu mengartikulasikan pengamatan ini tanpa memasukkan penilaian atau evaluasi apa pun—hanya mengatakan apa yang dilakukan orang yang kita sukai atau tidak sukai.”
Sederhananya, jangan mengatakan, “Pak B memang tidak punya etika.”
Lebih baik mengatakan, “Kemarin kendaraan Bapak diparkir di posisi yang membuat kendaraan Pak A sulit keluar.”
Yang pertama menyerang karakter. Yang kedua menjelaskan fakta.
Perbedaan ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat penting.
Roger Fisher dan William Ury dalam Getting to Yes menjelaskan bahwa “masalah mendasar dalam sebuah negosiasi tidak terletak pada posisi yang saling bertentangan, melainkan pada konflik antara kebutuhan, keinginan, kekhawatiran, dan ketakutan masing-masing pihak.”
Misalnya, konflik parkir.
Posisinya mungkin sederhana:
“Saya berhak parkir di depan rumah saya.”
“Saya juga berhak lewat jalan ini.”
Kalau masing-masing mempertahankan posisi, konflik bisa panjang.
Tetapi kalau kita mencari kepentingannya, mungkin kebutuhan Pak A adalah memastikan kendaraannya bisa keluar pagi hari. Sementara kebutuhan Pak B adalah mendapatkan tempat parkir yang aman dekat rumah.
Nah, sekarang masalahnya lebih mudah dibicarakan.
Bisa dicari waktu parkir yang disepakati. Bisa dibuat area parkir tertentu. Bisa juga dibuat aturan sederhana yang disepakati bersama.
Jadi, jangan sibuk mencari siapa yang menang. Cari solusi yang membuat masalah berhenti.
Dalam proses itu, satu hal yang juga harus dijaga adalah harga diri warga. Jangan mempermalukan orang di depan tetangganya.
Fisher dan Ury mengingatkan bahwa “penyelamatan muka melibatkan rekonsiliasi antara kesepakatan dengan prinsip dan dengan citra diri para negosiator; pentingnya hal ini tidak boleh diremehkan.”
Orang yang merasa dipermalukan biasanya akan lebih sulit menerima kesepakatan, bahkan ketika secara objektif kesepakatan itu sebenarnya masuk akal.
Musyawarah untuk Mencari Jalan Keluar
Ketua RT juga perlu belajar mengendalikan dirinya sendiri. Jangan sampai karena ingin menyelesaikan konflik, malah ikut marah.
Muhammad Syafii Antonio dalam The Greatest Inspirator & Motivator mengutip teladan Rasulullah saw.: “orang yang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, namun orang yang kuat itu yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
Ada kalanya Ketua RT mendengar cerita yang membuat kesal. Tetapi jangan sampai “mulut seseorang bertindak lebih cepat daripada pikirannya.”
Dalam konflik, emosi satu orang mudah menular kepada orang lain. Fisher dan Ury menjelaskan bahwa “perasaan mungkin lebih penting daripada pembicaraan… emosi pada satu sisi akan membangkitkan emosi pada sisi lainnya; ketakutan dapat melahirkan kemarahan, dan kemarahan melahirkan ketakutan.”
Karena itu, jangan mempertemukan dua warga ketika keduanya masih dalam kondisi sangat emosional. Beri waktu untuk tenang. Bila perlu, berbicara terlebih dahulu secara terpisah.
Setelah suasana lebih kondusif, barulah musyawarah dilakukan.
Prinsipnya sederhana: berhenti berdebat tentang posisi dan mulai berbicara tentang kepentingan.
Fisher dan Ury menganjurkan agar para pihak “menciptakan pilihan-pilihan untuk keuntungan bersama.”
Ini sejalan dengan prinsip Win/Win Stephen R. Covey. Ia menjelaskan bahwa Win/Win merupakan “kerangka pikiran dan hati yang senantiasa mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia… Menang/Menang melihat kehidupan sebagai suatu kerja sama, bukan arena persaingan.”
Dalam kehidupan RT, Win/Win bukan berarti semua orang mendapatkan semua yang diinginkan. Itu hampir mustahil.
Win/Win berarti semua pihak mendapatkan solusi yang cukup adil sehingga mereka bersedia hidup berdampingan setelah persoalan selesai.
Kalau sudah ada kesepakatan, jangan ragu mendokumentasikannya, terutama untuk persoalan yang berpotensi muncul kembali. Notulensi sederhana atau kesepakatan tertulis bisa menjadi pegangan bersama.
Namun, seorang RT juga harus tahu batas kemampuannya.
Tidak semua konflik bisa diselesaikan di tingkat RT. Jika persoalan sudah menyangkut tindak pidana, sengketa hukum serius, kekerasan, atau masalah yang berada di luar kewenangan RT, jangan memaksakan diri menjadi “hakim kampung”. Libatkan RW, kelurahan, Bhabinkamtibmas, atau pihak berwenang sesuai persoalannya.
Dalam negosiasi, kita mengenal istilah BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement), yaitu alternatif terbaik apabila kesepakatan tidak tercapai. Prinsip ini mengingatkan kita bahwa musyawarah bukan berarti memaksakan semua masalah harus selesai di meja RT.
Ada saatnya kita perlu mengatakan, “Persoalan ini sudah di luar kewenangan kami. Mari kita teruskan kepada pihak yang lebih tepat.”
Itu bukan kegagalan.
Justru itu tanda bahwa Ketua RT memahami batas kewenangannya.
Pada akhirnya, menjadi penengah bukan berarti harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Kadang-kadang justru kita hanya perlu menjadi orang yang paling tenang, mau mendengar kedua pihak, dan membantu mereka melihat persoalan dengan lebih jernih.
Pegang prinsip sederhana: “keras terhadap masalah, namun lembut terhadap manusianya.”
Sebab tujuan menyelesaikan konflik bukan membuat satu pihak menang, tetapi “membuat masalah berhenti.”
Kalau setelah musyawarah dua tetangga yang tadinya saling bermusuhan akhirnya kembali bisa saling menyapa, mungkin tidak ada tepuk tangan. Tidak ada piagam penghargaan. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu bahwa Ketua RT ikut membantu.
Tetapi bukankah memang demikian sebagian besar pekerjaan seorang RT?
Tidak semua kebaikan harus terlihat.
Sebagai Ketua RT, yang penting lingkungan menjadi lebih damai, warga bisa kembali hidup berdampingan, dan hubungan yang sempat retak mulai tersambung kembali. Di situlah seorang RT bukan sekadar menyelesaikan konflik, tetapi sedang membangun modal sosial dalam bentuk aturan kerja yang efektif dan kepercayaan yang akan berguna untuk menghadapi persoalan-persoalan berikutnya. (im)
Referensi
- Rosenberg, Marshall B. Nonviolent Communication: A Language of Life. 2003.
- Fisher, Roger & William Ury. Getting to Yes: Negotiating Agreement Without Giving In. 1981.
- Covey, Stephen R. The 7 Habits of Highly Effective People. 1989.
- Antonio, Muhammad Syafii. The Greatest Inspirator & Motivator: Muhammad SAW.







