Menjadi Ketua RT bukan berarti menjadi superman kampung.
Ada kalanya warga datang membawa persoalan keamanan. Besoknya ada urusan administrasi. Lusa ada warga sakit yang membutuhkan bantuan.
Belum selesai satu masalah, sudah muncul persoalan lain: jalan rusak, saluran air mampet, pendatang baru, kegiatan pemuda, sampai urusan sosial yang kadang sulit dijelaskan dengan satu kalimat.
Kalau semua ingin dikerjakan sendiri, Ketua RT bisa cepat lelah.
Karena itu, salah satu kemampuan penting seorang Ketua RT bukan hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu menghubungkan orang dan sumber daya.
RT membutuhkan RW. Membutuhkan kelurahan. Membutuhkan tokoh agama, tokoh masyarakat, Karang Taruna, Babinsa, Bhabinkamtibmas, fasilitas kesehatan, bahkan warga biasa yang memiliki kemampuan tertentu.
Robert D. Putnam dalam Bowling Alone memberikan peringatan mendasar bahwa “individu tidak berdaya secara sosial jika dibiarkan sendiri… namun jika ia berhubungan dengan tetangganya, dan mereka dengan tetangga lainnya, maka akan terjadi akumulasi modal sosial yang dapat meningkatkan kondisi kehidupan di seluruh komunitas”.
Inilah inti bab ini: RT tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. RT harus tahu siapa yang bisa diajak bekerja sama.
Dan tentu saja, networking yang dimaksud di sini bukan networking untuk mencari proyek pribadi, mencari keuntungan, atau sekadar mengumpulkan nomor telepon pejabat.
Networking seorang RT adalah networking pelayanan.
Sederhananya: “Hubungan yang baik bukan untuk mencari akses, tetapi mempercepat solusi.”
RT sebagai Penghubung: Kekuatan Modal Sosial Bridging
RT sebenarnya berada pada posisi yang menarik.
Disatu sisi, RT sangat dekat dengan warga. Ia tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang membutuhkan bantuan administrasi, siapa yang rumahnya kebanjiran, atau siapa yang sedang menghadapi persoalan sosial.
Disisi lain, RT juga memiliki jalur hubungan dengan struktur di atasnya: RW, kelurahan, kecamatan, hingga berbagai unsur pelayanan masyarakat.
Karena itu, RT dapat berfungsi sebagai jembatan.
Dalam teori modal sosial, hubungan semacam ini dikenal sebagai bridging social capital. Putnam menjelaskan bahwa “jaringan penghubung (bridging networks) … lebih baik untuk keterkaitan dengan aset eksternal dan untuk penyebaran informasi”.
Bahasa sederhananya begini: jangan sampai warga memiliki masalah, tetapi tidak tahu harus mengetuk pintu yang mana.
RT membantu menunjukkan pintu tersebut.
Misalnya, warga mengalami persoalan administrasi kependudukan. RT tidak harus memahami seluruh detail sistem administrasi pemerintahan. Bagi RT, yang penting, ia tahu kemana warga harus diarahkan.
Ada warga membutuhkan bantuan kesehatan. RT tidak harus berubah menjadi dokter. Ia membantu menghubungkan warga dengan fasilitas kesehatan atau pihak yang tepat.
Ada persoalan keamanan lingkungan. RT tidak perlu berlagak sebagai aparat keamanan. Ia membangun komunikasi dengan unsur yang memang memiliki kewenangan.
Inilah fungsi bridging.
Francis Fukuyama dalam Trust memperkuat gagasan tersebut dengan menyatakan bahwa modal sosial adalah “kemampuan orang untuk bekerja sama demi tujuan bersama dalam kelompok dan organisasi”.
Jadi, semakin luas jaringan kerja sama yang sehat, semakin banyak pula sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan warga.
RT yang hebat bukan RT yang tahu dan bisa melakukan semuanya. RT yang hebat adalah RT yang tahu siapa yang harus diajak ketika sesuatu tidak bisa diselesaikan sendirian.
Sinergi dengan Tokoh dan Aparat: Jangan Merasa Paling Bisa
Dalam kehidupan lingkungan, ada banyak persoalan yang tidak cukup diselesaikan dengan rapat RT.
Ada persoalan keamanan. Ada persoalan sosial. Ada persoalan keagamaan. Ada persoalan pemuda. Ada persoalan kesehatan. Masing-masing membutuhkan orang dengan kemampuan dan kewenangan yang berbeda.
Karena itu, Ketua RT perlu membangun hubungan yang baik dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, Karang Taruna, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta unsur pemerintahan.
Bukan berarti RT harus bergantung kepada mereka. Justru sebaliknya, RT sedang menggabungkan kekuatan.
John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menyarankan para pemimpin untuk “melatih diri berpikir dalam konteks memobilisasi orang dan memanfaatkan sumber daya… bayangkan bagaimana Anda dapat menyelesaikan proyek tanpa melakukan semua pekerjaan itu sendiri kecuali dengan merekrut, memberdayakan, dan memotivasi orang lain”.
Ini pelajaran penting bagi seorang Ketua RT.
Kalau ada kegiatan lingkungan, jangan semuanya dikerjakan Ketua RT. Kalau ada kegiatan pemuda, beri ruang kepada anak-anak muda. Kalau ada kegiatan keagamaan, libatkan tokoh agama. Kalau ada persoalan keamanan, koordinasikan dengan unsur yang memiliki kewenangan. Kalau ada persoalan administrasi pemerintahan, komunikasikan dengan RW atau kelurahan.
Ketua RT bukan pemain tunggal. Ia lebih mirip dirigen sebuah orkestra. Dirigen tidak memainkan semua alat musik. Ia memastikan semua pemain memainkan perannya dengan baik.
Di sinilah konsep sinergi menjadi penting.
Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan bahwa “keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya… hubungan yang dimiliki bagian-bagian itu satu sama lain adalah bagian yang paling katalis dan memberdayakan”.
Bahkan, Covey menggunakan ilustrasi yang sangat menarik: hasil sinergi bisa menjadi “8, 16, atau bahkan 1.600”. Artinya, ketika kekuatan yang berbeda disatukan dengan baik, hasilnya bisa jauh lebih besar daripada jika semuanya berjalan sendiri-sendiri.
Maka, Ketua RT tidak perlu malu mengatakan: “Untuk masalah ini, kita perlu bantuan pihak lain.”
Justru itu tanda bahwa ia memahami batas dirinya.
Bangun Hubungan Sebelum Krisis Terjadi
Ada satu kebiasaan yang sering terjadi dalam kehidupan sosial. Saat semuanya baik-baik saja, kita jarang menyapa. Begitu ada masalah, baru mencari nomor telepon.
Saat tidak membutuhkan bantuan, tidak pernah datang ke kelurahan. Begitu ada urusan mendesak, tiba-tiba ingin semuanya cepat.
Ini bukan cara membangun jaringan yang sehat. Hubungan yang baik seharusnya dibangun sebelum kita membutuhkannya.
Stephen R. Covey memperkenalkan konsep “Rekening Bank Emosional”, yaitu kepercayaan yang dibangun melalui berbagai interaksi positif. Ia menjelaskan bahwa “ketika akun kepercayaan tinggi, komunikasi menjadi mudah, instan, dan efektif”.
Konsep ini sangat relevan bagi Ketua RT.
Menyapa petugas kelurahan ketika kebetulan bertemu bukanlah hal yang sia-sia. Berkomunikasi dengan Babinsa atau Bhabinkamtibmas tanpa selalu membawa masalah juga bukan sesuatu yang tidak perlu. Mengunjungi tokoh masyarakat bukan hanya ketika meminta bantuan. Mengajak Karang Taruna berdiskusi bukan hanya ketika membutuhkan tenaga untuk sebuah kegiatan.
Hubungan seperti itu adalah investasi sosial.
Putnam mencatat bahwa “interaksi yang sering di antara beragam orang cenderung menghasilkan norma timbal balik umum”. Artinya, semakin sering orang berinteraksi dalam suasana yang baik, semakin mudah pula tumbuh rasa saling percaya.
Nanti ketika terjadi persoalan yang membutuhkan koordinasi cepat, hubungan itu sudah tersedia. Tidak perlu mulai dari nol.
Ada satu prinsip sederhana: Jangan baru mencari teman ketika sedang membutuhkan pertolongan.
Bangunlah hubungan ketika suasana sedang baik.
Jangan Berjalan Sendirian
Ketua RT yang merasa harus mengurus semuanya sendiri biasanya akan cepat lelah. Sebaliknya, Ketua RT yang mampu membangun jaringan akan memiliki banyak tangan untuk membantu, banyak telinga untuk mendengar, dan banyak pintu untuk mencari solusi.
Tentu saja, membangun jaringan bukan berarti mencari sebanyak-banyaknya kenalan.
Hal yang harus digarisbawahi, yang dibangun adalah kepercayaan. Kenal tanpa percaya belum cukup. Punya nomor telepon pejabat belum tentu menjadi jaringan. Mengikuti banyak grup WhatsApp juga bukan otomatis berarti memiliki jejaring.
Jaringan yang sebenarnya adalah hubungan yang memungkinkan orang berkomunikasi, bekerja sama, dan saling membantu secara sehat.
Karena itu, jangan berjalan sendirian. Bangun hubungan dengan RW. Jaga komunikasi dengan kelurahan. Kenali Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Hormati tokoh agama dan tokoh masyarakat. Libatkan Karang Taruna. Beri ruang kepada warga yang memiliki keahlian.
Jangan lupa: bangun hubungan itu sebelum masalah datang.
Pada akhirnya, prinsip Covey sangat tepat: “saling ketergantungan adalah nilai yang lebih tinggi daripada kemerdekaan”.
Seorang Ketua RT memang harus mandiri dalam sikap, tetapi tidak harus bekerja sendirian dalam menyelesaikan persoalan. Karena masyarakat memang tidak dibangun oleh satu orang. Masyarakat dibangun oleh orang-orang yang mau saling terhubung dan bekerja sama.
Maka, simpan baik-baik satu kalimat sederhana ini: “Hubungan yang baik bukan untuk mencari akses, tetapi mempercepat solusi.”
RT yang sukses bukanlah RT yang paling banyak kenalan karena ingin terlihat hebat. RT yang sukses adalah RT yang ketika warga datang membawa masalah, ia bisa berkata: “Baik, kita cari jalan keluarnya. Saya tahu siapa yang bisa kita ajak bekerja sama.”
Dari situlah pelayanan menjadi lebih cepat, hubungan menjadi lebih kuat, serta lingkungan menjadi lebih siap menghadapi persoalan apa pun. (im)







