Tips #10 Kaderisasi Lingkungan

by -1514 Views

Ada satu ukuran keberhasilan Ketua RT yang sering terlupakan. Bukan berapa banyak surat yang berhasil dibuat. Bukan berapa banyak kerja bakti yang berhasil dilaksanakan. Bukan pula berapa banyak warga yang mengenal namanya.

Ukuran yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah ia tidak lagi menjadi Ketua RT?

Kalau setelah masa jabatan selesai semua pekerjaan berhenti karena tidak ada yang mampu melanjutkan, mungkin selama ini kita bukan sedang membangun sistem. Kita sedang membangun ketergantungan kepada satu orang.

Inilah ironi yang sering terjadi di lingkungan.

Seorang Ketua RT dianggap hebat karena bisa mengurus semuanya sendiri. Rapat dia yang memimpin. Surat dia yang buat. Kegiatan dia yang mengatur. Kalau ada masalah, warga mencari dia. Kalau ada kegiatan, dia lagi.

Sampai akhirnya muncul kalimat: “Kalau bukan Pak RT, siapa lagi?”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Padahal, kalau terlalu lama dibiarkan, itu bisa menjadi tanda bahaya.

John C. Maxwell dalam The 21 Irrefutable Laws of Leadership menegaskan melalui Hukum Warisan bahwa “nilai abadi seorang pemimpin diukur dari suksesi”. Artinya, pemimpin bukan hanya bertugas menyelesaikan pekerjaan hari ini. Ia juga bertugas memastikan ada orang lain yang siap melanjutkan pekerjaan itu besok.

Kaderisasi bukan urusan organisasi besar saja. RT juga membutuhkan kaderisasi.

Bahaya Ketergantungan: Jangan Menjadi “RT Serba Bisa”

Ada Ketua RT yang hampir semuanya dikerjakan sendiri. Bukan karena ia ingin pamer. Kadang memang karena ia merasa: “Kalau saya tidak kerjakan, nanti tidak selesai.”

Awalnya mungkin terasa efektif. Tetapi kalau berlangsung terus-menerus, muncul masalah. Warga menjadi terbiasa bergantung. Anak muda tidak mendapat kesempatan belajar. Warga aktif hanya menjadi penonton. Pengurus lain tidak berkembang. Dan yang paling berbahaya: ketika Ketua RT berhenti, sistem ikut berhenti.

Dalam kepemimpinan, ini bukan pemberdayaan.

Maxwell menjelaskan melalui Hukum Pemberdayaan bahwa “hanya pemimpin yang merasa aman yang bersedia memberikan kekuasaan kepada orang lain”.

Pemimpin yang tidak mau memberikan kesempatan kepada orang lain biasanya memiliki ketakutan tertentu. Takut pekerjaan tidak selesai. Takut hasilnya tidak sebagus pekerjaannya sendiri. Takut orang lain melakukan kesalahan. Atau, yang paling manusiawi, takut kalau nanti dirinya tidak lagi dianggap penting.

Maxwell mengingatkan bahwa “nomor satu musuh pemberdayaan adalah ketakutan kehilangan apa yang kita miliki”.

Padahal, justru di sinilah letak paradoks kepemimpinan: semakin mampu Anda membuat orang lain mampu, semakin tinggi nilai kepemimpinan Anda.

Bahkan ada prinsip yang sangat menarik: “Satu-satunya cara untuk membuat diri Anda sangat berharga adalah dengan membuat diri Anda dapat digantikan.”

Kalimat ini memang terdengar aneh. Tetapi logikanya sederhana. Kalau setelah bertahun-tahun menjadi RT hanya Anda yang bisa melakukan pekerjaan, berarti kemampuan itu belum diwariskan. Sebaliknya, jika banyak warga yang sudah bisa mengambil alih tugas Anda, berarti Anda berhasil membangun kapasitas lingkungan.

Jadi, jangan bangga kalau semua orang berkata: “Kalau Pak RT tidak ada, repot.” Lebih baik suatu hari warga berkata: “Pak RT boleh tidak ada, sistem tetap jalan.”

Itulah keberhasilan.

Cari Warga Potensial, Tidak Harus yang Paling Cerewet

Kaderisasi juga tidak berarti mencari warga yang paling sering tampil. Kadang orang yang paling banyak bicara belum tentu paling siap memimpin.

Sebaliknya, ada warga yang pendiam tetapi bertanggung jawab. Ada anak muda yang tidak banyak komentar di WhatsApp Group, tetapi kalau diberi tugas selalu selesai. Ada ibu-ibu yang kelihatannya biasa saja, tetapi mampu menggerakkan banyak tetangga ketika ada kegiatan sosial. Ada pemuda yang jarang hadir dalam rapat, tetapi punya kemampuan komunikasi yang bagus.

Jadi, Ketua RT perlu memiliki mata untuk melihat potensi.

Maxwell menyarankan agar pemimpin tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk orang yang pasif, tetapi “pemimpin proaktif… mencari 20 persen terbaik—orang-orang dengan potensi kepemimpinan terbesar—dan menginvestasikan waktu mereka untuk mengembangkan mereka”.

Ini bukan berarti 80 persen warga tidak penting. Semua warga tetap penting. Namun, dalam urusan kaderisasi, kita perlu mengenali mereka yang mempunyai potensi untuk menjadi penggerak.

Lihat beberapa indikator sederhana:

  • Apakah ia dapat dipercaya?
  • Apakah ia bertanggung jawab?
  • Apakah ia mau membantu?
  • Apakah ia mampu bekerja sama?
  • Apakah ia punya kepedulian terhadap lingkungan?
  • Apakah ia mampu berkomunikasi?
  • Apakah ia mau belajar?
  • Apakah ia punya pengaruh positif di antara warga?

Maxwell mengingatkan bahwa “ukuran sejati dari kepemimpinan adalah pengaruh—tidak lebih, tidak kurang”.

Maka, jangan hanya mencari orang yang memiliki jabatan. Cari orang yang memiliki pengaruh positif.

Seringkali, orang seperti itu justru sudah ada di sekitar kita.

Delegasi: Jangan Hanya Memberi Tugas, Berikan Kepercayaan

Kaderisasi tidak akan berjalan kalau Ketua RT hanya berkata: “Tolong bantu saya.” Lalu orang tersebut diberi tugas kecil berulang-ulang tanpa pernah diberi kesempatan berkembang.

Kaderisasi membutuhkan delegasi. Tetapi delegasi bukan berarti sekadar membagi pekerjaan agar Ketua RT tidak capek.

Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People membedakan antara delegasi pesuruh dengan delegasi penatalayanan. Ia menjelaskan: “Pendelegasian penatalayanan difokuskan pada hasil daripada metode; ini memberi orang pilihan metode dan membuat mereka bertanggung jawab atas hasil.”

Ini penting.

Misalnya, daripada mengatakan: “Tolong cari lima orang untuk kerja bakti.” Coba berikan tanggung jawab yang lebih utuh: “Kamu koordinasikan kegiatan kerja bakti hari Minggu. Tentukan siapa yang perlu dilibatkan, perlengkapannya apa, dan bagaimana pembagiannya. Nanti kita evaluasi bersama.”

Tugas pertama melatih menjalankan perintah. Tugas kedua melatih memimpin. Itulah perbedaannya.

Covey menegaskan bahwa “kepercayaan adalah bentuk tertinggi dari motivasi manusia; ia mengeluarkan yang terbaik dari orang-orang”.

Karena itu, berikan kepercayaan secara bertahap.

Maxwell juga memberikan aturan praktis: “Jika sesuatu yang saya lakukan dapat dilakukan 80 persen sama baiknya oleh orang lain, saya akan mendelegasikannya.”

Tidak harus sempurna.

Kalau anak muda bisa menyelesaikan sebuah kegiatan 80 persen sebagus yang biasa dilakukan Ketua RT, biarkan dia belajar. Kalau hasilnya belum sempurna, jangan langsung mengambil alih. Bantu memperbaiki. Karena tujuan kaderisasi bukan mencari orang yang langsung sempurna.

Tujuannya adalah membuat orang belajar menjadi lebih baik.

Pemimpin yang Siap Ditinggalkan

Pada akhirnya, kepemimpinan RT adalah sebuah estafet kebaikan.

Kita menerima lingkungan dalam kondisi tertentu. Kita berusaha memperbaikinya selama masa amanah. Lalu suatu hari kita menyerahkan tongkat estafet kepada orang berikutnya.

Jangan sampai ketika tongkat itu diserahkan, kita berkata: “Hati-hati, tidak ada yang bisa mengurus seperti saya.” Kalimat seperti itu bukan warisan. Itu ketergantungan.

Warisan kepemimpinan justru terlihat ketika orang berikutnya mampu melanjutkan bahkan mengembangkan apa yang sudah kita mulai.

Maxwell menegaskan bahwa “sejarah pemimpin diukur dari dampak mereka pada kehidupan orang lain”.

Dan Jackie Robinson memberikan pengingat yang sangat kuat: “Hidup tidak signifikan kecuali untuk dampaknya pada kehidupan lain.”

Maka, jangan ukur keberhasilan Anda dari seberapa lama warga membutuhkan Anda. Ukur dari berapa banyak orang yang menjadi lebih mampu karena pernah bekerja bersama Anda.

Kalau ada anak muda yang dulu hanya menjadi peserta kerja bakti, sekarang mampu memimpin kegiatan, itu keberhasilan. Kalau ada warga yang dulu malu berbicara dalam rapat, sekarang mampu memimpin diskusi, itu keberhasilan. Kalau ada orang yang dulu hanya menunggu instruksi, sekarang mampu mengambil inisiatif, itu keberhasilan.

Dan kalau suatu hari Anda selesai menjadi Ketua RT lalu lingkungan tetap berjalan dengan baik, jangan merasa kehilangan. Justru tersenyumlah. Berarti Anda telah berhasil.

Sebab pada akhirnya: “Pemimpin yang baik bukan yang selalu dibutuhkan, tetapi yang berhasil melahirkan pemimpin berikutnya.”

Ketua RT boleh berganti. Orang boleh berganti. Jabatan boleh berganti. Tetapi kebaikan jangan sampai berhenti. Itulah kaderisasi. Itulah warisan kepemimpinan yang sesungguhnya. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.