Memahami Paradigma Community Development

by -1473 Views

Sebelum berbicara tentang bagaimana membangun masyarakat, ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab terlebih dahulu: bagaimana kita memandang masyarakat itu sendiri?

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana. Namun, dari sinilah sering kali arah sebuah program pemberdayaan ditentukan. 

Jika masyarakat kita lihat terutama dari kekurangannya, maka program yang lahir biasanya berangkat dari kebutuhan, masalah, dan defisit. Masyarakat ditempatkan sebagai pihak yang membutuhkan pertolongan. 

Sebaliknya, jika masyarakat kita lihat dari kapasitas dan aset yang dimilikinya, maka pendekatan yang lahir akan berbeda. Masyarakat dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan, mengambil keputusan, membangun kerja sama, dan menciptakan perubahan.

Bagian I buku ini mengajak kita berhenti sejenak sebelum masuk ke berbagai teknik dan praktik community development. Kita akan membangun terlebih dahulu cara pandang yang menjadi fondasi pemberdayaan masyarakat.

Membongkar Cara Pandang Lama

Bab pertama akan mengajak kita melihat mengapa begitu banyak program pemberdayaan tidak bertahan lama. Tidak sedikit program yang secara administratif terlihat berhasil: anggaran terserap, kegiatan terlaksana, fasilitas dibangun, dan laporan selesai. Tetapi beberapa bulan kemudian, kegiatan berhenti. Fasilitas tidak terurus. Kelompok tidak lagi aktif. Masyarakat kembali menunggu program berikutnya.

Persoalannya tidak selalu terletak pada kurangnya dana atau buruknya teknis pelaksanaan. Bisa jadi persoalannya lebih mendasar: cara kita memandang masyarakat sejak awal memang keliru.

Robert Chambers mengingatkan kita tentang berbagai bias dalam proses pembangunan, termasuk rural development tourism dan survey slavery. Sementara John McKnight dan Jody Kretzmann menunjukkan bahaya ketika komunitas terus-menerus dipetakan berdasarkan kekurangannya melalui needs map atau deficiency inventory. 

Cara pandang seperti ini dapat membuat masyarakat perlahan bergeser dari citizens menjadi clients—dari warga yang memiliki kemampuan menjadi penerima layanan yang menunggu intervensi dari luar.

Karena itu, bab pertama bukan sekadar membahas kegagalan program. Ia mengajak kita bercermin: jangan-jangan sebagian kegagalan pemberdayaan justru dimulai dari cara kita melihat masyarakat.

Dari Defisit Menuju Kapasitas

Bab kedua kemudian mengajak kita membalik lensa tersebut.

Jika selama ini kita bertanya, “Apa yang kurang dari masyarakat ini?”, maka pertanyaan yang lebih produktif adalah, “Apa yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat ini?”

Pertanyaan kedua membuka ruang yang jauh lebih luas. Kita mulai melihat keterampilan warga, pengalaman hidup, kelompok pemuda, kelompok perempuan, tokoh masyarakat, organisasi lokal, jaringan sosial, usaha kecil, lembaga keagamaan, ruang publik, sumber daya alam, hingga berbagai hubungan yang selama ini mungkin tidak pernah dianggap sebagai aset pembangunan.

Inilah semangat asset-based community development: pembangunan yang bertumpu pada aset, berfokus dari dalam (internally focused), dan digerakkan oleh relasi (relationship-driven).

Perubahan cara pandang ini sangat penting karena tujuan community development bukan menciptakan masyarakat yang semakin bergantung pada program. Tujuannya adalah menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk berdiri, mengambil keputusan, dan bergerak dengan kekuatan yang mereka miliki.

Dengan demikian, capacity-focused development bukan berarti mengabaikan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan tetap penting. Tetapi kebutuhan tidak boleh menjadi satu-satunya cara kita mengenali sebuah komunitas.

Melihat Masyarakat sebagai Sistem Hidup

Bab ketiga membawa kita pada cara pandang yang lebih luas: masyarakat sebagai sebuah ekosistem hidup.

Persoalan sosial jarang berdiri sendiri. Kemiskinan berhubungan dengan pendidikan, pendidikan berhubungan dengan kesempatan ekonomi, ekonomi berhubungan dengan jaringan sosial, dan semuanya dapat berhubungan dengan lingkungan serta kualitas kepemimpinan lokal.

Kita membutuhkan systems thinking. Peter Senge mengingatkan bahwa kita perlu memahami hubungan antara struktur dan perilaku—structure influences behavior. 

Donella Meadows membantu kita melihat pentingnya stocks, flows, dan feedback loops. Sementara Fritjof Capra dan Pier Luigi Luisi mengajak kita memahami kehidupan sebagai jaringan relasi yang saling terhubung.

Dengan perspektif ini, komunitas tidak lagi dilihat sebagai kumpulan individu yang berdiri sendiri. Ia adalah sistem sosial yang memiliki hubungan, pola, kebiasaan, energi, konflik, kepercayaan, dan kemampuan self-organization.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa intervensi yang terlalu dangkal dapat menghasilkan compensating feedback: sebuah sistem justru mendorong dirinya kembali menuju kondisi semula. Sebaliknya, perubahan yang menyentuh relasi, kapasitas, dan struktur internal memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Tiga Bab, Satu Cara Pandang

Dengan demikian, tiga bab dalam Bagian I sebenarnya merupakan satu perjalanan pemikiran.

Bab 1 mengajak kita membongkar cara pandang yang keliru.
Bab 2 mengajak kita menemukan kapasitas dan aset yang telah hidup di dalam masyarakat.
Bab 3 mengajak kita melihat hubungan antarelemen tersebut sebagai sebuah sistem.

Urutannya penting. Kita tidak mungkin membangun program pemberdayaan yang baik jika lensanya masih keliru. Kita juga tidak cukup hanya menemukan aset jika belum memahami hubungan antar-aset tersebut dalam sebuah ekosistem sosial.

Pada akhirnya, community development bukan pertama-tama soal membuat program. Ia dimulai dari kemampuan untuk melihat.

Melihat manusia bukan sebagai kekurangan. Melihat komunitas bukan sebagai masalah. Melihat hubungan sosial bukan sebagai latar belakang. Dan melihat perubahan bukan sekadar sebagai proyek yang memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai.

Dari sinilah perjalanan kita dimulai: mengubah cara melihat sebelum mengubah cara bertindak. Sebab ketika cara pandang berubah, pertanyaan kita berubah. Ketika pertanyaan berubah, cara kita bekerja bersama masyarakat pun ikut berubah.

Dan mungkin, disitulah langkah pertama pemberdayaan yang sesungguhnya dimulai. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.