Dari Defisit Menuju Aset

by -1495 Views

Salah satu perubahan paling penting dalam community development bukanlah mengganti jenis program, melainkan mengganti cara kita melihat masyarakat. 

Selama ini, kita sering memulai pekerjaan dengan pertanyaan: apa masalahnya, apa yang kurang, siapa yang miskin, dan bantuan apa yang dibutuhkan? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting, tetapi jika hanya itu yang kita gunakan, kita mudah terjebak dalam deficit thinking. Kita akhirnya melihat masyarakat terutama melalui kekurangannya.

John McKnight dan John Kretzmann, dalam Building Communities from the Inside Out, menunjukkan bagaimana needs map dapat membentuk gambaran negatif tentang sebuah komunitas. 

Nama seperti South Bronx atau South Central Los Angeles dapat segera menghadirkan citra tentang kejahatan, pengangguran, geng, dan ketergantungan bantuan. Ketika needs map dianggap sebagai “seluruh kebenaran”, kebijakan pun menjadi deficiency-oriented. Warga yang semestinya menjadi citizens perlahan berubah menjadi clients, yaitu konsumen jasa yang menunggu solusi dari para ahli luar.

Melihat Gelas yang Setengah Penuh

Disinilah pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) menawarkan perubahan mendasar. ABCD tidak mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat boleh diabaikan. Ia hanya mengingatkan bahwa kebutuhan bukan satu-satunya cerita tentang masyarakat.

Kretzmann dan McKnight merumuskan setidaknya tiga karakter penting ABCD. 

Pertama, asset-based: memulai dari aset dan kapasitas yang sudah ada di dalam komunitas. Kedua, internally focused: mengutamakan kapasitas warga lokal untuk membangun agenda mandiri, sekaligus “menegaskan keutamaan dari definisi lokal, investasi, kreativitas, harapan, dan kendali”. Ketiga, relationship driven: membangun kembali relasi timbal balik neighbor-to-neighbor.

Ada ilustrasi sederhana yang sangat kuat tentang seorang pemotong kayu yang hanya memiliki satu kaki. Jika kita membuat daftar kebutuhan, informasi yang paling menonjol mungkin adalah bahwa ia kehilangan satu kaki. Tetapi informasi itu tidak banyak membantu kita membangun komunitas. 

Sebaliknya, jika kita mengetahui bahwa ia memiliki keterampilan memotong kayu, keterampilan itulah yang dapat menjadi bagian dari energi produktif komunitas.

Inilah filosofi “gelas setengah penuh”. Kita tidak menutup mata terhadap bagian yang kosong. Namun, kita memilih untuk memulai dari apa yang sudah tersedia.

Cara berpikir seperti ini juga berkaitan dengan Peter Senge dalam The Fifth Discipline. Apa yang kita lihat sangat dipengaruhi oleh Mental Models. 

Fasilitator mungkin secara sadar mengatakan bahwa masyarakat harus mandiri—Espoused Theory—tetapi dalam praktik masih memperlakukan warga sebagai pihak yang harus diarahkan. Di situlah muncul kesenjangan antara Espoused Theory dan Theory-in-Use.

Bahkan organisasi dapat melindungi cara kerja lamanya melalui rutinitas defensif dan apa yang disebut Skilled Incompetence: kemampuan menjalankan kebiasaan lama dengan sangat terampil, meskipun kebiasaan tersebut justru menghambat pembelajaran.

Menemukan Kapasitas yang Sering Tidak Terlihat

Perubahan mindset fasilitator menjadi sangat penting. Fasilitator bukan lagi sekadar ahli pemecah masalah yang datang membawa jawaban. Perannya lebih dekat dengan designers of learning processes: membantu masyarakat menemukan kemampuan, menghubungkan aset, dan belajar bersama.

Salah satu alat pentingnya adalah Capacity Mapping. Kita dapat memulai dengan tiga lingkaran aset: kapasitas individu, asosiasi warga, dan institusi lokal.

Kapasitas individu tidak hanya berarti mereka yang dianggap berhasil. Lansia, pemuda, penyandang disabilitas, maupun penerima santunan juga memiliki pengalaman, keterampilan, jaringan, dan kontribusi yang mungkin belum terlihat. Asosiasi warga merupakan lem sosiologis yang menjaga hubungan sukarela antarmanusia. 

Sementara institusi lokal menyimpan sumber daya fisik, anggaran, tenaga kerja, dan akses yang dapat digerakkan.

Namun, Kretzmann dan McKnight memberikan peringatan etis: Capacity Inventory bukan sekadar instrumen riset untuk menghasilkan tabel statistik. Jika hanya berhenti sebagai penelitian, warga dapat merasa “diteliti secara sia-sia oleh orang luar”. 

Pemetaan kapasitas harus segera dihubungkan (connect) dengan jejaring kesempatan dan rencana aksi nyata.

Disini Appreciative Inquiry juga menemukan relevansinya. Kita belajar mencari apa yang bekerja, kekuatan apa yang pernah muncul, dan kemungkinan apa yang dapat dikembangkan. 

Bersama Senge, kita dapat membedakan Adaptive Learning—belajar sekadar agar mampu bertahan—dengan Generative Learning, yaitu pembelajaran yang memperluas kemampuan komunitas untuk menciptakan masa depannya sendiri.

Karena itu, community development tidak cukup memecah masalah menjadi potongan-potongan kecil. Komunitas adalah ekosistem. Persoalan ekonomi, sosial, kepemimpinan, pendidikan, dan lingkungan sering saling berhubungan.

Fasilitator juga membutuhkan willingness to be wrong. Kejujuran sederhana seperti, “Here is my view and here is how I have arrived at it. How does it sound to you?” membuka ruang dialog yang jauh lebih sehat daripada sikap serba tahu.

Pada akhirnya, pemberdayaan bukan jalan yang sudah selesai digambar oleh fasilitator. Ia adalah jalan yang ditemukan sambil berjalan bersama masyarakat. Karena itu, semboyan koperasi Mondragon yang dikutip Kretzmann-McKnight terasa sangat tepat: “We make the path by walking it.”

Mungkin inilah inti perubahan dari defisit menuju aset: bukan sekadar mengganti daftar masalah dengan daftar potensi, tetapi mengubah hubungan antara masyarakat dan mereka yang datang untuk mendampingi. Ketika warga mulai melihat kemampuan mereka sendiri, mereka tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang akan diberikan kepada kami?” Mereka mulai bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan bersama?” (im)

Referensi

  • John P. Kretzmann & John L. McKnight, Building Communities from the Inside Out, 1993.
  • Peter M. Senge, The Fifth Discipline: The Art & Practice of the Learning Organization, 1990.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.