Masyarakat sebagai Ekosistem

by -1475 Views

Ketika kita berbicara tentang masyarakat, kita sering membayangkan sekumpulan individu yang tinggal di suatu wilayah. 

Padahal, komunitas jauh lebih kompleks. 

Di dalam komunitas  terdapat manusia, keluarga, lembaga, budaya, nilai, ekonomi, lingkungan alam, jaringan sosial, serta berbagai kebiasaan yang saling memengaruhi. Karena itu, memahami masyarakat membutuhkan cara berpikir yang tidak berhenti pada satu persoalan atau satu kelompok saja. Kita perlu melihatnya sebagai ekosistem yang hidup.

Melihat Keterhubungan, Bukan Sekadar Kejadian

Di sinilah Systems Thinking menjadi penting. Peter Senge dalam The Fifth Discipline menjelaskan systems thinking sebagai disiplin untuk melihat keutuhan (seeing wholes) dan memahami jaring interelasi yang dinamis, bukan sekadar melihat static snapshots. 

Cara pandang demikian mengubah pertanyaan kita.

Misalnya, ketika sebuah kegiatan pemuda tidak berjalan, kita tidak cukup bertanya mengapa pemuda tidak mau terlibat. Kita perlu melihat lebih jauh: bagaimana hubungan pemuda dengan tokoh masyarakat, bagaimana ruang partisipasi tersedia, bagaimana komunikasi berlangsung, apakah mereka dipercaya, dan apakah kegiatan tersebut memang menjawab kebutuhan sekaligus potensi mereka.

Senge menyampaikan prinsip penting: “Structure influences behavior.” Manusia yang berbeda dalam struktur sistem yang sama dapat menghasilkan pola perilaku yang serupa. Karena itu, fasilitator tidak boleh hanya bereaksi terhadap events. Ia perlu mencari “struktur dibawah permukaan”: aturan main, pola hubungan, distribusi sumber daya, dan berbagai bias yang mempengaruhi perilaku masyarakat.

Fritjof Capra dan Pier Luigi Luisi, dalam The Systems View of Life, membantu memperkuat perspektif tersebut. Sifat sistem hidup tidak terutama muncul dari bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan dari interaksi dan hubungan antarkomponen. Artinya, perubahan satu bagian komunitas dapat memengaruhi bagian lainnya.

Memahami Stocks, Flows, dan Feedback Loop

Donella H. Meadows dalam Thinking in Systems menjelaskan sistem sebagai kesatuan elemen yang saling terhubung dan menghasilkan pola perilakunya sendiri. Konsep ini sangat berguna dalam memahami pembangunan masyarakat.

Sembilan community capitals, misalnya, dapat dipahami sebagai stocks atau simpanan. Ada modal manusia, sosial, finansial, alam, dan modal lainnya yang terakumulasi melalui proses panjang. Menariknya, stocks tidak selalu berbentuk benda. Meadows menunjukkan bahwa sistem juga dapat memiliki “cadangan kebaikan” (good will) dan “pasokan harapan” (supply of hope).

Karena merupakan stocks, modal komunitas membutuhkan waktu untuk terbentuk. Kepercayaan tidak muncul setelah satu kali pertemuan. Kepemimpinan lokal tidak lahir dari satu pelatihan. Demikian pula budaya gotong royong tidak dapat dibangun melalui satu proyek.

Kelambatan ini (delays) kadang membuat kita frustrasi. Tetapi sebenarnya ia juga berfungsi sebagai buffers, semacam peredam kejut yang membuat sistem lebih stabil. Komunitas yang memiliki modal sosial kuat tidak mudah runtuh hanya karena satu konflik atau satu krisis.

Selanjutnya terdapat feedback loops. Dalam sistem sosial, hubungan sebab-akibat tidak selalu linear. Capra dan Luisi menjelaskan bagaimana sirkuit umpan balik sibernetika membalikkan pandangan kausalitas satu arah.

Ada balancing loops, yaitu mekanisme yang membantu sistem mencari kestabilan (goal-seeking). Namun mekanisme ini dapat terganggu apabila informasi terlambat, bias, atau bahkan disumbat. Aspirasi kelompok marjinal, misalnya, dapat kehilangan pengaruh ketika hanya suara elit yang masuk ke pusat pengambilan keputusan.

Sebaliknya, reinforcing loops dapat menciptakan spiraling-up. Satu keberhasilan kecil dapat meningkatkan kepercayaan; kepercayaan meningkatkan partisipasi; partisipasi melahirkan lebih banyak keberhasilan. Namun pertumbuhan tetap memiliki batas. Kita tidak boleh melupakan limits to growth, terutama ketika aktivitas manusia berhadapan dengan keterbatasan alam.

Komunitas dalam Jaring Kehidupan

Social-Ecological Systems menjadi perspektif penting. Masyarakat tidak terpisah dari lingkungan alamnya. Cara kita membangun ekonomi, mengelola usaha, menggunakan teknologi, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari harus tetap menghormati kemampuan alam dalam menopang kehidupan.

Inilah pentingnya ecoliteracy: kesadaran bahwa kita merupakan bagian dari jaringan kehidupan. Lynn Margulis dan Dorion Sagan merumuskannya dengan indah: “Life did not take over the globe by combat, but by networking.”

Kalimat tersebut memberikan pelajaran penting bagi community development. Kehidupan bertahan bukan hanya melalui persaingan, tetapi juga melalui keterhubungan dan kerja sama.

Dari sini kita dapat memahami resilience dan adaptive capacity. Resiliensi bukan berarti komunitas tidak pernah mengalami krisis. Justru resiliensi adalah kemampuan untuk bounce back, belajar, menyesuaikan diri, dan tetap hidup dalam lingkungan yang terus berubah.

Resiliensi membutuhkan redundancy loops—lapisan-lapisan cadangan dalam sistem. Ia juga membutuhkan self-organization, kemampuan sistem untuk mengatur, belajar, dan memperbarui dirinya sendiri. Dalam konteks sosial, kemampuan ini dapat disebut sebagai bentuk otonomi sistem hidup atau autopoiesis.

Karena itu, fasilitator perlu berhati-hati terhadap top-down uniformity. Proyek yang seragam belum tentu sesuai dengan ekosistem setiap komunitas. Keseragaman yang berlebihan justru dapat membunuh kemampuan masyarakat untuk mengatur dan mengembangkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, tugas fasilitator bukan mengendalikan seluruh sistem. Ia perlu memahami di mana titik pengungkit (leverage points) yang tepat, sebagaimana dikembangkan Meadows, lalu melakukan intervensi dengan secukupnya.

Mungkin inilah kedewasaan dalam community development: datang dengan pengetahuan, tetapi tidak merasa paling tahu; membawa pengalaman, tetapi tetap mau belajar; dan menawarkan perubahan tanpa merusak kemampuan masyarakat untuk berubah dari dalam.

Sebab masyarakat bukan mesin yang dapat kita bongkar, perbaiki, lalu pasang kembali. Masyarakat adalah ekosistem hidup. Dan ekosistem yang hidup membutuhkan ruang untuk tumbuh, belajar, beradaptasi, dan menemukan keseimbangannya sendiri.(im)

Referensi

  • Fritjof Capra & Pier Luigi Luisi, The Systems View of Life: A Unifying Vision, 2014.
  • Peter M. Senge, The Fifth Discipline: The Art & Practice of the Learning Organization, 1990.
  • Donella H. Meadows, Thinking in Systems: A Primer, 2008.
  • Lynn Margulis & Dorion Sagan, What Is Life?, 1995.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.