Apa Itu Community Capital?

by -1382 Views

Ketika berbicara tentang modal, yang pertama kali terbayang biasanya adalah uang. Dalam kehidupan masyarakat, modal sering dipahami sebagai anggaran, tabungan, kredit, atau investasi. 

Padahal, sebuah komunitas dapat memiliki banyak kekayaan yang tidak tercatat dalam neraca keuangan: kepercayaan antarwarga, keterampilan pemuda, pengetahuan lokal, tradisi gotong royong, jaringan sosial, sumber daya alam, hingga kemampuan warga memengaruhi kebijakan publik. 

Semua itu dapat menjadi modal apabila mampu digunakan untuk menghasilkan sumber daya dan kesejahteraan baru.

Cornelia Butler Flora dan Jan L. Flora, dalam Rural Communities: Legacy and Change, membantu kita memperluas pengertian tersebut. Modal bukan sekadar benda atau uang, melainkan dapat dipahami sebagai “any resource capable of producing other resources”—setiap sumber daya yang mampu menghasilkan sumber daya lainnya. 

Dengan pengertian ini, sesuatu baru benar-benar menjadi modal ketika ia diinvestasikan dan menghasilkan manfaat baru bagi komunitas.

Dari Modal Ekonomi Menuju Community Capitals Framework

Perubahan pengertian ini penting. Jika kita hanya melihat uang sebagai modal, maka pembangunan akan mudah terjebak pada pertanyaan berapa besar anggaran yang tersedia. 

Tetapi jika modal dipahami lebih luas, kita mulai bertanya: modal apa yang sudah dimiliki masyarakat, bagaimana modal tersebut saling berhubungan, dan bagaimana ia dapat dikembangkan?

Flora dan Flora mengembangkan kerangka Community Capitals Framework (CCF) yang melihat masyarakat melalui tujuh bentuk modal.

Pertama, Modal Alam (Natural Capital), yaitu udara, air, tanah, keanekaragaman hayati, dan lanskap yang menjadi basis bagi kehidupan sekaligus fondasi modal lainnya.

Kedua, Modal Budaya (Cultural Capital), yaitu worldview, nilai, pengetahuan, dan asumsi yang memengaruhi bagaimana masyarakat menentukan apa yang dianggap berharga dan apa yang mungkin diubah.

Ketiga, Modal Manusia (Human Capital), mencakup pendidikan, keterampilan, kreativitas, kesehatan, dan harga diri individu. Modal ini bersifat dinamis dan memiliki mobilitas tinggi.

Keempat, Modal Sosial (Social Capital), berupa jaringan, kepercayaan, dan norma timbal balik. Ia dapat berbentuk bonding, yaitu ikatan emosional internal, maupun bridging, yaitu hubungan yang menjembatani komunitas dengan kelompok atau sumber daya di luar dirinya.

Kelima, Modal Politik (Political Capital), yaitu kemampuan warga memengaruhi proses pengambilan keputusan, mengubah norma lokal menjadi regulasi formal, serta ikut menentukan distribusi sumber daya publik.

Keenam, Modal Finansial (Financial Capital), berupa tabungan, kredit, investasi, dan sumber daya keuangan lainnya.

Ketujuh, Modal Fisik (Built Capital), yaitu infrastruktur buatan manusia yang memungkinkan aktivitas sosial dan ekonomi berjalan.

Modal Tidak Berdiri Sendiri

Hal yang menarik dari CCF bukan sekadar jumlah tujuh modal tersebut. Ada yang jauh lebih penting, yaitu hubungan antarmodal.

Di lapangan, kita sering melihat pembangunan jalan, gedung, pasar, atau fasilitas publik dianggap sebagai tanda utama keberhasilan. Padahal, bangunan fisik tidak otomatis menghasilkan perubahan sosial. Sebuah fasilitas dapat berdiri megah tetapi tidak digunakan secara optimal karena modal manusia tidak siap, modal sosial lemah, atau tidak ada kepemimpinan lokal yang mampu mengelolanya.

Begitu pula bantuan finansial dapat habis tanpa meninggalkan kapasitas. Sebaliknya, investasi kecil pada modal sosial dapat menghasilkan kepercayaan; kepercayaan meningkatkan partisipasi; partisipasi memperkuat kemampuan organisasi; dan kemampuan organisasi dapat membuka akses terhadap modal finansial maupun politik.

Karena itu, pembangunan masyarakat lebih tepat dilihat sebagai spiral daripada garis lurus.

Ketika sebuah komunitas kehilangan kepercayaan, partisipasi menurun. Ketika partisipasi menurun, organisasi lokal melemah. Ketika organisasi melemah, kemampuan mengakses sumber daya juga berkurang. Inilah spiraling-down.

Namun arah sebaliknya juga mungkin terjadi. Satu investasi kecil yang tepat pada aset lokal dapat memperkuat kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kolaborasi. Kolaborasi menghasilkan kegiatan. Kegiatan menghasilkan pengalaman dan kemampuan baru. Kemampuan baru membuka akses terhadap sumber daya yang lebih besar. Terbentuklah spiraling-up.

Di sinilah kita memahami bahwa pembangunan tidak harus selalu dimulai dengan modal terbesar. Yang penting adalah menemukan titik pengungkit (leverage points) yang mampu menggerakkan modal lain.

Salah satu titik penting adalah Entrepreneurial Social Infrastructure (ESI). Ketika sebuah komunitas memiliki bonding dan bridging yang sama-sama kuat, ia memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun ESI. Infrastruktur sosial kewirausahaan ini memungkinkan komunitas melegitimasi alternatif solusi, membangun pengambilan keputusan yang inklusif, dan memobilisasi sumber daya secara mandiri.

Dalam kondisi seperti itu, investasi dari dalam dapat menarik investasi dari luar. Prinsipnya sederhana: “local funds beget outside investments.”

Pelajaran ini sangat penting bagi fasilitator. Jangan terburu-buru bertanya, “Berapa dana yang kita perlukan?” Sebelum itu, mungkin kita perlu bertanya, “Modal apa yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat?”

Pertanyaan tersebut mengubah seluruh pendekatan pembangunan. Kita tidak lagi datang hanya membawa sumber daya. Kita datang untuk menemukan, menghubungkan, dan memperkuat sumber daya yang sudah hidup di dalam komunitas.

Pada akhirnya, community capital mengajarkan bahwa kekayaan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang tercatat dalam anggaran. Ada manusia, relasi, budaya, alam, kelembagaan, politik, keuangan, dan infrastruktur yang semuanya dapat menjadi energi perubahan.

Tugas community development bukan memilih satu modal lalu mengorbankan yang lain. Tugasnya adalah menjaga agar berbagai modal tersebut saling memperkuat. Sebab komunitas yang kuat bukan komunitas yang memiliki satu jenis modal paling besar, melainkan komunitas yang mampu mengubah satu modal menjadi kekuatan untuk memperkuat modal lainnya. (im)

Referensi

  • Cornelia Butler Flora & Jan L. Flora, Rural Communities: Legacy and Change.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.