Social Capital

by -1473 Views

Jika Human Capital berbicara tentang kualitas manusia, maka Social Capital berbicara tentang kualitas hubungan antarmanusia. Masyarakat yang memiliki banyak orang terdidik belum tentu mampu bergerak bersama. 

Sebaliknya, masyarakat dengan sumber daya terbatas dapat menyelesaikan banyak persoalan ketika warganya memiliki trust, reciprocity, dan jejaring sosial yang kuat.

Robert D. Putnam dalam Bowling Alone melihat modal sosial sebagai sesuatu yang tumbuh dari koneksi antarinvidu. Modal sosial bukan sekadar kebaikan individu yang berdiri sendiri. Isolated individuals, betapapun baiknya, tidak otomatis menghasilkan modal sosial yang produktif.

Trust, Reciprocity, dan Network

Gagasan modal sosial sebenarnya telah lama muncul dalam praktik. Pada 1916, pengawas sekolah West Virginia, L. J. Hanifan, menggambarkan modal sosial sebagai akumulasi zat-zat nyata dalam kehidupan sehari-hari: kemauan baik, rasa kebersamaan, simpati, dan hubungan sosial. Inilah yang membedakannya dari modal fisik seperti screwdriver atau modal manusia seperti college education.

Francis Fukuyama dalam Trust menempatkan trust sebagai fondasi penting kehidupan sosial. Trust adalah suatu expectation yang tumbuh dari nilai dan norma bersama yang diinternalisasi melalui proses sosialisasi kultural yang panjang.

Nilainya bahkan bersifat ekonomis. Kenneth Arrow menyebut kepercayaan sebagai “pelumas” bagi sistem sosial karena memungkinkan banyak aktivitas berlangsung tanpa harus selalu ditopang oleh sanksi hukum dan pengawasan formal. Sebaliknya, distrust menghasilkan transaction costs. Dalam bahasa Fukuyama, ketidakpercayaan bekerja seperti pajak terselubung yang membebani hampir seluruh kegiatan ekonomi dan sosial.

Putnam juga membedakan thick trust dan thin trust. Thick trust tumbuh dari relasi personal yang dekat, sedangkan thin trust memungkinkan seseorang mempercayai orang asing atau orang di luar kelompoknya. Bagi masyarakat modern, kemampuan membangun thin trust sangat penting karena memperluas radius kerja sama.

Kepercayaan kemudian melahirkan reciprocity, terutama generalized reciprocity: saya membantu hari ini tanpa menghitung bahwa orang yang sama harus membayar kembali besok. Humor Yogi Berra menggambarkan semangat ini secara sederhana: kita menghadiri pemakaman tetangga bukan karena yakin ia akan menghadiri pemakaman kita, tetapi karena begitulah kehidupan bertetangga seharusnya berjalan.

Michael Taylor menunjukkan bahwa pertukaran timbal balik jangka panjang yang pada awalnya tampak altruistik justru dapat membuat seluruh anggota sistem menjadi lebih sejahtera. Generalized reciprocity menciptakan sirkulasi sosial yang lebih efisien daripada pertukaran instan berbasis barter.

Disinilah network menjadi penting. Jejaring sosial memiliki dua wajah. Wajah privat memberikan akses kepada pekerjaan, bantuan darurat, dan dukungan emosional. Wajah publik menghasilkan positive externalities: lingkungan dengan jejaring sosial yang kuat dapat mengalami penurunan kejahatan dan meningkatnya rasa aman yang manfaatnya dirasakan seluruh warga.

Bonding, Bridging, dan Linking

Putnam membedakan bonding social capital dan bridging social capital. Bonding melihat ke dalam, memperkuat hubungan kelompok yang relatif homogen. Bridging melihat ke luar, menghubungkan manusia yang berbeda kelas, etnis, agama, maupun latar belakang.

Xavier de Souza Briggs merumuskannya dengan sangat kuat: bonding social capital penting untuk “getting by”, atau bertahan dalam kehidupan sehari-hari; sedangkan bridging social capital diperlukan untuk “getting ahead”, atau maju ke depan.

Putnam menggunakan metafor yang menarik: bonding adalah sociological superglue, sedangkan bridging adalah sociological WD-40. Yang pertama merekatkan, yang kedua membuat hubungan lintas kelompok menjadi lebih mudah bergerak.

Keduanya harus seimbang. Bonding yang terlalu kuat tanpa bridging dapat berubah menjadi eksklusivisme. Kelompok menjadi sangat solid ke dalam, tetapi curiga terhadap orang luar. Dari sinilah prasangka, sektarianisme, dan eksklusi sosial dapat tumbuh.

Di atas hubungan horizontal tersebut terdapat linking social capital, yaitu koneksi vertikal yang menghubungkan warga dengan struktur otoritas, kekuasaan, perbankan, dan pembuat kebijakan makro.

Dalam kerangka ABCD Kretzmann-McKnight, koneksi ini berkaitan dengan langkah kelima, Leveraging Outside Resources. Tetapi koneksi vertikal tidak boleh dibangun terlalu dini. Jika masyarakat belum memiliki modal sosial horizontal yang kuat, ketergantungan kepada sumber daya eksternal justru dapat mengorbankan independensi warga dan melahirkan ketergantungan kronis.

Karena itu, prinsipnya sederhana: kuatkan terlebih dahulu kemampuan masyarakat untuk berdiri, kemudian hubungkan mereka dengan sumber daya di luar.

Collective Action: Dari “Saya” Menjadi “Kita”

Ujian terakhir Social Capital adalah collective action. Banyak persoalan masyarakat sebenarnya bukan karena tidak ada sumber daya, tetapi karena orang tidak bersedia mengambil bagian. Putnam menjelaskan dilema ini melalui free-rider problem atau shirking: seseorang berharap memperoleh manfaat dari kerja bersama tanpa ikut menanggung biayanya.

Dalam komunitas yang miskin trust, persoalan tersebut sulit diselesaikan. Setiap orang menunggu orang lain bergerak. Akibatnya, dibutuhkan pengawasan, aturan, bahkan sanksi hukum yang mahal.

Sebaliknya, jaringan sipil yang sehat memiliki norma sosial dan reputasi kolektif yang mampu menekan perilaku menipu secara lebih murah dan sukarela. Orang bekerja sama bukan semata-mata karena takut dihukum, tetapi karena merasa menjadi bagian dari komunitas.

Inilah transformasi paling penting dari Social Capital: memperluas kepentingan pribadi yang sempit menjadi kesadaran “Kita” (we-ness).

Ketika trust melahirkan reciprocity, reciprocity memperkuat network, network menghasilkan bonding dan bridging, linking membuka akses ke sumber daya yang lebih luas, maka masyarakat memiliki kemampuan melakukan collective action.

Pada titik itu, gotong royong bukan lagi sekadar kegiatan bersama. Ia menjadi kapasitas sosial. Masyarakat mampu menyelesaikan persoalannya sendiri, menjaga anggotanya, merespons krisis, dan membangun masa depannya.

Karena itu, dalam community development, pertanyaan penting bukan hanya: “Berapa banyak sumber daya yang kita punya?” Tetapi juga: “Seberapa besar kita saling percaya, saling terhubung, dan mampu bergerak bersama?”

Sebab komunitas yang kuat bukan komunitas tanpa masalah. Komunitas yang kuat adalah komunitas yang memiliki cukup Social Capital untuk menghadapi masalah secara bersama-sama. (im)

Referensi

  • Robert D. Putnam, Bowling Alone.
  • Francis Fukuyama, Trust.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.