Natural Capital

by -1362 Views

Dalam community development, masyarakat tidak hidup di ruang kosong. Mereka bergantung pada air, tanah, hutan, udara, pangan, dan berbagai sumber daya alam yang menopang kehidupan sekaligus kegiatan ekonomi. 

Karena itu, Natural Capital atau modal alam bukan sekadar persoalan lingkungan. Ia merupakan salah satu fondasi yang menentukan apakah sebuah komunitas mampu bertahan, berkembang, dan membangun masa depannya.

Cornelia Butler Flora dan Jan L. Flora dalam Rural Communities: Legacy and Change menjelaskan bahwa modal alam mencakup udara, air, tanah, satwa liar, vegetasi, lanskap, dan cuaca yang memberikan peluang sekaligus batas bagi keberlanjutan komunitas. Bahkan, modal alam menjadi dasar bagi modal-modal lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan itu sebenarnya mudah kita lihat. Ketika sumber air tercemar, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh air bersih. Ketika tanah kehilangan kesuburan, produktivitas petani menurun. Ketika hutan rusak, risiko banjir dan longsor meningkat. 

Dengan demikian, kerusakan modal alam pada akhirnya menjadi persoalan ekonomi, sosial, bahkan kelembagaan masyarakat.

Masyarakat dan Tata Kelola Sumber Daya Bersama

Sebagian besar sumber daya alam merupakan Common-Pool Resources (CPR), yaitu sumber daya yang dimanfaatkan bersama tetapi penggunaannya sulit dibatasi sepenuhnya. Hutan, sumber air, padang penggembalaan, dan kawasan pesisir merupakan beberapa contohnya.

Elinor Ostrom dalam Governing the Commons menunjukkan bahwa persoalan CPR tidak selalu berakhir pada Tragedy of the Commons. Dalam teori tersebut, setiap orang memiliki dorongan untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari sumber daya bersama, sementara biaya kerusakannya ditanggung bersama.

Namun pengalaman berbagai komunitas yang diteliti Ostrom menunjukkan adanya kemungkinan lain: self-governance. Masyarakat dapat menyusun aturan bersama, menentukan siapa yang memiliki akses, melakukan monitoring, menyelesaikan konflik, dan memberikan graduated sanctions kepada pelanggar.

Bagi community development, pelajaran ini sangat penting. Pemberdayaan tidak cukup hanya memberikan akses kepada masyarakat terhadap sumber daya. Hal yang lebih penting adalah membangun capacity agar masyarakat mampu mengelola sumber daya tersebut secara bersama.

Dengan kata lain, pengelolaan lingkungan dapat menjadi sarana membangun social capital. Ketika warga duduk bersama menentukan aturan pemanfaatan air, misalnya, mereka sedang belajar berkomunikasi, bernegosiasi, mengambil keputusan, membangun kepercayaan, dan menerima tanggung jawab bersama.

Hutan, Air, dan Kepemimpinan Lokal

Hutan merupakan contoh yang baik untuk memahami hubungan antara alam dan community development. Donella H. Meadows dalam Thinking in Systems menjelaskan hutan melalui konsep stocks and flows. Persediaan kayu merupakan stock, sementara pertumbuhan pohon menjadi aliran masuk dan penebangan serta kematian alami menjadi aliran keluar.

Cara berpikir seperti ini mengajarkan masyarakat bahwa sumber daya alam bukan sesuatu yang tidak terbatas. Jika pengambilan lebih cepat daripada pertumbuhan kembali, stock akan terus menurun.

Ostrom juga menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya tidak selalu menjadi lebih baik ketika masyarakat lokal sepenuhnya disingkirkan. Dalam sejumlah kasus, nasionalisasi hutan justru mengubah sumber daya yang sebelumnya memiliki aturan akses menjadi open-access resources karena negara tidak selalu memiliki kemampuan untuk melakukan pengawasan secara efektif.

Ini memberikan pelajaran penting bagi local leadership. Masyarakat lokal bukan sekadar penerima kebijakan lingkungan. Mereka dapat menjadi pengelola, pengawas, sekaligus penjaga keberlanjutan sumber daya yang mereka gunakan.

Hal yang sama berlaku pada air. Studi Ostrom mengenai sistem irigasi di Valencia menunjukkan bahwa pembagian air dapat bertahan lama karena terdapat aturan lokal yang jelas mengenai giliran, jumlah pemanfaatan, pengawasan, dan sanksi. Artinya, pengelolaan air bukan hanya persoalan teknis. Ia membutuhkan organisasi sosial yang dipercaya oleh masyarakat.

Biodiversity dan Green Economy

Hubungan antara lingkungan dan masyarakat semakin jelas ketika kita berbicara mengenai biodiversity. Fritjof Capra dan Pier Luigi Luisi dalam The Systems View of Life melihat ekosistem sebagai web of life, sebuah jaringan kehidupan yang setiap unsurnya saling bergantung.

Karena itu, kehilangan satu unsur ekosistem dapat memberikan dampak kepada unsur lainnya. Biodiversitas bukan sekadar banyaknya jenis tumbuhan dan hewan, tetapi juga sumber resilience bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan.

Cara pandang ini membawa kita kepada Green Economy. Sistem ekonomi modern sering menggunakan pola linear: mengambil sumber daya, memproduksi barang, menggunakan, kemudian membuangnya sebagai limbah. Capra dan Luisi mengingatkan bahwa alam bekerja secara berbeda: prosesnya bersifat siklus.

Community development dapat menerjemahkan gagasan tersebut dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan warga: pengelolaan sampah, kebun komunitas, konservasi mata air, pertanian berkelanjutan, pemanfaatan energi terbarukan, ekowisata, hingga pengembangan usaha berbasis lingkungan.

Disini muncul konsep ecosystem services atau jasa lingkungan. Air bersih, kesuburan tanah, penyerapan karbon, perlindungan dari banjir, dan biodiversitas memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat meskipun sering tidak dihitung dalam transaksi ekonomi.

Karena itu, menjaga Natural Capital bukan sekadar pekerjaan pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan. Ia merupakan bagian dari proses pemberdayaan. Ketika masyarakat mampu menjaga sumber air, mengelola hutan, mengembangkan kebun komunitas, atau membangun usaha yang tidak merusak lingkungan, mereka sedang membangun capacity, ownership, social capital, dan local leadership sekaligus.

Pada akhirnya, community development bukan hanya tentang apa yang bisa kita peroleh dari alam, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat bisa membangun kemampuan untuk menjaga alam yang mendukung kehidupannya.

Di situlah Natural Capital bertemu dengan hakikat community development. Membangun masyarakat bukan hanya memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi hari ini, tetapi memastikan bahwa masyarakat memiliki lingkungan yang sehat untuk tumbuh, bekerja, dan mewariskan kehidupan yang lebih baik kepada generasi berikutnya. (im)

Referensi

  • Capra, Fritjof, & Luisi, Pier Luigi. (2014). The Systems View of Life: A Unifying Vision. Cambridge University Press.
  • Flora, Cornelia Butler, & Flora, Jan L. (2012). Rural Communities: Legacy and Change. Westview Press.
  • Kretzmann, John P., & McKnight, John L. (1993). Building Communities from the Inside Out: A Path Toward Finding and Mobilizing a Community’s Assets. Northwestern University.
  • Meadows, Donella H. (2008). Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing.
  • Ostrom, Elinor. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.