Mengapa Program Pemberdayaan Kader Sering Berhenti Ditengah Jalan?

by -1384 Views

Ada satu pertanyaan sederhana yang seharusnya selalu kita ajukan setelah sebuah program pemberdayaan kader selesai: apa yang berubah setelah kegiatan itu berakhir?

Pertanyaan ini penting karena pemberdayaan kader bukan sekadar membuat kegiatan ekonomi berjalan. Kader perlu memiliki kemampuan untuk mengelola usaha, meningkatkan pendapatan, membangun aset, memperluas jaringan, dan mengambil keputusan ekonomi secara mandiri. 

Jika setelah sebuah pelatihan atau kegiatan ekonomi selesai kader kembali menghadapi persoalan yang sama, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya kadernya, tetapi juga desain program pemberdayaannya.

Dalam praktiknya, kita sering melihat kegiatan yang terlaksana dengan baik, tetapi proses setelah kegiatan tidak mendapatkan perhatian yang sama. Pelatihan selesai, pameran berhasil menarik pengunjung, produk kader mendapatkan ruang promosi, tetapi pembinaan setelahnya berjalan lemah. 

Beberapa waktu kemudian, aktivitas kembali seperti semula. Persoalannya bukan pada kegiatan tersebut, melainkan pada ketidakmampuan menghubungkan kegiatan dengan proses pemberdayaan yang berkelanjutan.

Ketika Pameran Menjadi Tujuan

Pameran memiliki fungsi ekonomi yang jelas. Bagi usaha kader, pameran dapat menjadi sarana memperkenalkan produk, mencari pelanggan, menguji respons pasar, membangun jejaring bisnis, dan membuka peluang kerja sama. Pameran tidak layak ditempatkan sebagai kegiatan seremonial semata.

Pameran juga memiliki keterbatasan. Pameran berlangsung pada waktu dan tempat tertentu, sedangkan usaha kader berjalan sepanjang tahun. Pameran dapat mempertemukan penjual dengan pembeli, tetapi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan produksi, arus kas, pencatatan keuangan, kualitas produk, bahan baku, maupun pemasaran setelah acara berakhir.

Persoalannya bukan apakah pameran perlu dilakukan atau tidak. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi setelah pameran selesai?

Apakah pelanggan yang diperoleh tetap dihubungi? Apakah pesanan baru dapat dipenuhi? Apakah data calon pelanggan dicatat? Apakah kader mengevaluasi produk yang paling diminati? Apakah ada peningkatan omzet setelah kegiatan? Apakah jaringan yang terbentuk berkembang menjadi kerja sama bisnis?

Jika semua itu tidak dipikirkan, pameran mudah berubah menjadi kegiatan yang meriah pada hari pelaksanaan, tetapi minim dampak dalam jangka panjang.

Robert Chambers melalui konsep project bias mengingatkan bahwa program pembangunan sering memberikan perhatian berlebihan kepada kegiatan atau proyek yang mudah dilihat dan dipamerkan. Perhatian yang terlalu besar pada sesuatu yang tampak dapat membuat persoalan yang lebih mendasar justru terabaikan.

Dalam konteks pemberdayaan kader, pelajarannya sederhana. Jangan menilai keberhasilan pemberdayaan hanya dari ramainya kegiatan. Nilailah dari perubahan yang terjadi pada kehidupan ekonomi kader setelah kegiatan tersebut.

Pendampingan, Bukan Sekadar Materi

Masalah berikutnya muncul setelah kegiatan selesai. Panitia membubarkan diri, narasumber kembali kepada aktivitas masing-masing, laporan ditutup, sementara kader kembali menghadapi persoalan usaha sehari-hari.

Pada titik ini, pendampingan mulai dirasakan penting. Kader mungkin sudah mengetahui cara membuat business plan, tetapi belum tentu mampu menjalankannya. Mereka mungkin memahami digital marketing, tetapi belum tentu konsisten menerapkannya. Mereka mungkin sudah mendapatkan modal dan akses pasar, tetapi belum tentu mampu mengelola arus kas dan menghitung keuntungan dengan benar.

Pemberdayaan ekonomi kader membutuhkan follow-up: konsultasi, coaching, evaluasi, kunjungan, dan perbaikan secara berkala. Colin Miller menekankan bahwa evaluasi seharusnya menjadi bagian dari sistem kerja, bukan kegiatan tambahan setelah program selesai.

Ukuran keberhasilannya pun perlu diubah. Jangan hanya bertanya, “Berapa orang mengikuti pelatihan?” atau “Berapa produk ikut pameran?” tetapi juga, “Apa yang berubah setelah kegiatan?”

Apakah pelanggan bertambah? Apakah omzet meningkat? Apakah pencatatan keuangan membaik? Apakah kualitas produk meningkat? Apakah kader mampu mempertahankan pelanggan yang diperoleh dari pameran? Dan yang paling penting, apakah usaha menjadi semakin mandiri?

William Easterly juga menekankan pentingnya feedback dan akuntabilitas dari tingkat bawah. Dalam pemberdayaan kader, suara kader sendiri harus menjadi sumber evaluasi. Mereka yang menjalankan usaha setiap hari paling mengetahui apa yang berhasil, apa yang tidak berjalan, dan hambatan apa yang harus segera diselesaikan.

Dari Anggaran Kegiatan Menjadi Investasi Pemberdayaan

Cara kita menggunakan anggaran juga perlu dievaluasi. Bukan berarti biaya penyelenggaraan kegiatan harus dihilangkan. Pameran yang dirancang dengan baik membutuhkan tempat, promosi, kurasi produk, fasilitas transaksi, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.

Apa yang perlu dipastikan adalah keseimbangan antara biaya kegiatan dan investasi pasca-kegiatan. Jangan sampai sebagian besar energi dan sumber daya habis pada saat acara, sementara tidak tersedia cukup dukungan untuk menindaklanjuti peluang ekonomi yang telah terbuka.

Anggaran pemberdayaan seharusnya juga digunakan untuk memperkuat kapasitas kader: pendampingan usaha, akses pasar, peningkatan kualitas produk, pencatatan keuangan, pengembangan jaringan, dan penguatan modal kerja.

Ukuran keberhasilan program tidak cukup hanya berdasarkan jumlah dana yang terserap atau jumlah kegiatan yang terlaksana. Ukurannya harus lebih dekat dengan kehidupan ekonomi kader: apakah usaha lebih sehat, pendapatan meningkat, pelanggan bertambah, aset berkembang, dan ketergantungan terhadap bantuan berkurang.

Perbedaan antara kegiatan ekonomi dan pemberdayaan ekonomi menjadi penting. Kegiatan dapat selesai dalam sehari. Pemberdayaan membutuhkan proses yang lebih panjang.

Pelatihan dapat membuka pengetahuan. Pameran dapat membuka pasar. Bantuan modal dapat membuka kesempatan. Tetapi semua peluang tersebut baru menjadi pemberdayaan apabila kader mampu menggunakannya untuk memperkuat usaha dan meningkatkan kemandiriannya.

Kita tidak sedang mengejar kegiatan yang terlihat berhasil. Kita sedang membangun kader yang benar-benar semakin berdaya.

Panggung boleh selesai, pameran boleh berakhir, tetapi proses pemberdayaan kader harus terus berjalan. (im)

Daftar Pustaka

  • Chambers, Robert. Rural Development: Putting the Last First. London: Longman, 1983.
  • Corbett, Steve, dan Brian Fikkert. When Helping Hurts: How to Alleviate Poverty Without Hurting the Poor… and Yourself. Chicago: Moody Publishers, 2009.
  • Easterly, William. The White Man’s Burden: Why the West’s Efforts to Aid the Rest Have Done So Much Ill and So Little Good. New York: Penguin Press, 2006.
  • Miller, Colin. Management: Towards High Standards in Community Development. London: Community Development Foundation/DCLG, 2007.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.