Dari Event Menuju Ekosistem

by -1391 Views

Setelah melihat kelemahan pendekatan yang terlalu berorientasi pada kegiatan, pertanyaan berikutnya adalah: kalau bukan sekadar kegiatan, lalu apa yang harus kita bangun?

Jawabannya adalah ekosistem ekonomi.

Pemberdayaan kader tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah pelatihan, bazar, pameran, atau kegiatan kewirausahaan. Semua kegiatan tersebut tetap penting. Pameran, misalnya, dapat menjadi sarana promosi, mempertemukan penjual dengan pembeli, menguji respons pasar, dan membuka jaringan baru. 

Masalahnya bukan pada kegiatan itu sendiri, tetapi ketika kegiatan berdiri sendiri dan tidak terhubung dengan proses ekonomi yang lebih luas.

Usaha kader berlangsung setiap hari. Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kegiatan sesekali, melainkan lingkungan yang membuat usaha dapat bertahan, berkembang, dan saling menguatkan.

Ekosistem yang Membuat Usaha Bertumbuh

Seorang pelaku usaha kecil membutuhkan lebih dari sekadar modal. Ia membutuhkan pengetahuan yang dapat diterapkan, bahan baku dengan harga wajar, pembiayaan yang sehat, pemasaran, pelanggan, jaringan distribusi, dan pendampingan ketika menghadapi masalah.

Inilah yang dimaksud dengan ekosistem. Ekosistem bukan sekadar semakin banyak program, tetapi hubungan antarpelaku yang membuat satu usaha memperoleh dukungan dari sumber daya dan pelaku lain di sekitarnya.

Jim Ife dalam Community Development: Community-based Alternatives in an Age of Globalisation mengingatkan pentingnya melihat pembangunan masyarakat secara menyeluruh. Pendekatan yang hanya berfokus pada satu aspek sering gagal memahami hubungan antara ekonomi, sosial, kelembagaan, dan kapasitas masyarakat.

Dalam pemberdayaan ekonomi kader, pengetahuan dan keterampilan harus terhubung dengan rantai pasok, pembiayaan yang sehat dan sesuai prinsip syariah, serta akses pasar yang berkelanjutan.

Jaringan internal organisasi dan keluarga kader dapat menjadi pasar awal, tetapi bukan pasar tertutup. Produk tetap harus memiliki kualitas dan harga yang kompetitif. Basis pelanggan internal berfungsi sebagai tempat untuk menguji produk, memperbaiki kualitas, membangun reputasi, dan menjaga arus kas sebelum usaha masuk ke pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, ekosistem bukan cara untuk menghindari persaingan. Ekosistem justru menjadi tempat usaha belajar agar lebih siap menghadapi persaingan.

Menghubungkan Potensi yang Sudah Ada

Pendekatan Asset-Based Community Development atau ABCD menawarkan cara pandang yang menarik. Steve Corbett dan Brian Fikkert menjelaskan pentingnya melihat masyarakat bukan hanya dari kekurangannya, tetapi juga dari aset, kemampuan, hubungan, dan sumber daya yang sudah mereka miliki.

Prinsip ini sangat relevan bagi pemberdayaan kader.

Di dalam jaringan kader terdapat berbagai potensi ekonomi. Ada yang memiliki usaha makanan, menjadi petani, mempunyai toko, bergerak di bidang jasa, memiliki kendaraan untuk distribusi, atau mempunyai kemampuan desain dan pemasaran digital. Di sisi lain, keluarga kader juga merupakan bagian dari potensi pasar.

Persoalannya sering bukan karena tidak ada aset, tetapi karena aset tersebut berjalan sendiri-sendiri.

Bayangkan seorang kader memproduksi makanan ringan. Kader lain memiliki warung. Kader yang lain memiliki kendaraan untuk distribusi. Keluarga kader menjadi salah satu basis pelanggan. Koperasi syariah dapat membantu pembiayaan, sementara kader lain yang memiliki kemampuan desain membantu kemasan dan pemasaran. Jika potensi tersebut dipertemukan, terbentuklah rantai nilai yang saling menguatkan.

Tujuannya bukan membuat seluruh transaksi hanya terjadi di lingkungan kader. Pasar internal hanyalah landasan awal. Setelah kualitas, kapasitas, dan sistem usaha semakin baik, produk harus didorong masuk ke pasar yang lebih luas.

Dari Panitia Kegiatan Menjadi Penguat Ekosistem

Perubahan paradigma juga menuntut perubahan peran struktur organisasi di tingkat lokal. Jika sebelumnya lebih banyak berperan sebagai penyelenggara kegiatan, ke depan perannya perlu berkembang menjadi fasilitator dan penghubung ekosistem ekonomi.

Struktur lokal tidak perlu mengambil alih usaha kader atau menentukan semua keputusan bisnis. Tugasnya adalah membantu kader menemukan dan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi mereka.

James C. Scott dalam Seeing Like a State mengingatkan bahaya pendekatan pembangunan yang terlalu mengandalkan rancangan besar dari atas. Banyak pengetahuan penting justru berada di tingkat lokal, dalam bentuk pengalaman praktis yang terbentuk dari keseharian. Pengetahuan semacam ini disebut metis.

Dalam pemberdayaan kader, struktur lokal perlu lebih banyak mendengar dan menghubungkan. Misalnya dengan memetakan potensi kader, mempertemukan produsen dengan pasar, membuka akses pembiayaan, membantu legalitas dan sertifikasi halal, serta membangun hubungan dengan koperasi, lembaga keuangan, pemerintah, dan pelaku pasar.

Dengan demikian, organisasi tidak hanya menghasilkan kalender kegiatan. Organisasi membantu menciptakan lingkungan yang membuat kader mampu berkembang.

Pergeseran dari event menuju ekosistem bukan berarti meninggalkan kegiatan. Pameran tetap penting. Pelatihan tetap dibutuhkan. Bazar dan temu usaha juga memiliki fungsi. Namun semuanya harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem yang lebih besar.

Ukuran keberhasilannya adalah apa yang terjadi setelah kegiatan selesai. Apakah produsen masih memiliki pasar? Apakah pelanggan bertambah? Apakah akses pembiayaan semakin baik? Apakah rantai pasok lebih efisien? Apakah kader semakin mampu mengelola usahanya sendiri?

Jika jawabannya semakin baik, berarti kita mulai membangun ekosistem.

Pemberdayaan yang baik tidak berhenti ketika acara selesai. Ia justru mulai terlihat hasilnya setelah acara selesai. (im)

Daftar Pustaka

  • Corbett, Steve, dan Brian Fikkert. When Helping Hurts: How to Alleviate Poverty Without Hurt the Poor . . . And Yourself. Chicago: Moody Publishers, 2009.
  • Ife, Jim. Community Development: Community-based Alternatives in an Age of Globalisation. Melbourne: Longman/Pearson Education, 2002.
  • Scott, James C. Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven & London: Yale University Press, 1998.
banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.