Setelah membangun ekosistem dan mengubah cara pandang dari karitas menuju pemberdayaan, ada satu pertanyaan penting yang tidak boleh dilewatkan: siapa sebenarnya yang sedang kita berdayakan?
Dalam berbagai kunjungan lapangan dan rapat koordinasi di tingkat basis, saya sering mengajukan pertanyaan sederhana: berapa kader yang memiliki usaha, apa jenis usahanya, berapa omzetnya, apa masalah utamanya, dan berapa keluarga yang sedang berada dalam kondisi ekonomi rentan?
Jawaban yang muncul seringkali masih bersifat umum. “Banyak,” atau “rata-rata usahanya kecil-kecilan.”
Masalahnya, program yang dibangun dari informasi yang terlalu umum akan menghasilkan intervensi yang juga umum. Semua diberi pelatihan yang sama, semua ditawari modal yang sama, padahal persoalannya berbeda.
Karena itu, pemberdayaan ekonomi kader harus dimulai dengan mengenali wajah ekonomi kader kita secara lebih akurat.
Tidak Semua Kader Membutuhkan Intervensi yang Sama
Kesalahan klasik dalam program sosial adalah menganggap kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi sebagai kelompok yang homogen. Padahal tingkat kerentanan, kemampuan, aset, dan kebutuhan mereka sangat berbeda.
Robert Chambers dalam Rural Development: Putting the Last First mengingatkan pentingnya melihat kemiskinan dan kerentanan secara lebih spesifik. Tidak cukup mengatakan seseorang “miskin”. Kita perlu mengetahui apakah masalahnya kekurangan aset, pendapatan yang tidak stabil, kerentanan terhadap guncangan, keterisolasian, atau keterbatasan akses dan kekuasaan.
Dalam praktik pemberdayaan kader, kondisi tersebut dapat disederhanakan menjadi empat kelompok.
- Pertama, kader rentan, yaitu mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, tidak memiliki cadangan ekonomi, atau sedang menghadapi krisis. Mereka membutuhkan jaring pengaman, bantuan darurat, atau pembiayaan sosial seperti qardhul hasan, bukan langsung dipaksa mengikuti program bisnis.
- Kedua, kader pemula, yaitu mereka yang sudah memiliki usaha kecil tetapi masih membutuhkan literasi keuangan, keterampilan dasar, dan modal kerja awal.
- Ketiga, kader yang siap scale-up, yaitu mereka yang usahanya sudah berjalan dan memiliki pasar, tetapi tertahan oleh persoalan legalitas, kemasan, kapasitas produksi, pembiayaan, atau akses pasar yang lebih luas.
- Keempat, kader mentor atau investor, yaitu mereka yang telah memiliki pengalaman, jaringan, dan kemampuan ekonomi yang lebih kuat. Mereka bukan sasaran bantuan, tetapi dapat menjadi mentor, mitra, bahkan investor bagi kader lainnya.
Dengan klasifikasi seperti ini, kita tidak memberikan obat yang sama untuk penyakit yang berbeda.
Jangan Hanya Mendata Masalah, Petakan Juga Aset
Pemetaan ekonomi juga tidak boleh hanya berisi daftar kekurangan. John Kretzmann dan John McKnight melalui Building Communities from the Inside Out memperkenalkan pendekatan Asset-Based Community Development atau ABCD, yang menempatkan kapasitas dan aset masyarakat sebagai titik awal pembangunan.
Pendekatan ini penting karena masyarakat, dan juga kader, bukan hanya kumpulan masalah. Mereka juga memiliki keterampilan, jaringan, lembaga, dan sumber daya yang dapat dikembangkan.
Di tingkat ranting, misalnya, kita dapat menemukan kader yang memiliki kemampuan memasak, menjahit, bertani, mengemudi, membuat desain, mengelola keuangan, atau menjalankan pemasaran digital. Ada pula warung, kelompok tani, komunitas, koperasi, sekolah, masjid, dan berbagai lembaga lokal yang dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.
Tugas pemberdayaan adalah menghubungkan aset-aset tersebut.
Kader yang memiliki produk membutuhkan pasar. Pemilik warung membutuhkan produk. Pelaku usaha membutuhkan pembukuan. Kader yang menguasai desain dapat membantu kemasan. Mereka yang memiliki pengalaman bisnis dapat menjadi mentor. Ketika titik-titik tersebut terhubung, kita tidak perlu selalu memulai dari nol.
Data Harus Sederhana dan Menghasilkan Tindakan
Saya juga tidak sepakat jika pendataan ekonomi di tingkat basis dibuat terlalu rumit. Kita tidak sedang membangun birokrasi baru.
James C. Scott dalam Seeing Like a State mengingatkan bahwa sistem administrasi dari atas sering menyederhanakan kenyataan yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Karena itu, data di tingkat lokal harus cukup sederhana untuk dipahami dan cukup praktis untuk digunakan.
Setidaknya ada empat informasi yang perlu dimiliki: profil dan keterampilan kader, kondisi usaha dan omzet, klasifikasi kebutuhan, serta rencana tindak lanjut.
Data tersebut tidak boleh berhenti menjadi tabel. Setelah seorang kader masuk kategori pemula, misalnya, harus jelas apa tindakan berikutnya. Apakah ia membutuhkan pelatihan pembukuan? Modal kerja? Pendampingan pemasaran? Akses kepada koperasi? Begitu pula kader yang siap berkembang harus segera dihubungkan dengan pasar, legalitas, pembiayaan, atau mitra usaha.
Dengan demikian, data bukan sekadar alat untuk membuat laporan. Data adalah dasar untuk mengambil keputusan.
Pemberdayaan yang baik membutuhkan niat yang baik, tetapi niat saja tidak cukup. Kita membutuhkan pengetahuan yang akurat tentang siapa yang kita dampingi, apa yang mereka miliki, apa yang mereka hadapi, dan intervensi apa yang paling tepat. (im)
Daftar Pustaka
- Chambers, Robert. Rural Development: Putting the Last First. London: Longman, 1983.
- Kretzmann, John P., dan John L. McKnight. Building Communities from the Inside Out: A Path Toward Finding and Mobilizing a Community’s Assets. Chicago: ACTA Publications, 1993.
- Scott, James C. Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed. New Haven & London: Yale University Press, 1998.









