Ketika Pelatihan Menjadi Tujuan, Bukan Alat Perubahan

by -1266 Views

Dalam banyak program pemberdayaan ekonomi, pelatihan hampir selalu menjadi menu utama. Jadwal dibuat, peserta dikumpulkan, materi disusun, narasumber dihadirkan. Kegiatan berlangsung lancar, foto dokumentasi lengkap, lalu program dinyatakan selesai.

Sekilas semuanya tampak ideal.

Namun setelah cukup lama mendampingi masyarakat, saya melihat satu kenyataan yang cukup keras: pelatihan sering diperlakukan seolah-olah sudah menjadi solusi utama.

Padahal tidak sesederhana itu.

Pelatihan pada dasarnya hanyalah transfer pengetahuan. Ia bisa menambah wawasan, membuka perspektif, atau mengenalkan keterampilan baru. Tetapi pelatihan tidak otomatis menghadirkan pelanggan, menaikkan omzet, meningkatkan profit, atau membuat usaha lebih stabil.

Di lapangan, saya sering menemui pelaku usaha kecil yang sudah mengikuti banyak pelatihan, tetapi tetap kesulitan menjual produknya.

Ada ibu rumah tangga yang sudah bisa membuat produk olahan dengan baik, namun bingung memasarkannya. Ada peserta yang memahami konsep branding, tetapi usahanya belum memiliki pelanggan tetap. Ada pula pemuda yang antusias mengikuti pelatihan digital marketing, tetapi belum memiliki produk maupun model bisnis yang jelas.

Artinya, masalah mereka bukan lagi pengetahuan.

Pelatihan Mudah, Pendampingan Sulit

Selama menjadi Ketua LPM dan Ketua Gema Madani Kelurahan Kersanagara, saya melihat mengapa banyak organisasi sangat nyaman dengan model pelatihan.

Pelatihan mudah dibuat. Mudah dilaporkan. Jadwalnya jelas, output-nya terlihat, dokumentasinya menarik, dan sering kali tampak “keren” di publikasi.

Sementara pendampingan jauh lebih melelahkan.

Pendampingan berarti harus kembali menemui peserta setelah program selesai. Harus mengecek perkembangan usaha, membantu menyelesaikan masalah produksi, memikirkan akses pasar, bahkan terkadang mendampingi peserta menghadapi kegagalan awal.

Inilah bagian yang justru paling menentukan, tetapi paling sering diabaikan.

Menurut Paulo Freire, pemberdayaan bukan proses satu arah memberi pengetahuan, melainkan proses transformasi yang membuat masyarakat mampu bertindak atas realitasnya sendiri.

Artinya, pengetahuan tanpa proses lanjutan hanya berhenti sebagai informasi.

Fokus pada Perjalanan Peserta

Yang seharusnya menjadi perhatian utama bukan seberapa baik acara berlangsung, melainkan apa yang terjadi pada peserta setelah kegiatan selesai.

Apakah ada perubahan perilaku usaha?
Apakah omzet meningkat?
Apakah ada akses pasar baru?
Apakah usaha bertahan lebih stabil?

Sayangnya, setelah pelatihan selesai, nasib peserta sering tidak lagi menjadi bahasan.

Padahal justru di situlah inti pemberdayaan.

Dari pengalaman mendampingi warga, saya belajar bahwa program ekonomi harus dibangun seperti ekosistem: pelatihan, pendampingan, komunitas, akses modal, dan akses pasar harus saling terhubung.

Modal kecil tanpa jaringan akan cepat habis. Pengetahuan tanpa praktik akan cepat dilupakan.

Sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, perspektif ini saya bawa dalam melihat program-program pemberdayaan. Kita perlu bergeser dari budaya event menuju budaya dampak.

Pelatihan tetap penting, tetapi ia hanyalah pintu masuk.

Yang menentukan keberhasilan sesungguhnya adalah perjalanan setelahnya: apakah keluarga menjadi lebih mandiri, usaha bertumbuh, dan masyarakat semakin kuat secara ekonomi.Karena tujuan pemberdayaan bukan menghasilkan peserta yang hadir, tetapi warga yang benar-benar naik kelas. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.