Banyak program community development berhenti pada laporan kegiatan: berapa kali pelatihan dilaksanakan, berapa besar anggaran yang terserap, atau berapa banyak bantuan yang disalurkan. Padahal, ukuran keberhasilan pemberdayaan (empowerment) tidak cukup dilihat dari angka-angka administratif.
Hal yang jauh lebih penting adalah perubahan perilaku masyarakat. Apakah warga menjadi lebih peduli? Apakah semakin banyak yang terlibat? Apakah masyarakat semakin mandiri?
Sebagai aktivis sosial, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah lingkungan dapat dilihat dari kehidupan sehari-harinya. Kita tidak perlu menggunakan indikator yang rumit. Cukup melihat apakah jamaah Subuh bertambah, gotong royong kembali hidup, RT dan RW semakin aktif, donatur lokal semakin banyak, ekonomi keluarga membaik, dan semakin banyak warga yang mampu membantu orang lain. Indikator-indikator sederhana ini justru menunjukkan bahwa perubahan telah mengakar.
Agus Purbathin Hadi dalam Desa Membangun dari Bawah mengingatkan bahwa keberhasilan pemberdayaan tidak boleh hanya diukur dari capaian ekonomi dalam waktu singkat. Beliau menulis:
“Hasil dari kegiatan pemberdayaan tidak boleh diukur dengan indikator-indikator ekonomi dan secara waktu dapat tercapai dalam waktu singkat, namun hendaknya diukur dengan perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih partisipatif dan mandiri secara berkelanjutan.”
Kalimat ini sangat penting. Pemberdayaan sejati menghasilkan masyarakat yang tidak lagi pasif menunggu bantuan, tetapi aktif mencari solusi bersama.
Dalam masyarakat yang religius, indikator berikutnya adalah hidupnya masjid. Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi pusat interaksi sosial. Agus Purbathin Hadi menjelaskan:
“Tempat pertemuan seperti masjid akan memberikan suasana kebebasan pada anggota masyarakat sehingga masyarakat bisa berinteraksi secara bebas. Kondisi yang demikian mampu memupuk solidaritas sesama warga… kelompok-kelompok yang berbasis keagamaan adalah sarana yang paling efektif untuk pemberdayaan masyarakat.”
Bertambahnya jamaah shalat, hidupnya pengajian, aktifnya DKM, dan semakin banyak kegiatan sosial yang berpusat di masjid merupakan indikator bahwa modal sosial (social capital) masyarakat sedang tumbuh.
Muhammad Hasan dan Muhammad Azis juga menegaskan bahwa pembangunan masyarakat harus melahirkan masyarakat yang berakhlak, bukan sekadar masyarakat yang lebih sejahtera secara ekonomi.
Indikator lain yang sangat mudah dikenali adalah hidupnya budaya gotong royong. Ketika warga dengan sukarela membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, membantu tetangga yang sakit, atau menggalang bantuan bagi keluarga yang tertimpa musibah tanpa menunggu instruksi pemerintah, berarti rasa memiliki terhadap lingkungan telah tumbuh. Muhammad Hasan dan Muhammad Azis menjelaskan:
“Pada masyarakat yang memiliki tingkat modal sosial yang tinggi… akan juga terefleksikan dengan tingkat kepedulian sosial yang tinggi, saling membantu dan saling memperhatikan. Pada masyarakat yang demikian, kemiskinan akan lebih memungkinkan dan kemungkinan lebih mudah diatasi.”
Saya juga melihat bahwa lingkungan yang maju selalu memiliki kelembagaan lokal yang hidup. RT dan RW bukan sekadar struktur administratif, tetapi menjadi penggerak kegiatan masyarakat. Forum warga berjalan, musyawarah hidup, komunikasi lancar, dan warga tidak segan menyampaikan kritik maupun usulan.
Agus Purbathin Hadi menemukan bahwa keberhasilan pemberdayaan ditandai oleh:
“…terjadi peningkatan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah desa, meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan desa, meningkatnya kuantitas dan kualitas masukan (kritik dan saran).”
Kepercayaan inilah yang kemudian melahirkan semakin banyak donatur lokal. Warga mulai merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya. Muhammad Hasan dan Muhammad Azis menyebut karakter seperti ini sebagai homo ethicus, yaitu:
“…seorang altruistik dan individu yang kooperatif, jujur dan cenderung berbicara tentang kebenaran, ia dapat dipercaya dan mempercayai orang lain. Ia memperoleh kepuasan moral dan emosional dari menghormati kewajibannya kepada orang lain.”
Pada akhirnya, ekonomi memang harus menjadi lebih baik. Namun indikatornya bukan sekadar naiknya pendapatan, melainkan berubahnya posisi masyarakat dari penerima menjadi pemberi. Ketika semakin banyak keluarga yang mampu menjadi donatur, membantu tetangga, membiayai pendidikan anak yatim, atau mendukung program sosial di lingkungannya, berarti pemberdayaan telah berhasil.
Sebagaimana dijelaskan Eka Prasetya Riauningrum, surplus ekonomi seharusnya diarahkan untuk “meningkatkan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui pemupukan modal yang bersumber dari surplus yang dihasilkan dan pada gilirannya dapat menciptakan pendapatan yang dinikmati oleh masyarakat.”
Bagi saya, ukuran keberhasilan pemberdayaan sangat sederhana: masyarakat semakin mandiri, hubungan antarwarga semakin erat, masjid semakin hidup, kelembagaan lokal semakin kuat, dan semakin banyak orang yang mampu mengangkat kehidupan orang lain. Ketika sebuah lingkungan telah bergerak tanpa selalu bergantung pada bantuan dari luar, saat itulah community development benar-benar berhasil. (im)








