Membangun Tim Pilot yang Gesit

by -1358 Views

Dalam banyak program sosial, kita sering menganggap bahwa semakin besar tim, semakin besar pula peluang keberhasilannya. Pengalaman saya justru menunjukkan sebaliknya. Sebuah tim kecil yang saling percaya, cepat belajar, dan berani mengambil keputusan sering kali menghasilkan dampak yang lebih besar dibandingkan organisasi besar yang lambat bergerak. 

Itulah sebabnya pilot project membutuhkan tim yang gesit, bukan sekadar tim yang besar.

Karakter pertama yang harus dimiliki adalah growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui proses belajar. Carol S. Dweck dalam bukunya Mindset menjelaskan:

“Growth mindset didasarkan pada keyakinan bahwa kualitas dasar Anda adalah hal-hal yang dapat Anda kembangkan melalui upaya Anda, strategi Anda, dan bantuan dari orang lain.”

Dalam pilot project, pola pikir ini sangat penting karena tidak semua percobaan akan berhasil. Tim harus memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari pekerjaan, melainkan bagian dari proses menemukan solusi yang lebih baik. Dweck menambahkan bahwa bagi orang yang memiliki growth mindset,

“Kegagalan adalah masalah yang harus dihadapi, ditangani, dan dipelajari.”

Karena itu, ketika memilih anggota tim, saya lebih mengutamakan orang yang mau belajar daripada orang yang merasa sudah mengetahui semuanya. Sikap rendah hati untuk menerima masukan jauh lebih berharga daripada pengalaman yang panjang tetapi sulit berubah.

Kepemimpinan yang Melayani dan Budaya Belajar

Tim yang baik membutuhkan kepemimpinan yang tepat. Dalam pilot project, pemimpin bukanlah orang yang mengatur setiap langkah anggota tim, tetapi orang yang membantu tim dapat bekerja secara optimal.

Charles G. Cobb dalam The Project Manager’s Guide to Mastering Agile menjelaskan bahwa pemimpin di lingkungan yang penuh ketidakpastian

“perlu melepaskan sebagian kendali yang selama ini dikaitkan dengan profesi manajer proyek—dalam beberapa kasus, mereka mungkin perlu menjadi lebih seperti pelatih dan konsultan.”

Pendekatan ini sangat sesuai untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat berubah setiap hari. Kondisi lapangan juga tidak selalu sama dengan yang tertulis di atas kertas. Karena itu, pemimpin perlu memberi ruang bagi anggota tim untuk mengambil keputusan secara cepat sesuai fakta yang mereka temukan.

Cobb juga menjelaskan bahwa pemimpin berperan sebagai

“pemimpin pelayan; dia memainkan peran fasilitasi untuk membantu tim merencanakan dan mengatur kegiatan daripada bersikap terlalu direktif.”

Selain kepemimpinan, budaya belajar harus menjadi identitas tim. Ann Mei Chang dalam Lean Impact mengingatkan bahwa:

“Faktor yang paling krusial untuk kesuksesan bukanlah merancang eksperimen yang sempurna, melainkan kecepatan di mana Anda dapat mengeksekusi setiap putaran dari siklus umpan balik Anda.”

Artinya, keberhasilan pilot project bukan diukur dari seberapa sedikit kesalahan yang dibuat, tetapi dari seberapa cepat tim belajar memperbaiki kesalahan tersebut.

Peter Senge, sebagaimana dikutip Charles G. Cobb, menyebut organisasi pembelajar sebagai organisasi yang mampu melakukan

“pemecahan masalah sistematis, eksperimen dengan pendekatan baru, belajar dari pengalaman mereka sendiri dan sejarah masa lalu, belajar dari pengalaman dan praktik terbaik orang lain, dan mentransfer pengetahuan dengan cepat dan efisien ke seluruh organisasi.”

Budaya seperti inilah yang membuat sebuah pilot project terus berkembang dari satu siklus ke siklus berikutnya.

Kepercayaan, Nilai, dan Keberanian untuk Berubah

Tim pilot yang gesit juga dibangun di atas fondasi kepercayaan. Ketika anggota tim saling percaya, mereka tidak sibuk menyalahkan satu sama lain. Energi mereka digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Stephen M.R. Covey dalam The SPEED of Trust menyatakan:

“Dalam dunia yang semakin ‘datar’, kepercayaan adalah ‘saus rahasia’ yang secara signifikan meningkatkan pembelajaran, hubungan, dan hasil.”

Ia juga menegaskan hubungan yang sangat sederhana namun penting:

“Ketika kepercayaan naik, kecepatan juga akan naik dan biaya akan turun.”

Saya melihat prinsip ini berlaku dalam banyak kegiatan pemberdayaan. Tim yang saling percaya tidak membutuhkan terlalu banyak rapat, prosedur, ataupun birokrasi. Mereka dapat bergerak lebih cepat karena komunikasi berlangsung terbuka.

Agar kepercayaan itu tumbuh, tim harus memiliki nilai yang sama. Cobb menjelaskan bahwa tim berkinerja tinggi dibangun di atas lima nilai utama, yaitu komitmen, fokus, keterbukaan, rasa hormat, dan keberanian. Mengenai keterbukaan, ia menjelaskan bahwa

“menunjukkan keterbukaan kepada orang lain adalah tanda kematangan emosional dan sangat penting untuk mengembangkan tim berkinerja tinggi yang bekerja secara kolaboratif satu sama lain.”

Keberanian juga menjadi nilai yang tidak kalah penting, yaitu keberanian untuk menerima kemungkinan gagal dan menggunakan kegagalan tersebut sebagai sumber pembelajaran.

Pada akhirnya, pilot project bukan sekadar menguji sebuah program, tetapi juga menguji kualitas manusia yang menjalankannya. Ketika tim memiliki growth mindset, dipimpin dengan pendekatan yang melayani, saling percaya, dan menjadikan pembelajaran sebagai budaya kerja, maka setiap tantangan akan berubah menjadi pengetahuan baru. Dari tim seperti inilah lahir inovasi yang dapat diperluas menjadi program pemberdayaan masyarakat yang benar-benar memberi manfaat bagi banyak orang. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.