Pivot, Persevere, atau Stop: Mengambil Keputusan Berdasarkan Pembelajaran, Bukan Perasaan

by -1428 Views

Setelah sebuah pilot project berjalan, organisasi sampai pada tahap yang paling menentukan. Bukan lagi tentang bagaimana memulai, tetapi bagaimana mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran yang telah diperoleh.

Dalam pengalaman saya mendampingi berbagai program sosial di tingkat RT, RW, LPM hingga pemerintahan daerah, banyak program gagal bukan karena ide awalnya buruk. Masalahnya sering kali karena organisasi tidak memiliki keberanian mengevaluasi. Ada yang terus menjalankan program yang tidak efektif karena sudah terlanjur mengeluarkan banyak tenaga. Ada juga yang berhenti terlalu cepat ketika menghadapi tantangan pertama.

Pilot project mengajarkan kita satu hal. Keputusan harus lahir dari bukti lapangan, bukan sekadar keyakinan pribadi.

Ada tiga kemungkinan keputusan setelah pilot project selesai. Pertama, persevere atau melanjutkan. Kedua, pivot atau mengubah arah strategi. Ketiga, stop atau menghentikan program.

Alex Osterwalder dan David J. Bland dalam buku Testing Business Ideas menjelaskan bahwa persevere adalah: “Keputusan untuk terus menguji sebuah ide berdasarkan bukti dan wawasan. Anda bertahan dengan menguji hipotesis yang sama melalui eksperimen yang lebih kuat, atau dengan pindah ke hipotesis penting berikutnya.”

Artinya, melanjutkan bukan berarti merasa sudah sempurna. Melanjutkan berarti bukti yang ada menunjukkan bahwa program memiliki peluang untuk berkembang.

Ann Mei Chang dalam buku Lean Impact menambahkan bahwa jika validasi berhasil, organisasi dapat melangkah maju dengan kepercayaan diri untuk “meningkatkan kesetiaan (fidelity) atau skala.”

Dalam program pemberdayaan masyarakat, keputusan melanjutkan biasanya terlihat dari beberapa indikator. Misalnya, masyarakat mulai terlibat secara mandiri, manfaat program mulai dirasakan, biaya pelaksanaan masih masuk akal, dan model program dapat diterapkan di tempat lain.

Namun, melanjutkan juga harus disertai sikap rendah hati. Program yang berhasil di satu tempat belum tentu langsung berhasil di tempat lain. Setiap wilayah memiliki karakter sosial yang berbeda.

Pivot: Mengubah Cara, Bukan Mengubah Tujuan

Tidak semua pilot project memberikan hasil sesuai harapan awal. Tetapi kegagalan sebagian asumsi tidak selalu berarti program harus dihentikan.

Di sinilah konsep pivot menjadi penting.

Pivot adalah kemampuan untuk mengubah strategi tanpa kehilangan tujuan utama. Masalah yang ingin diselesaikan tetap sama, tetapi pendekatan yang digunakan diperbaiki.

Eric Ries dalam bukunya The Lean Startup menjelaskan: “Sebuah pivot, atau perubahan arah, terdiri dari memperbaiki lintasan untuk menguji hipotesis fundamental baru terkait produk, strategi, dan mesin pertumbuhan.”

Ann Mei Chang menjelaskan lebih sederhana. Ia mengatakan: “Dalam The Lean Startup, Eric mendefinisikan pivot sebagai ‘perubahan strategi tanpa perubahan visi’… Tetaplah fokus pada tujuan yang Anda definisikan, tetapi mungkin sudah waktunya untuk mempertimbangkan jalan baru.”

Dalam kegiatan sosial, prinsip ini sangat relevan. Misalnya, sebuah program peningkatan ekonomi masyarakat tidak berjalan karena pelatihan yang diberikan tidak sesuai kebutuhan. Masalahnya bukan pada tujuan meningkatkan ekonomi, tetapi metode pendekatannya perlu diubah.

David J. Bland menjelaskan tiga jenis pivot utama:

“Tiga jenis pivot utama yang kami saksikan didasarkan pada pelanggan, masalah, dan solusi. Anda bisa tetap pada pelanggan tetapi beralih pada masalahnya. Anda bisa tetap pada masalahnya dan beralih pada pelanggannya. Atau Anda tetap pada pelanggan dan masalah, namun beralih pada solusinya.”

Artinya, organisasi harus berani bertanya ulang.

Apakah kita menyasar kelompok yang tepat?

Apakah kita benar-benar memahami masalah mereka?

Apakah solusi yang kita tawarkan memang dibutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tanda kegagalan. Justru menunjukkan kedewasaan organisasi.

Stop: Keberanian Menghentikan yang Tidak Memberikan Dampak

Ada satu keputusan yang paling berat dalam organisasi, yaitu menghentikan program.

Banyak lembaga sulit melakukan ini karena faktor emosional. Ada kebanggaan terhadap ide awal. Ada hubungan personal dengan program. Ada rasa takut dianggap gagal.

Namun, mempertahankan program yang tidak memberikan dampak juga merupakan bentuk ketidakefisienan amanah.

David J. Bland menjelaskan bahwa keputusan kill adalah: “Keputusan untuk mematikan sebuah ide berdasarkan bukti dan wawasan. Bukti tersebut mungkin menunjukkan bahwa ide tersebut tidak akan berhasil dalam kenyataan atau potensi profitnya [atau dampaknya] tidak mencukupi.”

Ann Mei Chang mengingatkan bahwa sektor sosial sering menghadapi masalah ini. Ia menulis: “Menyadari bahwa sebuah program atau organisasi tidak lagi memberikan nilai yang berbeda dan memutuskan untuk membubarkannya adalah kejadian yang sangat langka… Mengetahui kapan harus melepaskan atau melakukan pivot, terutama dalam menghadapi keterikatan pribadi yang kuat, adalah salah satu keputusan tersulit bagi para pemimpin.”

Sebagai aktivis sosial, kita harus memahami bahwa menghentikan sebuah program bukan berarti mengkhianati perjuangan. Kadang-kadang justru menjadi bentuk tanggung jawab.

Sumber daya masyarakat, dana publik, waktu relawan, semuanya adalah amanah. Jangan sampai habis untuk program yang tidak lagi relevan.

Membuat Ruang Refleksi: Forum Pivot atau Persevere

Keputusan besar tidak boleh dibuat secara terburu-buru. Tim pilot membutuhkan ruang khusus untuk melakukan refleksi.

Ann Mei Chang menyarankan adanya pertemuan rutin untuk mengevaluasi arah program. Ia menyatakan: “Menjadwalkan pertemuan rutin jauh-jauh hari tentang apakah akan melakukan pivot atau persevere dapat memastikan refleksi penting ini terjadi, sekaligus meredakan tekanan harian dari pengawasan yang terus-menerus.”

Dalam forum evaluasi ini, semua pihak harus membawa data, bukan sekadar pendapat.

David J. Bland memberikan prinsip menarik: “pendapat kuat, dipegang dengan lemah” (strong opinions, weakly held).

Ia menjelaskan: “Biarkan intuisi memandu Anda pada sebuah kesimpulan, betapapun tidak sempurnanya—ini adalah bagian ‘pendapat kuat’. Kemudian—dan ini adalah bagian ‘dipegang dengan lemah’—buktikan sendiri bahwa Anda salah.”

Bagi saya, ini adalah budaya penting dalam pemberdayaan masyarakat.

Kita boleh memiliki keyakinan terhadap sebuah gagasan. Tetapi kita juga harus memiliki kerendahan hati untuk menerima kenyataan lapangan.

Program besar yang baik bukan lahir dari orang-orang yang selalu benar sejak awal. Program besar lahir dari organisasi yang cepat belajar, cepat memperbaiki diri, dan berani mengambil keputusan berdasarkan fakta.

Pilot project pada akhirnya bukan sekadar alat uji coba. Ia adalah sekolah kepemimpinan sosial. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mencapai target, tetapi tentang kemampuan membaca realitas dan memilih jalan terbaik untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.