Semua Berhasil, karena Tidak Ada Ukuran yang Jelas

by -1367 Views

Salah satu persoalan paling mendasar dalam banyak program pemberdayaan adalah tidak adanya definisi yang jelas tentang apa itu “berdaya”. 

Program berjalan, peserta hadir, kegiatan selesai, tetapi sejak awal tidak pernah disepakati sebenarnya perubahan seperti apa yang ingin dicapai.

Apakah seseorang disebut berdaya ketika sudah memiliki usaha? Atau ketika pendapatannya meningkat? Apakah cukup hanya memiliki produk? Atau justru ketika ia sudah memiliki pelanggan tetap dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya secara mandiri?

Tanpa jawaban yang jelas, hampir semua program bisa dengan mudah diklaim berhasil.

Selama menjadi pendamping dalam program pemberdayaan masyarakat, saya sering menemukan kondisi ini. Ada warga yang diberi bantuan modal kecil, lalu dicatat sebagai “peserta berhasil” hanya karena mulai berjualan. Padahal beberapa bulan kemudian usahanya berhenti.

Ada pula peserta pelatihan yang dianggap sukses karena mampu membuat produk baru. Namun ketika ditanya apakah produknya laku, jawabannya belum tentu.

Diatas kertas, program selesai dengan baik. Di lapangan, perubahan belum benar-benar terjadi.

Berdaya Bukan Sekadar Memulai

Dalam perspektif pemberdayaan, memulai usaha bukanlah titik akhir. Menurut Amartya Sen, pembangunan dan pemberdayaan pada dasarnya adalah perluasan kapasitas manusia untuk memilih dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Artinya, keberdayaan bukan hanya aktivitas ekonomi sesaat, tetapi meningkatnya kemampuan seseorang untuk bertahan, berkembang, dan mengambil keputusan ekonomi secara mandiri.

Dari pengalaman lapangan, saya melihat setidaknya ada beberapa indikator sederhana yang lebih relevan untuk mengukur keberhasilan program ekonomi masyarakat:

  • pendapatan rumah tangga meningkat secara stabil;
  • usaha bertahan minimal 6–12 bulan;
  • memiliki pelanggan berulang;
  • arus kas usaha lebih sehat;
  • ketergantungan terhadap bantuan mulai berkurang.

Ukuran seperti ini mungkin lebih sulit dicapai, tetapi jauh lebih jujur.

Karena kalau definisi keberhasilan terlalu longgar, kita hanya menciptakan ilusi dampak.

Program Harus Berorientasi Outcome

Di sinilah pentingnya desain program yang jelas sejak awal. Sebelum kegiatan dimulai, harus ditentukan lebih dulu: perubahan apa yang ingin dihasilkan?

Jika targetnya meningkatkan ekonomi keluarga, maka ukuran keberhasilannya harus terkait ekonomi keluarga, bukan jumlah peserta.

Jika targetnya penguatan UMKM, maka indikatornya harus menyentuh omzet, pelanggan, profitabilitas, atau kapasitas produksi.

Pelatihan tetap penting, tetapi ia hanyalah instrumen. Yang lebih penting adalah jalur perubahan setelah pelatihan: pendampingan, akses pasar, koneksi komunitas, dan evaluasi berkala.

Sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya, saya melihat pendekatan ini perlu diperkuat dalam kebijakan publik. Program pemberdayaan tidak cukup berhenti pada penyaluran bantuan atau penyelenggaraan kegiatan.

Kita perlu mendorong program yang lebih terukur, berkelanjutan, dan benar-benar mendekatkan keluarga pada kemandirian ekonomi.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari laporan kegiatan. Mereka hidup dari penghasilan yang stabil, usaha yang bertahan, dan masa depan keluarga yang lebih baik.Tanpa definisi keberhasilan yang jelas, pemberdayaan hanya menjadi aktivitas yang terlihat baik, tetapi sulit dibuktikan manfaatnya. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.