Dari Ketua RT ke DPRD: Awal Perjalanan Takdir yang Tak Direncanakan

by -1382 Views
Elan Jaelani, SH. Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, dari fraksi PKS.

Hingga saat ini saya belum pernah bertemu dengan orang yang pernah bercita-cita menjadi Ketua RT (rukun tetangga). Saya pun tidak. 

Bahkan, dari sebagian besar ketua RT yang saya ajak berbincang, mereka rata-rata menjalani peran itu tanpa persetujuan penuh dari keluarga. Saya pun begitu.

Secara rasional, siapa yang mau jadi Ketua RT? Ia mengurusi warga, menyita waktu, tenaga, bahkan sering kali harus mengeluarkan dana pribadi. Dengan insentif sekitar Rp120 ribu per bulan, menjadi Ketua RT jelas bukan pilihan karier yang “menjanjikan”.

Lalu, kenapa saya tetap menjalaninya?

Jabatan Kecil, Tanggung Jawab Besar

Menjadi Ketua RT mungkin terlihat sederhana. Tapi di balik itu, ada banyak hal yang tidak terlihat. Dari mengurus administrasi warga, membantu penyelesaian persoalan sosial, hingga menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.

Di titik ini, saya mulai memahami bahwa peran kecil bisa memiliki dampak besar. Kita belajar mendengar. Kita belajar memahami. Dan yang paling penting, kita belajar bertanggung jawab.

Namun, jujur saja, pada awalnya saya tidak memikirkan hal-hal besar seperti itu.

Antara Beban dan Pembelajaran

Kalau dihitung secara materi, jelas tidak sebanding. Waktu tersita. Energi terkuras. Bahkan kadang harus siap menerima keluhan tanpa jeda.

Tapi justru dari situ, ada banyak hal yang saya pelajari. Saya mulai mengenal karakter masyarakat. Saya belajar mencari solusi dari persoalan yang nyata, bukan sekadar teori. Saya juga belajar bahwa kepercayaan itu tidak datang dengan sendirinya—ia dibangun perlahan.

Di sisi lain, pengalaman ini tanpa saya sadari membentuk cara saya berpikir. Lebih praktis. Lebih solutif. Lebih peka terhadap kebutuhan sekitar.

Namun sekali lagi, semua itu saya sadari belakangan.

Sebuah Awal yang Tak Terduga

Jika ditanya sekarang, apakah menjadi Ketua RT adalah titik awal perjalanan saya hingga hari ini, mungkin jawabannya: iya.

Tapi saat pertama kali menjalaninya, saya tidak pernah membayangkan sejauh itu. Tidak ada rencana besar. Tidak ada target menjadi apa.

Hanya menjalani peran yang ada, dengan segala keterbatasan.

Lalu, pertanyaannya kembali ke awal: kalau bukan karena cita-cita, bukan karena keuntungan, dan bukan pula karena rencana besar—mengapa saya akhirnya bersedia menjadi Ketua RT?Itulah yang akan saya ceritakan pada bagian berikutnya. Insya Allah. (im)

banner 700x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.