Sebelum dikenal sebagai pemilik merek Widiant, Elan Jaelani, SH pernah berada pada fase yang menguji daya tahan, kedisiplinan, dan profesionalismenya secara ekstrem.
Pada masa itu, ia belum memiliki usaha sendiri. Ia masih bekerja membantu berbagai pelaku konveksi sebagai tenaga pemotong kain (cutting). Namun justru dari pekerjaan itulah ia memperoleh salah satu pelajaran terpenting dalam dunia usaha: kepercayaan harus dibangun sebelum bisnis bisa bertumbuh.
Kemampuan memotong kain yang terus meningkat membuat namanya mulai dikenal di kalangan pelaku konveksi. Awalnya ia hanya membantu satu tempat produksi. Namun seiring waktu, rekomendasi dari mulut ke mulut mulai berdatangan.
Pelanggan bertambah. Pekerjaan meningkat. Tanggung jawab pun semakin besar.
Dari Satu Menjadi Sembilan Konveksi
Apa yang semula hanya pekerjaan rutin perlahan berubah menjadi amanah yang jauh lebih besar. Satu per satu pemilik konveksi mulai mempercayakan pekerjaan pemotongan kain kepada Elan.
“Pertama satu konveksi, kemudian dua, tiga, sampai pegang sembilan konveksi,” kenangnya.
Jumlah tersebut bukan angka yang kecil. Dalam industri konveksi, proses pemotongan kain menjadi tahap yang sangat menentukan. Kesalahan sedikit saja dapat berdampak pada keterlambatan produksi, pemborosan bahan, bahkan kerugian bagi pelanggan.
Karena itu, kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak datang secara instan. Kepercayaan tersebut lahir dari konsistensi hasil kerja, ketepatan waktu, dan kemauan untuk bertanggung jawab ketika menghadapi masalah.
Namun di balik pencapaian itu, ada harga yang harus dibayar.
“Saya tidur itu hanya berapa jam. Siang malam kerja terus,” ujarnya.
Hari-harinya diisi dengan pekerjaan yang nyaris tanpa jeda. Ketika sebagian orang menikmati waktu istirahat, Elan masih menyelesaikan pesanan agar seluruh pelanggan dapat terlayani dengan baik.
Ketika Kepercayaan Menjadi Modal Utama
Banyak orang mengira modal utama bisnis adalah uang. Padahal dalam praktiknya, ada aset lain yang sering kali lebih bernilai, yaitu kepercayaan.
Pengalaman Elan menunjukkan bahwa pelanggan tidak datang karena belas kasihan. Mereka datang karena yakin pekerjaan akan selesai dengan baik.
Dalam buku The Speed of Trust, Stephen M. R. Covey menjelaskan bahwa kepercayaan mampu mempercepat proses kerja, memperkuat hubungan bisnis, dan menurunkan biaya transaksi. Ketika kepercayaan sudah terbentuk, peluang baru akan datang dengan sendirinya.
Hal serupa juga dapat ditemukan dalam gagasan Jim Collins melalui buku Good to Great. Collins menunjukkan bahwa organisasi yang bertahan lama biasanya dibangun di atas disiplin, konsistensi, dan kualitas pelaksanaan yang unggul (operational excellence).
Tanpa disadari, prinsip-prinsip tersebut telah dipraktikkan Elan jauh sebelum ia mendirikan Widiant.
Pelajaran bagi Pelaku UMKM
Fase menangani sembilan konveksi sekaligus menjadi sekolah bisnis yang sangat berharga bagi Elan. Di sana ia belajar mengelola waktu, menjaga kualitas kerja, dan memenuhi ekspektasi banyak pelanggan dalam waktu bersamaan.
Pakar manajemen Indonesia, Rhenald Kasali dalam Self Driving menyebutkan bahwa kapasitas seseorang untuk bertumbuh sering kali ditentukan oleh kemampuannya mengelola tanggung jawab yang semakin besar. Semakin tinggi tingkat kepercayaan yang diterima, semakin besar pula tuntutan profesionalisme yang harus dijaga.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi pelaku UMKM. Modal usaha memang penting, tetapi kepercayaan pelanggan jauh lebih bernilai. Modal dapat dicari, mesin dapat dibeli, bahkan teknologi dapat dipelajari.
Kepercayaan hanya bisa diperoleh melalui kerja keras, konsistensi, dan integritas yang dibangun dari waktu ke waktu. Dan ketika kepercayaan itu sudah tumbuh, ia akan menjadi aset yang terus membuka pintu-pintu peluang baru. (im)








